Wednesday, March 3, 2021

Kenapa Menulis di Blog? Simak 9 Alasan Ngeblog Ala Desi's Corner

March 03, 2021 4

Alasan ngeblog desi

Nggak tahu sudah yang keberapa kalinya menulis tentang alasan ngeblog. Tapi setiap dibaca ulang. Poin-poin yang sudah pernah ditulis, ada saja yang berubah. Itu pertanda tujuan menulis di blog mengikuti perubahan pola berpikir yang ada.

Soalnya menurut sumber bacaan yang kudapat itu bilang, kalau kerangka berpikir kita itu berubah setiap hari. Terlebih aku mengikuti beberapa grup komunitas menulis. Mau tidak mau setiap informasi juga pengalaman yang kudapat, berpengaruh pada kerangka berpikirku. Akhirnya kerangka berpikir itu mengubah pola pikirku pada alasan ngeblog yang akan kutulis sekarang ini.

Baca Juga: Jemari Menari di Atas Keypad  

9 Alasan Ngeblog ala Desi's Corner:

1. Merekam Cerita

Poin pertama ini kudapat ketika musibah jatuhnya pesawat Sriwijaya Air awal tahun 2021. Peristiwa yang membuatku akhirnya mengikuti berjuta netizen untuk melihat kehidupan beberapa penumpang sebelum menjadi korban jatuhnya pesawat tersebut.

Melalui media sosial aku dapat melihat masa dimana hidup sang pilot, seorang ibu dan tiga anaknya yang memasang live story di IGnya, seorang youtuber dengan caption terakhirnya, sepasang pengantin baru yang hendak merayakan hari bahagianya, dan masih ada beberapa cerita penumpang lainnya yang sengaja kucari media sosialnya.

Dari kisah hidup para korban tersebut itulah, aku pun ingin membuat cerita tentang siapa diriku. Terutama ketika aku tidak ada dunia lagi. Aku ingin orang yang kukenal di dunia maya ataupun tidak, dapat membaca kisah kehidupanku.

Itulah alasan mengapa aku memilih blog sebagai sarana untuk merekam cerita hidupku. Agar aku dapat menulis sepanjang yang aku bisa. Kan, kalau blog panjang katanya unlimited.

2. Jangkauan Pembaca Lebih Luas

Selain kalimat yang bisa ditulis bisa sepanjang yang kumau. Pembacanya juga unlimited alias bisa menjangkau pembaca di mana saja. Tapi ya gitu, akunya kudu rajin update tulisan, menulis sesuai SEO, share ke medsos, atau lebih gampangnya sering-sering membranding diri gitu. Biar dikenal kalau akutu seorang blogger.

Baca Juga: Content Plan Agar Isi Blog Menjadi King

Why blogging

3. Berbagi Cerita

Setiap orang mempunyai cerita menarik dalam hidupnya. Pasang surut, naik-turun, jatuh-bangun, berliku, menghadang badai, tertawa, sedih, gembira, semua ada, kayak permen nano-nano.

Mungkin ceritaku sepele dalam pandanganku. Tapi belum tentu bagi sahabat Desi's Corner yang lain. Geer dikit bolehlah, ya (serasa ceritaku menarik aja nih ๐Ÿ˜‹).

Soalnya kalau aku membaca cerita blog teman-teman. Aku suka manggut-manggut. Oh, mirip nih, seperti masalah yang pernah kuhadapi. Ternyata aku ada temannya.

Jadi suka aja kalau berbagi cerita. Ya, kali aja pembaca yang membaca tulisanku, mendapat pencerahan gitu. Pede beud dah, ya, aku.

4. Berkaca

Ngeblognya sih, sudah lama. Tapi bolak-balik ganti blog. Secara bikin blog kalau dibutuhkan buat ikut kelas menulis saja. Begitu kelas bubar, menulis di blog ikutan wasallam. Semoga blog kali ini bertahan dan konsisten diisi seminggu sekali. Aamiiin.

Meski blog ini baru berusia setahun lebih sedikit. Meski tulisan yang dihasilkan belum banyak. Juga jumlah katanya masih di bawah standar alias banyak yang nggak sampai 500 kata.

Tapi cerita yang ditulis berdasarkan pengalaman sehari-hari ini, sudah mampu membuat aku berkaca. Terkadang kalau lagi butuh semangat. Aku suka membaca cerita yang kutulis sendiri.

Hasilnya lumayan kena dihati. Semacam buka kamus atau contekan kalau lagi ulangan. Kan, cerita hidup mah, berputar disitu-situ saja. Ya, seenggaknya jadi ada gambaran aku harus bertindak bagaimana gitu. Paling banter kalau berbuat keliru jangan sampai jatuh dilubang yang sama.

5. Menghilangkan Kekepoan Diri

Sebagai calon blogger profesional (Aamiiin). Jiwa kekepoan dalam diri itu kudu ada. Karena dari rasa kepo tersebut, aku jadi punya bahan untuk ditulis.

Nih, aku dapat info dari Babang George Loewenstein yang menemukan teori Information Gap pada tahun 1994. Babang George dari Universitas Carnegie-Mellon ini menyimpulkan teorinya kalau rasa ingin tahu itu muncul dari adanya information gap.

Apa itu information gap?

Information gap itu adalah pada waktu kita terima informasi, tapi informasi yang didapat nggak lengkap atau tidak benar.

Misal nih, akutu penasaran sama kata orang-orang zaman nenek-kakeknya ibu dan bapak. Katanya kalau nggak bangun pagi, rezekinya bakal dipatok ayam.

Lah, coba itu. Kudu dicari tahu pembahasannya secara keagamaan ini. Atau mungkin ada bukti ilmiahnya?

Tuh kan, dapat bahan tulisan. Biar nggak ada information gap di antara kita, gitu.

Baca Juga: Green Jobs Peluang Kerja Anak Muda

6. Biar Nggak Pikun

Sahabat Desi's corner tahu, nggak, kalau ada sebuah studi yang dimuat di jurnal Neurology, American Academy Neurology bahwa aktivitas menulis itu melibatkan peran otak. Nah, aktivitas ini bikin kita terhindar dari gangguan memori alias pikun.

Inilah alasan ngeblog yang juga penting buatku. Biar nggak pikun. Secara kan, lama aku tinggal di bumi sudah mau mencapai setengah abad. Dan itu dua tahun lagi bo'. Jadi, kudu dilatih kekonsistenan dalam menulis ini. Maklum dah, menulisnya masih mengikuti mood.

7. Membuat Pertemanan

Asal muasal aku bergabung dengan ODOP dikarenakan aku bergabung dengan grup kepenulisan yang digawangi oleh Teh Indari. Dari grup TNB (Tips Nulis dan Bisnis) aku tahu tentang ODOP. Sampai akhirnya setelah sekian tahun berkecimpung di dunia tulis-menulis ini. Aku berkesempatan belajar di Blogspedia yang digagas sekaligus dimentori oleh Mbak Marita.

Alhamdulillah, sekarang aku semakin banyak tahu tentang komunitas menulis. Sekarang pun aku tergabung di lebih tiga komunitas menulis.

Semakin banyak teman, semakin terbuka rezeki yang bakal aku dapat.

8. Bikin Hati Bahagia

Sahabat Desi's corner yang perempuan tahu dong. Kalau kaum kita itu biasa mengeluarkan kata kurang lebih 20.000 per hari. Itu kalau ada lawan bicaranya.

Lah, aku mah, ibu rumah tangga yang sering diam di rumah sendirian selagi suami bekerja. Terus pelampiasan 20.000 kata itu, masa ngomong sendiri?

Nah, daripada stress nggak ada lawan bicara. Mending ditulis aja segala uneg-uneg di hati di blog. Kalau sudah dikeluarkan segala yang mengganjal di hati, rasanya dada tuh, jadi plong. Terbebas dari yang bikin hati resah, gamang, galau, dan teman-temannya.

Tenang, aku menulisnya nggak curcol banget, kok. Curhatnya masih pantas dibaca untuk khalayak umum. Wah, semakin kebuka deh, kenapa aku suka menulis di blog sekarang.

9. Mengisi Waktu Luang untuk Hari Tua

Sahabat Desi's corner sudah ada yang menyiapkan aktivitas untuk hari tua nanti? Jangan tabungan saja yang disiapkan. Aktivitas juga harus sudah mulai dipersiapkan dari sekarang.

Entah itu berkebun, crafting, menjahit, menyulam, merajut, dan masih banyak lagi. Nah, kalau aku selain kegiatan menulis yang sedang kupupuk sekarang. Aku juga belajar crafting. Maksudnya sih, kalau lagi kena writing blog, ada refreshing. Kali aja pas lagi crafting terus ada ide menulis lewat.

Begitu deh, alasan ngeblog ala Desi's corner untuk saat ini. Nggak tahu deh, besok, lusa, atau entah kapan alasan aku menulis di blog bakal berubah atau bertambah. Siapa tahu nanti alasan ngeblog bakal bertambah jadi sepuluh poin, yaitu mendapatkan penghasilan lewat blog. Aamiiin. 

Sekarang mah, yang ada, konsisten isi blog sama tulisan saja dulu. Biar hasilnya nanti yang membuktikan usaha dari kekonsistenanku itu.

Jadi, kalau alasan ngeblog sahabat Desi's corner apa, dong? 








Saturday, February 20, 2021

Peluang Kerjanya Anak Muda Abad 21? Ya, Green Jobs

February 20, 2021 0


peluang kerja anak muda

Wahai anak muda yang milenial. Tahu dong, kalau sekarang lagi ngetrend kata Green Jobs. Apalagi kata yang lagi ngetrend tersebut dapat menjadi peluang kerjanya anak muda macam kalian.

Ah, apalah daya daku, cuma mamak-mamak yang dua tahunan lagi ketemu angka setengah abad (insha Allah). Cuma bisa menumpuk barang-barang di kamar belakang sehingga penampakannya seperti tempat penampungan "rongsokan".

Tolonglah mamak ini anak muda. Mamak butuh ide kreatif kalian agar barang-barang yang menumpuk di rumah bisa bermanfaat lebih untuk rumah tangga mamak. Sukur-sukur bisa jadi fulus yang berkesinambungan ๐Ÿ˜‹

Mamak butuh sentuhan kalian yang selalu berpikir out of the box. Masa mamak cuma bisa mengalih fungsikan kaleng bekas biskuit menjadi pot buat tanaman cabai, botol bekas jadi vas bunga, atau tutup galon buat tempat sampah (planning), karung beras dibuat menjadi tas belanja. Lalu karton bekas cuma bisa diberikan pada petugas kebersihan komplek biar bisa dijual ke pengepul.

Mamak yakin, semua barang-barang hasil rumah tangga macam mamak punya, pastinya setiap rumah tangga juga punya. Kalau banyak pelaku rumah tangga yang sadar bisa memanfaatkan barang-barang yang sudah disebutkan di atas. Mungkin sampah nggak bakal menumpuk setinggi gunung.

Green jobs karya rumahan
Sumber gambar: Karya pribadi, dari kiri ke kanan (pot kaleng, kain perca, dus bekas, plastik bekas kemasan bubuk minuman, cup mie instan, karung beras, kemeja tidak terpakai) 

Apalagi mamak menemukan dari Jurnal Teknologi Kimia UNIMAL, Vol 6, No.1 (2017), yang secara garis besar katanya, perlu dilakukan penelitian atas limbah kaleng minuman aluminium yang kemungkinan dapat dijadikan sumber energi terbarukan untuk masa depan.

Dari yang mamak baca pula, penelitian dengan katalis kalium hidroksida (KOH) terhadap kaleng minuman berbahan aluminium tersebut akan didapat energi yang namanya gas hidrogen.

Mari kita doakan semoga penelitian para ilmuwan Indonesia membuahkan hasil secepat mungkin. Biar negara kita, nggak selalu bergantung dengan bahan bakar dari fosil saja.

Eh, mamak juga menemukan artikel dari Media Indonesia, 14 Oktober 2017, tentang empat orang anak muda yang kuliah di UGM, lho.  Nah, empat orang mahasiswa itu membuat lampu dengan tenaga surya dari kaleng.

Memang sih, lampu dari kalengnya cuma bisa digunakan pada siang hari. Tapi mereka pada saat itu sedang mengusahakan bagaimana Solacan, lampu kaleng tersebut diberi nama dapat dipasangi solar cell, sehingga bisa digunakan pada malam hari.

Sayangnya investor kurang minat dengan karya anak bangsa ini. Jadi, setelah tahun 2017 itu, mamak nggak menemukan artikel tentang perkembangan pengolahan limbah kaleng tersebut.

Hal yang sama dengan penelitian kaleng yang akan menjadi Solacan. Mamak juga nggak menemukan kembali artikel lanjutan sampai dimana perkembangan penelitian gas hidrogen yang terbuat dari limbah kaleng bekas minuman tersebut.

Peluang Usaha Nggak Ada Matinya, ya, Green Jobs

Koaksi.id
Sumber gambar: Koaksi Indonesia

Wahai anak muda penerus bangsa yang pintar dan unyu-unyu. Ayo kita bekerja sama lintas generasi. Gerakkan kami bila kalian anak-anak muda mempunyai ide cemerlang.

Mungkin saat ini kami para perempuan paruh baya baru bisa membuat tas anyaman dari kantong plastik, bungkus sachet kopi dan lainnya menjadi dompet, atau mendekor ulang kaleng dengan cat.

Kami para ibu rumah tangga hanya bisa mengedukasi keluarga bagaimana menghemat energi, baik itu listrik dan air. Judulnya, kami para ibu rumah tangga baru bertindak sampai sebatas go green.

Tapi bila pengolahan limbah ditangan kalian, anak-anak muda. Bisa jadi melebihi penelitian-penelitian yang sudah disebutkan di atas tadi.

Terlebih di masa pandemi seperti ini. Seharusnya limbah yang sering dibilang kotor dan tidak bermanfaat. Bisa dijadikan peluang bisnis bagi kalian para pemuda. Harapannya sih, pekerjaan ramah lingkungan ini kalau bisa dapat menyerap tenaga pekerja yang terdampak PHK akibat pandemi gitu. 

Peluang usaha ramah lingkungan ini menurut Laporan World Economic Forum bahwa transisi hijau di tiga sistem sosio-ekonomi yaitu pangan, pemanfaatan lahan dan laut, infrastruktur dan lingkungan buatan, serta energi dan industri ekstraktif dapat menghasilkan peluang bisnis senilai US$ 10,1 triliun dan 395 juta lapangan pekerjaan pada tahun 2030.

Tuh, kan, peluang bisnisnya gede untuk yang bahan baku yang dipandang menjijikan dan nggak berkelas ini.

Ini mamak dapat petunjuk dari Koaksi Indonesia tentang peluang bisnis buat kalian anak-anak muda yang kreatif dan penuh energi. Barangkali saja langsung dapat ide setelah melihat beberapa usaha yang berkonsep hijau dan ramah lingkungan ini.

Contoh Green Jobs:

1. Ecopreneur
2. Eco Design Architect
3. Eco Fashionpreneur
4. Electric Car Technician
5. Energy Startup
6. Organic Foodpreneur
7. Solar Panel Technician
8. Urban Farmer
9. Waste Management Startup

Gimana? Mamak yakin, kalian para anak muda pasti ada yang langsung klik ketemu ide pas membaca contoh pekerjaan ramah lingkungan ini, kan?

Sudah deh, langsung cuzz eksekusi saja kalau sudah ada yang klik. Mamak tinggal duduk manis siap berpartisipasi, sambil terus menanam cabai di pot kaleng bekas biskuit.

Mamak yakin istilah green jobs dari ILO (International Labour Organization) bukan hanya sekadar menjadi bacaan semata. Dan mamak yakin, kalian para pemuda dapat memberikan manfaat untuk sesama pemuda atau remaja, petani, penduduk desa dan penduduk perkampungan miskin melalui pekerjaan ramah lingkungan ini.

Baiklah anak muda, aku merasa puas sebagai mamak telah mengeluarkan semua uneg-uneg tentang green jobs ini.

Yuk, kita bantu pemerintah dalam menciptakan perekonomian yang ramah lingkungan ini serta rendah karbon. Hanya dengan peran serta kalian para pemuda maka bangsa akan mencapai ekonomi yang lebih baik lagi bagi rakyatnya.


Tuesday, February 16, 2021

Mengekspresikan Diri Lewat Tulisan dengan Teknik Doodle Art

February 16, 2021 0

Eflyer conference hexagon city

Kemarin aku mengikuti rangkaian acara Hexagon City Virtual Conference tentang mengekspresikan diri menulis dengan teknik doodle art.

Acara yang diwadahi oleh Institute Ibu Profesional, khususnya perkuliahan Bunda Produktif ini diisi oleh teman satu tim Co Housing 1 Literasi Bahasa, yaitu Mbak Wildaini Sholihah.

Judul yang menarik hati "Binar Oretan Belajar" membuatku ingin mengetahui maksud dari kata "Oretan" tersebut.

Pagi itu, gerimis belum juga jeda dari kemarin. Bikin aku mager mencuci. Setelah menyiapkan sarapan. Aku duduk santai dengan setengah rebahan di kursi ruang tamu yang juga sekaligus ruang untuk menonton tv. Sambil melihat-lihat kabar terbaru dari grup wa, FB, dan IG lewat gawai.

Masih ada waktu satu jam sebelum acara Live On Youtube dari Hexagon City. Jemariku dengan lincah berpindah dari satu grup ke grup lain untuk membaca chat semalam. Entah bila gawaiku tidak disetting silent. Mungkin sampai lewat tengah malam notifikasi gawaiku tidak berhenti berbunyi.

Kupilih grup komunitas yang perlu dibaca pagi. Takut ada pengumuman penting. Salah satunya ya, dari grup HIMA. Grup dimana aku berada dalam wadah Perkuliahan Bunda Produktif.

Benar saja, pengumuman disampaikan oleh salah satu pengurus HIMA. Disebutkan bahwa jurnal Zona O pekan ke-2 harus dikumpulkan Selasa, 16 Februari dengan batas akhir pengumpulan pukul 15.59.

Membaca kurang lebih tiga grup komunitas sebelum akhirnya acara yang dibawakan oleh Mbak Wilda pun dimulai.

Baca Juga: Blogger Squad ODOP Jadi Agen Penulis

Menulis dengan Teknik Doodle Art

Doodle art itu apa, sih? Hasil dari browsing sana-sini, ternyata definisi doodle itu nggak ada yang pasti. Kalau aku simpulkan kurang lebih jadi begini, "doodle art itu seni menggambar yang spontanitas dan langsung dituangkan di atas kertas. Hasilnya pun abstrak dan acak. Tidak ada makna tertentu dari hasil gambarnya tersebut."

Menurut yang aku baca dari wikipedia. Biasa tuh, kita mencoret-coret apa yang ada dipikiran kita kalau kita sedang melamun lalu berimajinasi.

Seperti murid yang tidak memperhatikan guru sedang mengajar. Lalu murid tersebut membuat coretan tidak berarti di balik buku atau sudut lembaran kertas buku pelajarannya.

Bisa juga kalau sahabat Desi's corner perhatikan. Seseorang yang sedang berbicara di telepon dalam waktu cukup lama. Kita bisa melihat dia sedang mencoret-coret di atas kertas dengan hasil gambar abstrak.

Kalau arti doodle art seperti di atas. Berarti aku selama ini sudah melakukannya dong ๐Ÿ˜‚. Dulu waktu masih kerja, pas lagi telepon, suka banget tulis nama sendiri yang diukir-ukir gitu. Emang nggak jelas, sih, itu gambar apaan. Ya, kayak anak kecil corat-coret di tembok gitu, deh.

Nah, seperti Mbak Wilda nama panggilan Wildaini Sholihah dalam live on youtubenya bilang kalau doodle art itu nggak ada pakem salah atau betul. Doodle art itu imajinasi. Jadi kita bebas menuangkan segala macam bentuk yang ada di dalam kepala kita ke atas kertas.

Malah kalau bisa langsung saja gunakan pulpen jangan pensil. Dengan menggunakan pulpen, mindset kita akan terpaku bahwa apa yang sudah dibuat tidak dapat dihapus atau dicoret.

Hasil coretan dengan pulpen justru membuat kita berpikir kreatif untuk memaksimalkan gambar yang ada.

Seperti gambar di bawah ini. Doodle art pertama yang kubuat ini menggunakan pulpen di atas kertas bekas. Sebelum menggambar, aku menentukan tema terlebih dahulu. Yaitu, taman baca/buku/perpustakaan.

Teknik doodle art

Inilah kelebihan doodle art. Tidak perlu pandai menggambar, tidak perlu kursus melukis dulu. Langsung aja cuzz corat-coret mengikuti gerakan tangan.

Mbak Wilda bilang, "nggak perlu takut untuk memulai sesuatu yang baru. Pola berpikirnya harus yakin dulu. Doodle art itu kan, seni. Nggak ada pakem salah atau betul dalam sebuah seni."

Lihat bagian tulisannya, deh! Harusnya kan, kata kedua di tulisan itu nggak tumpang tindih. Tapi karena perhitungannya nggak tepat pas menulis, akhirnya kekurangan space. Terus aku akalin kan, jadi deh tulisannya bertumpuk gitu.

Seandainya alat tulis yang digunakan saat itu adalah pensil. Pasti hasil akhir tulisannya nggak seperti itu. Udah aja hapus tulis, hapus tulis nggak kelar-kelar sampai dapat hasil yang memuaskan.

Baca Juga: Tetap Produktif Meski Diam di Rumah

Impact Doodle Art

Corat-coret bebas lepas tanpa aturan ala doodle art ini ternyata dapat memberi impact pada diri. Seperti yang dijelaskan oleh Mbak Wilda yang berprofesi sebagai guru ini.

Impact doodle art

Impact dari mempraktikan doodle art sebagai berikut:

1. Menjadikan diri sebagai pembelajar

Sebagai pembelajar, doodle art menjadikan hasil belajar kita lebih bervariasi. Menghilangkan kejenuhan dengan berkreatifitas dan berselancar di alam imajinasi kita.

Visual reminder

Tempel hasil doodle di dinding, lemari, atau tempat yang mudah terlihat sebagai reminder kita akan target yang telah dibuat. Kalau aku mah, membuat dream board lalu ditempel di dinding kamar.

Meaningful learning

Tidak ada ilmu yang sia-sia. Semua ilmu meski kita asing pada awalnya. Tetap suatu saat nanti pasti akan berguna. Terlebih lagi dengan ilmu tersebut kita bisa berbagi.

2. Sebagai seorang ibu, 

Doodle art dapat dijadikan sarana belajar bareng anak. Mengasah imajinasi anak dengan menuangkannya di atas kertas. Mungkin saja kita sebagai orang tua dapat mengetahui minat dan bakat anak dari membaca hasil gambar doodle art tersebut.

Sedangkan sebagai seorang istri impact doodle art dapat dijadikan family project. Diskusikan dengan suami dan anak akan menggambar apa. Nantinya gambar dikerjakan di atas kertas berukuran besar, dikerjakan bersama, dan dapat dijadikan hiasan dinding.

3. Manfaat doodle untuk personal:

Self healing

Segala kegalauan, keresahan, kebingungan dapat dituangkan dengan menggambar atau menulis bergaya doodle. Sehingga beban yang dirasa dapat lepas dengan corat-coret tanpa makna tersebut.

Aku sudah coba. Saat ngedoodle, pikiran teralihkan ternyata. Setelah lihat hasilnya. Ya, lumayanlah, kayak anak TK menggambar abstrak.

Visual Notes

Cocok buat yang orang yang pelupa macam aku, nih. Makanya aku buat notes penting didalam buku. Seperti ide menulis, hasil webinar, review buku sebelum dituangkan ke dalam blog, dan masih banyak lagi.

Self to do

Nggak jauh berbeda dengan visual notes. Self to do juga merupakan catatan yang ditulis sebagai acuan jadwal kegiatan kita.

Baca Juga: Content Plan agar Isi Blog Menjadi King

Ternyata menggambar dan menulis atau corat-coret dengan teknik doodle art seru juga. Sahabat Desi's corner wajib coba juga, nih.







Friday, February 12, 2021

Merayakan Cinta dengan Sahabat Sejati Dalam Rumah Tangga

February 12, 2021 2

Anniversary quotes


Merayakan cinta dengan sahabat sejati? Hayo, Sahabat Desi's corner kepo, nggak? Apalagi ini sahabat sejatinya ada di dalam rumah tangga.

Kalau zaman sekolah dulu teman selalu berganti seiring berpindahnya sekolah. Maka yang namanya sahabat akan selalu berhubungan meski tidak satu sekolah.

Tapi seiring berjalannya waktu dan usia. Sahabat tidak akan sedekat masa sekolah dulu. Ia tidak akan bisa hadir di saat kita membutuhkan teman untuk curhat. Atau sekedar menemani menonton karena kita sedang galau.

Sahabat perlahan akan menjauh karena masing-masing dari kita sudah mempunyai prioritas yang berbeda. Yaitu keluarga.

Terus kalau sudah berkeluarga nggak punya sahabat lagi, dong? Nggak ada tempat curhat lagi, dong. Nggak ada yang nemenin kalau lagi galau, dong.

Tenang, jangan begitu, dong. Sahabat tetap ada, kok. Malah sahabat yang ini lebih bebas mau diapain aja. Kapanpun butuh, dijamin siap sedia mendengar keluh kesah, gundah gulana, atau kegalauan tingkat dewa yang sedang dialami oleh kita.

Mulai dari obrolan kelas berat alias serius seperti diskusi politik sampai arisan, curhat receh karena jemuran nggak kering, atau membahas pola tingkah kucing tidur. Judulnya bebas merdeka segala macam topik percakapan ada.

Sangking bebasnya, kita bisa mengobrol sambil tiduran, rebahan, lendotan, atau mau lebih? Boleh banget, malahan dapat pahala gede, tuh.

Sudah bisa menebak dong, sahabat sejati yang dimaksud? Ya, betul. Sahabat yang dimaksud adalah suami.

Baca Juga: 5 Tips Ibu Bahagia Selama Pandemi

Merayakan Persahabatan Sejati

Suami adalah sahabat terbaik. Tempat berbagi suka dan duka. Tempat segala keluh kesah bermuara.

Pernikahan memang menyatukan kami karena cinta. Tapi setelah kami lalui puluhan tahun. Cinta adalah sebuah kebiasaan.

Merayakan cinta
Dibuat status kayak gini sama suami aja, bikin hati senang
Kebiasaan ada dia disampingku. Kebiasaan ada dia di setiap harinya. Kebiasaan ada dia untuk bercerita. Kebiasaan ada dia untuk menuangkan emosi yang kurasa. Kebiasaan ada dia dengan segala kebiasaannya yang terkadang membuat aku kesal, marah, tapi lalu merindukannya ketika berjauhan meski sesaat hanya untuk pergi ke kantor. Padahal ke kantornya cuma seminggu dua kali. Terkadang seminggu sekali. Atau tidak ke kantor sama sekali dalam seminggu.

Baca Juga: Tetap Produktif Meski Diam Di Rumah  
Dikarenakan kebiasaan hidup baru yang mengharuskan dia lebih banyak di rumah. Membuat aku terbiasa melihat dia lebih lama dari sebelum pandemi.

Jujur, perekonomian rumah tangga kami pun terkena imbas karena adanya pandemi ini. Kami pun diharuskan super duper irit dalam mengeluarkan biaya operasional rumah tangga. Bersyukur kakak sudah menyelesaikan kuliahnya.

Baca Juga: Mengatur Finansial Rumah Tangga Ala-Ala  

Jadi meski suami tidak full bekerja, kami masih bisa makan dengan layak. Juga terpenting adalah mempunyai anggaran untuk membeli kuota ๐Ÿ˜

Urusan perut memang katanya nomor satu. Terlebih apa kata anak-anak muda zaman sekarang, sebagian besar mungkin akan berpendapat, cinta nggak bisa buat makan. Tapi anak-anak muda lupa. Kalau dari cinta akan tumbuh kekuatan.

Seperti miskinnya Ali bin Abi Thalib yang hanya mempunyai baju besi untuk perang sebagai mahar nikahnya dengan Fatimah, puteri bungsu Rasulullah. Kemudian setelah menikah pun mereka tetap miskin tapi mereka berdua begitu sabar dengan ujian kemiskinannya tersebut. Bahkan cinta mereka tetap kuat dan kokoh, tidak goyah dengan keadaan yang serba kekurangannya itu.

Maka, aku dan suami pun berkeyakinan bahwa dengan kekuatan cinta, kesulitan yang sedang kami hadapi akan lebih mudah dihadapi. Bukankah kita sebagai manusia diciptakan hanya untuk berusaha? Hasil mah, serahkan pada Allah. Masa iya, Allah nggak kasih rezeki. Ular binatang melata saja sudah diatur rezekinya.

Allah berfirman, “Dan, tidak ada suatu binatang melatapun di muka bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya,” (QS. Hud: 6).

Persahabatan seyogyanya membawa kedamaian. Berselisih paham memang selalu ada. Tapi kembali lagi pada komitmen membina keluarga. Apa sih, yang sebenarnya dicari kalau bukan untuk mencapai ridho Allah? Terlebih usia, baik usia secara harfiah maupun usia pernikahan sudah dibilang tidak muda lagi.

Istilahnya mah, kami sekarang sedang menghabisi sisa usia dan menunggu waktu untuk berkumpul dengan anak kedua kami yang sedang bermain dan diasuh oleh Nabi Ibrahim.

Seperti judul lagu Slank, Makan Gak Makan Asal Kumpul. Selama kami bersama, semua kesusahan insha Allah dapat dilalui.

Maka persahabatan yang kami bina selama hampir tiga puluh tahun ini, akan selalu kami syukuri. Di setiap harinya kami mengucapkan syukur atas keberkahan yang Allah selalu berikan. Ucapan syukur itulah perayaan persahabatan sejati kami.

Baca Juga: Suami Istri Mah, Gitu  

Merayakan Cinta Tanpa Ucapan

Alhamdulillah, Allah masih memberi usia panjang jodoh padaku dan suami. Pacaran selama delapan tahun lalu membina rumah tangga selama dua puluh dua tahun. Bukanlah angka yang mudah kami capai.

Kami berdua berharap dan berdoa, agar Allah selalu memberikan perlindungannya pada rumah tangga kami. Pencapaian angka bukanlah tujuan kami. Tapi merasakan kebersamaan tanpa menghitung waktu adalah hal yang akan kami selalu harapkan.

Tanggal istimewa seperti hari ini, 12 Februari, dimana kami saling mendengarkan kewajiban suami dan istri dari mulut penghulu, adalah puncak penggenapan angka dari hari-hari yang aku dan suami lalui.

Tidak pernah kami merayakan cinta yang bersatu ini dengan hal yang spesial. Bahkan saling mengucapkan Selamat Hari Jadi Perkawinan dengan serius pun tidak.


Makan malam

Cuma yang bikin hati senang adalah ketika tadi sore menjelang waktu masak, dia berkata, "belum masak, kan? Kita beli sate aja buat ngerayain hari jadi kita."

Asli itu adalah kata-kata terindah dan romantis yang kudengar. Selain nggak perlu ke dapur. Aku juga bisa menghemat satu masakan pada hari ini. Dan itu juga mempunyai arti, aku bisa menyimpan anggaran belanja satu hari buat ditabung (tetep ujung-ujungnya ngirit).

Semoga kita rumah tangga kita selalu langgeng ya, suamiku. Janji ya, kita saling sabar dalam menjalani bahtera rumah tangga ini. Ingat lho, berumah tangga itu bukan tentang atasan dan bawahan. Juga bukan soal emansipasi. Berumah tangga itu adalah sebuah seni, yaitu seni mengalah. Jadi mengalahnya gantiannya, ya heuheu, sesuai kondisi dan kasusnya gitu.

Tahun depan kalau kita merayakan cinta lagi. Makan di luar ya, suamiku. Tapi bukan di teras depan rumah, lho. 















Friday, February 5, 2021

Usaha Batik Tak Lekang Oleh Waktu

February 05, 2021 16

D'Omah batik dan pelanggannya
Koleksi D'Omah Batik untuk santai dan semi formal

Mengapa batik tak lekang oleh waktu ? Dari zaman Majapahit sampai sekarang, batik selalu dekat dengan kehidupan kita. Khususnya emak-emak, macam aku.

Sangking melekatnya batik dalam kehidupan. Maka tak salah jika pada tahun 2008, pemerintahan SBY kala itu, mengajukan batik ke UNESCO sebagai warisan budaya bangsa.

Alhamdulillah, pengajuan tersebut diterima oleh UNESCO pada tanggal 2 Oktober 2009. Dan sekarang, nggak terasa Oktober 2020 tahun lalu adalah tahun ke-11 penetapan batik negara kita sebagai warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity). Pada tanggal 2 Oktober ini pulalah pemerintah menjadikannya Hari Batik Nasional.

Dulu waktu zaman aku masih bekerja. Tiap hari Kamis, kantor menganjurkan para pegawainya mengenakan baju batik. Hmm, sebetulnya pemerintah, sih, yang menganjurkan. Malah untuk ASN, mengenakan pakaian batik adalah hal yang wajib. Tapi perkantoran swasta juga diharapkan untuk berpartisipasi berbatik ria seminggu sekali.

Pemandangan yang indah setiap ngantor pada Hari Kamis atau Jumat itu bisa melihat banyak orang mengenakan aneka model dan motif batik.

Tapi yang paling kusuka ya, melihat perempuan segala usia yang pakai baju batik dibanding laki-laki. Soalnya kalau perempuan yang pakai batik, mereka jadi terlihat "lucu-lucu". Entah itu model, motif, atau warna pakaian batiknya. Enak aja memandangnya. Kayak sedang melihat fashion show gitu.

Terbayang seandainya batik yang dulu dianggap kuno dan tidak tersentuh tangan kreatif. Mungkin sekarang cuma dipakai buat kain gendongan, selimut, pasangannya kebaya, atau hanya ada di acara adat.

Bersyukur perkembangan mode pakaian, membuat anak-anak muda bangga mengenakan batik. Dengan begitu secara tidak langsung, kita mempertahankan status UNESCO batik negara kita.

Aku juga cinta mati sama batik. Sampai belel dan bolong pun kadang masih kupakai. Terlebih setelah menyandang status Ibu Profesional alias IRT. Batik menjadi baju kebangsaan sehari-hari. Nggak usah dijelasin model atau jenis baju batiknya, lah ya. Aku yakin Sahabat Desi's corner tahu pakaian batik yang dimaksud.

Usaha Batik Tak Lekang Oleh Waktu

Kecintaan pada batik bukan hanya dibuktikan dengan mengenakannya saja. Tapi mengenalkan batik dengan menjadikannya sebuah usaha juga termasuk melestarikan batik itu sendiri.

Percaya, deh, untuk menekuni sebuah usaha itu. Landasan kecintaan pada satu produk adalah hal utama. Dikarenakan kekuatan cinta akan membuat kita bertahan dalam menghadapi cobaan dan ujian ketika berusaha.

Seperti teman SMA ku, Divi, yang tumbuh dari keluarga seni. Mulai dari orang tua, eyang, tante yang menekuni dunia tari dan tata rias.

Bahkan dari kecintaan yang ditumbuhkan oleh keluarganya sejak dari kecil tersebut. Telah membawa Divi remaja meraih kejuaraan tari di DKI Jakarta.

Mungkin ini yang namanya passion menguntungkan. Selain keterampilan menari tradisional yang membawa ibu memiliki tubuh langsing ini keliling daerah di Indonesia. Juga mendapatkan uang jajan dari hasil menarinya itu.

Kecintaan Divi pada kesenian tradisional inilah yang membuat ia memutuskan untuk berusaha di bidang batik.

Koleksi d'omah batik

Batik yang pertama kali diperkenalkan ke dunia oleh Presiden ke-2 RI Soeharto saat menghadiri konferensi PBBterbukti dalam perkembangannya mengikuti kemajuan zaman, baik dari segi motif dan modelnya. Maka prediksi ibu yang masih aktif menari tarian jawa klasik ini tidaklah salah, bila usaha yang bersentuhan dengan batik, kemungkinan besar nggak akan ada matinya.

Baca Juga: Mengembangkan Jiwa Wirausaha di Masa Remaja

Usaha Tak Berbatas adalah Inovasi dan Dukungan Keluarga

Menjalankan usaha selain ketertarikan minat, kita juga harus mempunyai tujuan dan maksud dari usaha tersebut. Seperti yang telah disampaikan sebelumnya bahwa usaha yang dijalankan Divi didorong akan kecintaannya pada seni, juga ingin melestarikan kebudayaan bangsa. Dan tentunya dukungan keluarga menjadi hal yang sangat dibutuhkan.

Sahabat Desi's corner pasti tahu kan, menjalankan usaha itu bukan cuma membutuhkan modal materi, tapi juga mental.

Beruntung pemilik usaha yang menamai tokonya D'Omah Batik ini mendapat dukungan suami juga kakak laki-lakinya. Dimana kakak laki-lakinya ini memberi dukungan dengan bekerja sama dalam usaha batiknya ini.

Aku mah salut deh, dengan kekompakkan keluarga penyuka makanan sego megono ini. Kalau jualan itu kan, cobaannya banyak. Kayak dulu aku pernah jualan juga gitu. Ngalamin di PHP-in sama yang beli, pernah juga udah order, eh, nggak jadi alias dibatalin, terkadang mengikhlaskan dagangan nggak dibayar, dan masih ada beberapa kasus lagi yang nggak bisa diceritain disini.

Pemilik toko yang memanfaatkan garasi kediaman orang tuanya untuk usaha batiknya ini. Selain menjual baju batik seperti tunik, home dress (termasuk daster dan baju santai). Ia juga memproduksi dan menjual kerajinan berbahan dasar dari kanvas seperti tas, taplak, cover galon, sarung bantal, rajutan dalam bentuk tas, dompet, konektor masker, dan masih banyak lagi.

Anak bungsu dari tiga bersaudara dan perempuan satu-satunya dari ibu yang berasal dari Pekalongan ini juga memberikan kesan berbeda dari usahanya tersebut. Yaitu dengan memberikan kebebasan dan menerima pesanan sesuai keinginan pelanggan. 

Produk yang bisa dibuat sesuai keinginan pelanggan tersebut seperti taplak, cover galon, cover kursi sofa, atau permintaan lainnya selama D'Omah Batik yang artinya rumah batik ini bisa membuatnya.

Pelanggan dapat memilih model, bahan, serta motif yang diinginkan. Hal tersebut dilakukan karena memang tujuan menjalankan usahanya adalah untuk memenuhi kepuasan pelanggan.

Nah, ini yang tadi aku maksud kalau usaha atau jualan itu harus ada cinta. Cinta itu soal memberi kebahagiaan. Apa yang dilakukan dengan bahagia maka materi akan mengikuti (ini dalam artian sebuah usaha, yaa).

Menjalankan usaha memang susah-susah gampang. Selain harus mempunyai ciri khas tersendiri. Kreativitas dalam usaha pun sangat diperlukan.

Usaha yang berjalan sejak Januari 2020 ini juga mempunyai ciri khas selain menerima pesanan sesuai keinginan pelanggan. Yaitu, memanfaatkan kain perca atau sisa bahan dari hasil produksinya.

 
D'Omah usaha batik tak lekang oleh waktu

Dompet koin yang dihasilkan seperti diperlihatkan pada foto diatas adalah hasil dari penggabungan kain perca. Hasilnya lucu dan unik, kan? Nggak ada yang bakal nyamain atau dijual di toko lain. Ya nggak? Kita yang menggunakannya juga bakal merasa spesial gitu. Secara nggak pasaran, kan produknya?

Atau kain perca-kain perca tersebut dapat digunakan sebagai pemanis produk lainnya, seperti clutch atau pouch. Siapa sangka kalau pemanis tersebut bukanlah kain yang sengaja dipotong. Melainkan kain sisa yang dimanfaatkan.

Baca Juga: Buka Usaha Ditengah Pandemi? Begini Kiat-Kiatnya agar Kamu Berhasil

Penutup

Ibu yang masih belajar bekerja sama dengan suaminya untuk membagi waktu antara keluarga dan usahanya ini. Menerima reseller atau bekerja sama dengan menitipkan produk di tokonya ini.

Cocok nih, buat yang mau cari tambahan dapur atau uang jajan bocah di masa pandemi. Apalagi sekarang jualannya bisa sambil rebahan dan online lewat medsos atau wa. Sayang kan, kuota internet cuma buat ngegame atau nonton drakor (gue banget ini, mah ๐Ÿ˜). Kalau sambil ngolshop, duitnya bisa dipakai lagi buat beli kuota, ngegame, atau ngedrakor, deh. Menang banyak, nggak, tuh?

Baca Juga: Tetap Produktif Meski Diam di Rumah  

Target pasar produk batik yang diambil langsung dari pengrajin di Solo ini cukup luas, seperti ibu rumah tangga, remaja putri, wanita karir, juga pastinya pria dewasa.

Memang sih, selama musim virus covid-19 penjualan turun sampai 50%. Tapi menurutku, sebuah usaha yang masih tetap eksis di masa lesunya ekonomi sekarang. Adalah suatu pencapaian yang bagus banget.

Terus ceritanya aku kepo gitu sama temanku yang cinta banget sama seni ini. Aku yakin ada mantra atau kata sakti yang bikin dia tangguh di dunia usahanya yang dijalaninya sekarang. 

Ibu yang murah senyum ini berkata, "jangan kita jatuh hanya karena kita gagal. Justru dari kegagalan tersebut, kita mendapat banyak pelajaran. Terus belajar, bila jatuh langsung bangkit, ambil tindakan positif. Jangan tunggu peluang, tapi ciptakan peluang."

 

Memang ya, kata-kata yang diucapkan oleh praktisi usaha lebih kena dihati. Secara kata-kata yang diucapkannya itu memang berdasarkan pengalaman mereka selama menjalankan usaha.

Baca juga: Ini 5 Sebab kalau Nekat Mencoba Yo'Qta  

Sahabat Desi's corner kalau ada yang tertarik untuk menjadi reseller D'Omah Batik atau mau menambah koleksi home dress atau tunik. Sila intip-intip di IG: @d_omahbatik. Kalau mau lihat koleksinya langsung juga boleh. Atau mau tanya-tanya dulu? Boleh banget, silakan hubungi ownernya langsung di +62 812-1227-1090.


Yuk, lestarikan batik nusantara dengan mengenakannya sebagai busana sehari-hari! Kalau bukan kita, siapa lagi yang peduli dengan warisan budaya nusantara kita ini. Kepedulian kitalah yang akan membuat batik tak lekang oleh waktu.















Sunday, January 10, 2021

Film Balada Si Roy dari IDN Pictures Tayang Tahun Ini

January 10, 2021 0

Novel Balada Si Roy

Ada yang seangkatan dengan Si Roy? Aku ngaku, nih. Waktu Balada Si Roy pertama kali tayang di Majalah Hai tahun '88. Aku duduk di kelas dua SMP, lho (antara bangga dan tengsin ketahuan lama tinggalnya di dunia).

Nggak lama cerita Si Roy ditayangkan secara berkala di Majalah Hai. Pada awal tahun 90-an, terbitlah Balada Si Roy dalam bentuk novel.

Tokoh laki-laki tampan, cool, cuek tapi penuh kasih sayang yang diciptakan oleh Gol A Gong, seakan mencerminkan kisah para pemuda pada zamannya. Meski tidak dipungkiri, kisah petualangan yang dijalani Roy tetap masih berlaku hingga saat ini.

Duh ini, mah, kayak aku waktu masih SMA gitu. Paling seneng kalau cowok itu cool, cuek tapi sebenarnya care banget sama cewek. Semoga suami nggak baca tulisanku ini. Kalau baca, bisa geer dia. Soalnya doi dulu itu termasuk cowok yang cool, bandel (tapi banyakkan Roy bandelnya), dan lumayan cakep lah, ya.

Komunitas Balada Si Roy


Pemain utama terpilih IDN pictures

Saking kerennya karya yang ditulis oleh Gol A Gong ini. Sampai-sampai terbentuklah komunitas yang dikenal dengan sebutan SBSR (Sahabat Balada Si Roy).

Komunitas SBSR yang salah satu inisiatornya adalah Daniel Mahendra menyebutkan bahwa anggotanya sudah mencapai angka 1982. Jumlah amazing untuk cerita lawas yang ngetop pada tiga puluh tahun lalu ini.

Bahkan sekarang, para penggemar karya penulis yang berasal dari Banten ini semakin excited, kala IDN Pictures secara resmi pada November tahun 2019 lalu, memublikasikan judul proyek perdananya itu.

Tanpa struktur organisasi, membuat kedekatan para anggota komunitas ini semakin kuat karena tidak ada hierarki. Sehingga kemanapun anggota SBRS ini pergi dan bertemu dengan sesama anggota di berbagai kota. Mereka tetap bisa berbagi cerita.

Buat menghilangkan penasaran, meski IDN Pictures sudah secara resmi mengumumkan deretan nama pemain film Balada Si Roy melalui sebuah konferensi pers virtual Desember 2020 lalu. Aku tetap pingin intip lebih detail lagi lewat IG nya IDN Media tentang Si Roy ini.

Wuish, pemeran utama cowoknya Abidzar Al Ghifari 'bo. Film perdana buat anaknya Uje, nih. Posternya keren. Abidzar berpose dengan tas ransel ditemani seekor anjing herder. Rel kereta api sebagai latar foto, seakan menggambarkan sosoknya memang seorang backpacker traveller gitu.

Aku suka film petualangan kayak gini. Apalagi backpacker-an, jadi ada tantangannya gitu untuk sampai di tujuan. Minimnya dana untuk berpetualang menjadi sensasi tersendiri ketika harus mencari tebengan kendaraan. You know what I mean la, ya. ๐Ÿ˜‹

Film Perdana IDN Pictures


Konferensi pers pengumuman pemain

Meski film perdana, IDN pictures nggak tanggung-tanggung buat memilih para tokoh untuk bermain di film yang akan syuting di sekitar Banten, Serang, dan Rangkasbitung ini. 

Seru nih, kalau filmnya bertabur bintang seperti, Feby Rastanti sebagai Ani yaitu lawan main Abidzar. Ditambah Bio One, Zulfa Maharani, Sitha Marino, Maudi Koesnaedi, dan masih banyak lagi.

Ah, yakinlah aku mah, kalau anak milenial Gen Z pasti kenal dengan nama-nama di atas. Bukan kayak aku, yang tahunya cuma Maudy Koesnaedi aja (seangkatan soalnya).

Film kisah hidup perjalanan Si Roy ini bakal disutradarai oleh Fajar Nugros sekaligus Head of IDN Pictures. Tahu kan, Fajar Nugros? Itu lho, yang menyutradarai film Cinta Brontosaurus, Yowis Ben, Moammar Emka's Jakarta Undercover, dan beberapa film layar lebar lainnya.

Nugros begitu biasa disapa, juga merupakan seorang pembaca setia juga penggemar karya Gol A Gong semenjak dia masih duduk di bangku SMA.

kutipan Nugros

Tuh, kan, kebayang deh, senangnya Mas Nugros bisa menerjemahkan bacaan kesukaan zaman unyu-unyunya ke dalam film. Serasa mimpi menjadi nyata.

Dulu cuma penggemar yang belum kesampaian bertemu dengan Gol A Gong. Sekarang malah kerja bareng dengan penulis pujaannya untuk mewujudkan tokoh utama dalam visualisasi.

Film besutan IDN Pictures ini juga diproduseri oleh Susanti Dewi. Sosok wanita yang juga partner hidup dan partner kerja Nugros. What a kompaknya suami-istri ini. Mau dibilang pasangan yang tak terpisahkan. Tapi mereka kerja bareng menghasilkan karya.

Santi begitu dia disapa, menyukai film yang bercerita tentang hubungan. Baik itu hubungan dengan orangtua, dengan pasangan, atau cerita drama dan keluarga.

Dikarenakan itulah, Santi sebagai produser dari tokoh legendaris yang akan difilmkan ini, merasa tertantang untuk dapat merealisasikan ekspektasi penggemar, agar cerita dari buku tetap dapat ‘hidup’ di dalam film.

Kutipan Santi

Gimana, gimana, penasaran kayak apa filmnya? Tenang, bukan Sahabat Desi's corner aja yang kepingin nonton film ini. Aku juga nggak sabar pingin lihat visualisasi cowok cool kayak Si Roy ini.

Kata IDN Pictures, proses persiapannya sudah ada di tahap akhir. Dan bulan ini. Iya, Januari, syutingnya bakal dimulai. Artinya film Balada Si Roy ini bakal tayang di tahun ini juga.

Mari kita doakan, semoga proses syuting berjalan lancar dan selesai dengan mulus sampai siap tayang. Semua aktris, aktor, kru film, dan jajaran yang terlibat didalamnya diberikan kesehatan. Karena aku tahu, bukanlah hal mudah syuting di tengah pandemi gini.









Saturday, January 2, 2021

Friday, January 1, 2021

Review Buku untuk Pemula Bersama iPusnas

January 01, 2021 2

Flyer talk show

Hai hai, Sahabat Desi's corner. Kali ini aku mau membahas tentang live IG TV yang diadakan oleh iPusnas tanggal 30 Desember 2020 lalu. Talk show yang diadakan pada hari Rabu lalu itu, iPusnas mengangkat bahasan tentang Review Buku Untuk Pemula. 

Tapi aku nonton talk show tersebut sehari setelah acara. Telat baca info di IG nya. Itu juga nontonnya sambil menyetrika. Emak-emak nggak mau rugi. Kalau sambil gosok, kan, setrikaan dapat, ilmu dapat, dan nggak terlalu berasa capek juga nyetrikanya.

Acara talk show yang berlangsung hampir satu jam itu dipandu oleh Kevin. Mau sebut nama panjangnya takut salah. Ngomongnya kecepetan, jadi nggak jelas aku menangkap kata kedua di belakang nama Kevin.

Haris Shibgatullah muncul beberapa menit kemudian setelah acara dibuka. Dari obrolan pembawa acara dengan narasumber. Didapatlah informasi bahwa Harris sedang menyusun tesis S2 tentang Studi Amerika di Universitas Indonesia (UI).

Jadilah sebelum memasuki inti talk show tentang review buku. Kevin dan Haris membuka bincang-bincang tentang mengapa Haris mengambil kuliah S2 nya di bidang Studi Amerika.

Narasumber sekaligus booktuber ini memberi alasan bahwa dia tertarik dengan kebudayaan Amerika. Padahal Amerika, kan, nggak punya kebudayaan asli? Pertanyaan dilontarkan kembali oleh Kevin.

Jawaban Haris membuatku manggut-manggut. Ternyata karena penduduk imigran Amerika lah yang menjadikan budaya Amerika itu menarik. Keberagaman penduduk dari berbagai banyak negara, membentuk suatu budaya campuran. Hmm, jadi bisa disebut asli nggak, tuh, budaya Amerika? 

Baca Juga: Blogger Wajib Menulis Sesuai Kaidah SEO (ulasan even)

Review Buku Untuk Pemula

Quote bukub

Obrolan pembuka mengalir begitu saja dengan menarik. Pembawa acara, Kevin tahu-tahu sudah memasuki tema inti talk show. Kerenlah ini pembawa acaranya. Nggak berasa ada perpindahan topik. Bisa aja nyambungin obrolan Amerika ke buku. 

Awalnya Kevin bertanya tentang keberagaman dan perkembangan buku di Amerika. Pembawa acara dari pihak iPusnas ini meminta tanggapan Booktuber yang pernah menjuarai review buku yang diadakan oleh penerbit KPG, tentang buku yang diadaptasi ke film dan sebaliknya.

Jawaban pemilik akun @kanvaskata.books menjawab dengan bijak. Menurut Haris bahwa film dan buku adalah saling melengkapi. Saling melengkapi dalam hal imajinasi. Buku yang diadaptasi ke film, maka akan melengkapi imajinasi kita para pembaca.

Kita pun disini menjadi belajar, sejauh mana kreativitas sineas dalam menerjemahkan buku ke dalam film. Ini menurutku, ya. Jawaban Haris kupikir-pikir betul juga.

Dia tidak menyudutkan orang-orang yang lebih suka menonton film dibanding membaca buku atau kebalikannya. Nggak jauh-jauh seperti aku contohnya. Terkadang aku lebih suka membaca bukunya dibandingkan dengan menonton film yang telah diadaptasi dari buku tersebut.

Seperti film Harry Potter dan serial Narnia yang lebih kupilih untuk menonton filmnya dibanding membaca buku yang tebal haha.

Dari obrolan inilah, lalu Kevin bertanya tentang cara mereview buku yang baik. Terutama bagi pemula macam aku. Aku tuh, kalau menulis review buku, kok, nggak menggigit gitu. Kurang gereget dan nggak bikin penasaran orang pingin baca buku yang aku baca itu.

Begini cara membuat review buku yang aku tangkap:

1. Saat membaca buku, catat poin penting yang ingin kita tulis nanti.

2. Tulis langsung pada bagian cerita yang membuat kita terkesan. 

3. Catat pendapat kita pada bagian cerita yang membuat kita penasaran atau menjadi pertanyaan.

4. Jangan menunda lama untuk mereview buku.


Nanti dicoba cara-cara di atas, ah. Selama ini aku, kan, nggak pernah catat atau tulis poin-poin penting pas baca buku. Langsung aja tancap gas menulis. Makanya di pertengahan menulis, terkadang aku tuh, suka bingung dan kehilangan arah.

Book Shaming


Acara live IG tv
Ketahuan banget kalau ilmu perbukuan aku masih cetek banget. Istilah beginian aja baru tahu. Selain body shaming yang ditujukan pada seseorang. Buku juga ada istilah shamingnya, yaitu book shaming. 

Bingung juga, sih, perundungan seperti apa terhadap buku itu. Menjelek-jelekan buku yang kayak gimana. Menjelekan isi cerita atau menghina penampilan fisik buku.

Cowok yang bergabung dengan booktuber tahun 2017 ini menjelaskan tentang book shaming. 


Book shaming itu adalah:

1. Merendahkan preferensi bacaan seseorang

Misal, aku tuh, masih suka membaca komik Jepang atau jenis komik lainnya. Terkadang aku pun suka membaca buku anak dari Arleen, Clara Ng, Wulan MP, atau penulis lainnya. Lalu ada teman yang merendahkan bacaan aku dengan berkata, "Ih, kok, bacaannya udah berumur yang kayak gituan, sih?"

Nah, ini namanya book shaming. Kita nggak boleh memandang jenis bacaan buku seseorang. Bisa aja, kan, dia sedang membuat riset tulisan atau sedang ingin relaks dengan bacaan-bacaan beratnya. Who knows?

2. Merendahkan preferensi penulis seseorang

Misal, aku merasa penulis favoritku adalah yang terbaik. Sedangkan penulis bacaan Sahabat Desi's corner dimataku itu ora mutu. Perilaku ini juga termasuk book shaming, karena aku hanya melihat dari sosok penulis saja.

Padahal pembaca yang bijak dan baik adalah tidak hanya memandang buku dari sisi penulisnya saja. Tapi juga isi buku menjadi pandangan penting bagi seorang pembaca.

Apa kabarnya kalau misalnya aku pendatang baru dalam menulis. Lalu pas bukunya mejeng di toko buku, orang memandang rendah karena aku bukan penulis beken seperti Laila S Chudori atau Ahmad Tohari.

3. Merendahkan isi buku yang dibaca seseorang

Misal, ada seseorang yang berkata, "cerita dalam buku itu, kan, jelek. Nggak bagus. Kok, bisa-bisanya, sih, lo baca yang jalan ceritanya nggak jelas. Mending lo baca buku yang lagi gua baca, nih. Bermutu. Penulisnya sastrawan dari Amerika."

Duh, semoga Sahabat Desi's corner terhindar dari perlakuan dan perbuatan seperti itu, ya. Jadi ingat waktu ikut kelas kepenulisan fiksi. Mentorku Hani Dewanti atau yang dikenal dengan Mak Oney bilang, "semua jenis tulisan itu selalu ada hikmah dan ada pelajaran didalamnya."

Kalau menurut pendapat kita tulisan yang kita nggak baca nggak bagus. Berarti kita jangan menulis seperti itu dan kita harus lebih baik menulisnya dibanding penulis yang kita baca itu.

Jadi yang nggak book shaming itu kayak gimana? Nanti kalau mau mereview buku, terus pendapat kita ada menjelek-jelekan isi buku, dibilang book shaming.

Itu salah satu pertanyaan dari penonton IG live TV yang sampai hari ketiga ini, telah mencapai penonton hampir 800 orang.

Haris pun menjawab, selama kita mengeluarkan pendapat tentang isi buku yang kita baca sendiri tanpa menjelekkan preferensi bacaan orang lain Baik itu kekurangan atau ketidaksukaan terhadap bacaan tersebut. Tindakan itu bukanlah book shaming.

Mereview buku memang seperti itu. Kita mengeluarkan pendapat secara subjektif. Mengkritik, mengeluarkan pendapat, lalu memberi saran.

Talk show yang berlangsung hampir satu jam berjalan seru menurutku. Nggak terasa meski setrikaan nggak kelar. Tapi lumayan mengurangi rasa lelah.

Oh iya, silakan Sahabat Desi's Corner mengunjungi IG iPusnas untuk acara talk show berikutnya. Mereka rutin mengadakan talk show dengan tema-tema menarik seputar dunia literasi.

Semoga hasil talk show tentang review buku untuk pemula ini, bermanfaat bagi Sahabat Desi's corner yang baru mau memulai mereview buku kayak aku.


Thursday, December 31, 2020