Friday, June 11, 2021

Resep Sarikaya Nangka No kukus, No Oven, No Ribet

June 11, 2021 2


Sarikaya nangka no kukus

Bikin Sarikaya nangka no kukus, no oven, no ribet pula? Adakah Sahabat Desi's Corner yang pernah dengar atau pernah mencoba membuat olahan dari nangka ini? Kalau aku biasa membuat sarikaya itu bahannya dari roti tawar, telur, gula merah, santan atau susu, lalu dikukus.

Kalau dari hasil resep contekan sih, nama aslinya setup nangka. Tapi pas dibaca bahan-bahan setup dan cara membuatnya, hampir sama dengan sarikaya yang biasa kubuat. Cuma beda tipis. Proses akhir sarikaya dikukus sedangkan setup disiram santan.

Baca Juga: Oseng Tempe Kacang Panjang Pedas Manis

Sarikaya Nangka No Kukus, No Oven

Ceritanya tiga hari yang lalu tetangga depan rumah mengirim nangka buah yang sudah matang. Kalau dimakan buah secara utuh kan, sudah biasa. Sesekali boleh lah ya, makan buah nangka yang diolah dulu.

Dicarilah resep olahan serba nangka. Banyak juga hasil pencarianku tentang olahan nangka matang ini. Mulai dari bolu, tako, talam, prol, muffin, nangka ketan thailand, sampai nangka goreng.

Dari semua resep olahan nangka matang yang aku temukan ini, belum ada yang klik dengan mood dan ketersediaan bahan di dapur. Termasuk tingkat keribetan dan lama pengerjaan juga memengaruhi faktor semangat saat pembuatan sarikaya.

Seandainya kata kunci waktu mencari olahan "nangka serba matang" diganti dengan "sarikaya nangka". Aku bisa mendapat banyak referensi. Soalnya kata sarikaya dan resepnya yang aku dapat dari Mamah ini adalah makanan zaman dari aku kecil. Dan dari dulu ya, cuma berbahan dasar roti dan teman-temannya seperti yang aku sebut di atas tadi.

Ternyata bahan tambahan untuk sarikaya ini banyak. Tidak hanya roti dan gula merah saja. Sarikaya ini bisa ditambah dengan potongan buah pisang selain nangka. Hmm, tapi kayaknya buah durian juga kudu dicoba. Tekstur buah durian sepertinya cocok untuk dibuat sarikaya.

Baca Juga:  5 Tips Ibu Bahagia Selama Pandemi

Resep Sarikaya Nangka No Kukus, No Oven, No Ribet

Cara membuat sarikaya

Lama pengerjaan dari mulai persiapan, pengolahan, dan sampai selesai untuk membuat sarikaya nangka ini, dibutuhkan waktu kurang lebih satu jam. Nggak ribet kalau menurutku sih, ya. Gampang banget. 

Mari kita mulai membuat sarikaya nangka no oven, no kukus ini.

Baca Juga: Mengatur Finansial Rumah Tangga Ala-Ala

Bahan yang dibutuhkan:

1. Roti tawar - 500 gr
2. Nangka - 250 gr (aku tambahin lagi 5 buah potong nangka. Biar lebih nendang pas makannya. wkwk)
3. Gula pasir - 100 gr
4. Santan kental - 200 ml (aku pakai santan instan 3 bungkus isi 65 ml)
5. Air - 1 ltr
6. Garam - ½ sdt (secukupnya)
7. Vanili - 1 sdm
8. Daun pandan - 2 lbr (ikat simpul)

Cara membuat:

1. Sobek acak roti tawar tapi jangan terlalu kecil.
2. Potong dadu nangka kecil-kecil (bukan potong halus juga, sih) atau sesuai selera. Kalau aku suka potong kecil-kecil. Maksudnya sih, supaya buah nangka tersebar rata ke bagian dalam dan luar roti nantinya.
3. Tuang air ke dalam panci. Didihkan.
4. Setelah air mendidih, masukkan santan, gula, garam, vanili, daun pandan. Aduk santan sampai panas bukan sampai mendidih. 
5. Setelah santan mengeluarkan uap panas, masukkan potongan nangka. Aduk kembali sampai mendidih dan nangka mengeluarkan aroma wangi. Tes rasa. Kalau aku tambahin garam lagi, biar lebih gurih.
6. Tuang kuah santan nangka ke atas roti tawar yang sudah disobek-sobek tadi. Aduk dan ratakan nangka hingga ke bagian dalam roti dan permukaan.
7. Tunggu sampai uap panas sarikaya hilang, tutup wadah. Lalu masukkan loyang ke dalam kulkas. Biarkan dingin.

Baca Juga: Tetap Produktif Meski Diam di Rumah  

Karena aku nggak punya wadah besar dimana adonan bisa sekaligus masuk. Jadinya aku dijadikan dua loyang. Aku coba pisahkan cara penyimpanannya. Satu loyang disimpan di rak kulkas biasa. Satu loyang lagi aku simpan di freezer.

Hasil dan sensasinya beda. Sarikaya nangka yang aku simpan di freezer teksturnya mengeras tapi nggak membeku. Pas dimakan rasanya seperti menggigit kue. Hmm, kayak es kue, gitu. Tahu dong, Sahabat Desi's Corner rasanya es kue kayak gimana? Enak, enak, enak, suka bingits.

Aroma nangkanya enak, santannya juga terasa gurihnya. Perpaduan gurih dan manis ditambah empuknya roti tawar yang masih berbentuk roti sobek,  beneran bikin nagih. Percobaan pertama ini berhasil. Kakak sampai bilang, "bikin lagi, Mah."

Sedangkan untuk sarikaya nangka yang disimpan di rak kulkas biasa selama sehari semalam, teksturnya seperti puding. Suami aja bilang enak. Cuma nggak bisa banyak-banyak makannya karena menggunakan santan. Biasalah ya, kolesterol. Tapi akunya jadi enak karena saingan makannya berkurang wkwk.

Setelah olahan roti dan nangka yang disiram kuah santan ini. Mungkin aku akan mencobanya dengan mengukus. Tapi santan yang digunakan akan lebih banyak. Karena pada saat proses pengukusan, cairan dalam adonan akan menguap. Jadi, agar tetap empuk, santan harus dilebihkan sedikit dari atas permukaan adonan.

Sarikaya no kukus dan no oven

Baiklah, nanti kalau dapat kiriman nangka lagi, baru di eksekusi, wkwk. Hmm, tapi biar suami bisa makan lebih banyak, gimana kalau santannya diganti dengan susu low fat atau fiber cream

Baiklah Sahabat Desi's Corner, sekarang giliran kamu mencoba resep sarikaya nangka no kukus, no oven, no ribet ini. Awas, jangan sampai ketagihan, yaa.





Thursday, June 10, 2021

7 Tips Sebelum Pergi ke RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo

June 10, 2021 17


Tips sebelum pergi ke RSUPN Cipto

Hai Sahabat Desi's Corner! Tulisan kali ini aku mau berbagi tips sebelum pergi ke RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo. Karena berobat ke rumah sakit Cipto bukan seperti berobat ke klinik atau rumah sakit daerah yang mungkin lokasinya tidak jauh dari tempat tinggal kita.

Luas bangunan RSCM berkisar 300 ribu meter persegi. Dan jarang kalau berkunjung ke RSCM itu cuma ke satu tempat. Bahkan sepengalamanku setahun lebih mondar-mandir ke RSCM, pulangnya aja bisa sore. Jarang tuh, kelar urusan di RSUPN Cipto ini sampai tengah hari.

Mana lokasi dari poli, instalasi farmasi, radiologi, biopsi, dan lainnya nggak ada yang dekat. Ditambah harus antri pula. Maka di sini kita perlu mempersiapkan "senjata" untuk bertempur kalau kita mengantar berobat anggota keluarga ke RSCM.

Apa sajakah yang harus dipersiapkan sebelum pergi ke RSCM? Ya udah, di sini aja dulu, simak sampai tuntas bacanya yak yak.

Berikut 7 Tips Sebelum Pergi ke RSUPN Dr. Cipto:

1. Cek Poli Tujuan, Apakah Bisa Daftar Secara Online?

Aku ada pengalaman tentang poin satu ini. Ceritanya aku, kan, keenakan libur dan nggak ke rumah sakit sebulan lamanya. Terus aku kelupaan untuk daftar di RSCM Online. Beneran aku merasa deg-deg-an kalau-kalau Papap nggak dapat kuota berobat.

Seandainya aku mendaftar online untuk kontrol Hematologi, pasti Papap udah nggak kebagian kuota di minggu pertama bulan Juni ini. Secara poli Hematologi kudu daftar dua minggu sebelum kontrol. Meski di peraturan daftar online adalah H-2.

Awal Bulan Juni ini, Papap dirujuk untuk konsultasi ke poli Radioterapi dari poli Hematologi. Saran dokter Hematologi setelah melihat hasil CT Scan Papap. Kemoterapi yang sudah dijalani selama enam bulan, ternyata belum memusnahkan LNH (Limfoma Non Hodgkin) yang ada di area sinonasal (hidung) Papap.

Salah aku tidak menanyakan ke petugas RSCM tentang alur pelayanan radioterapi sebelum liburan. Apakah bisa daftar online? Apakah ada hari khusus untuk pendaftaran pasien baru? Atau adakah pembatasan jumlah kuota?

Seharusnya waktu menjelang sore di Cipto tidak dijadikan alasan untuk menanyakan semua pertanyaan di atas. Alhasil, pas sudah waktunya kontrol. Aku repot sendiri. Grasak-grusuk mencari cara untuk daftar online menggunakan web RSCM Online.

Kadang penggunaan nama poli di web RSCM ada singkatan yang aku nggak tahu. Seperti waktu daftar online ke Poli Jantung. Di web RSCM Online disingkat menjadi PJT-Poliklinik di antara nama-nama poli rawat jalan (URJT). Sampai aus nih jari, nggak bakalan ketemu yang namanya Poli Jantung.

Bayangkan tanggal 3 Juni mau kontrol, tanggal 1 baru cari cara buat daftar ke poli Radioterapi. Ketar-ketir aku sebetulnya, takut nggak kebagian kuota. Mata dan jariku sampai juling cari informasi tentang alur pelayanan radioterapi ini. Googling sana, browsing sini, nggak dapet-dapet.

Waktu yang mepet membuatku mengambil keputusan untuk datang langsung ke Cipto. Pahit-pahitnya sih, kalau nggak bisa daftar langsung ditempat berarti ya, berarti cuma cari informasi.



7 tips sebelum pergi ke RSCM

2. Membuat Rekomendasi Surat dari Dinkes

Rekomendasi Dinkes dibutuhkan sebagai bukti bahwa pasien yang menggunakan Jamkesda sudah mendapat persetujuan dari kota asal untuk berobat di rumah sakit rujukan.

Dinkes biasa kubuat satu hari sebelum pergi ke RSCM. Meski aku berspekulasi bisa atau tidaknya daftar di Poli Radioterapi ditempat. Memegang surat Dinkes tidak ada ruginya. Kalau nggak bisa daftar, ya, nggak usah dipakai surat Dinkesnya. Dan kalau ternyata bisa daftar ditempat, itu berarti aku aman. Soalnya pengajuan surat Dinkes lumayan makan waktu, meski di hari yang sama.

Baca Juga: Cara Daftar di RSCM Online Ke Poli Jantung Menggunakan Jamkesda

3. Menyiapkan Berkas yang Akan Dibawa

Siapkan semua berkas kelengkapan seperti kartu berobat, kartu Jamkesda atau BPJS beserta semua surat rujukan (RSUD dan Puskesmas), hasil pemeriksaan (lab, rontgen, surat konsultasi jika ada), dan berkas lainnya yang dibutuhkan. Siapkan dan periksa kembali dengan teliti. Nggak mau kan, karena kekurangan salah satu berkas yang harus dibawa lalu kita harus kembali keesokan harinya? Secara loket pendaftaran tutupnya pukul 13.00.

4. Memakai Pakaian yang Nyaman

Bukan rahasia umum kalau urusan di RSCM itu jarang yang sebentar. Minimal kita akan berada di rumah sakit dari pagi pukul 06.00 sampai tengah hari. Itu kalau yang dituju cuma satu tempat. Ambil hasil atau cuma tes darah ke lab saja.

Paling sering kalau aku mengantar berobat ke RSUPN nama baru untuk RSCM dari tahun 1994 ini. Aku akan mengunjungi beberapa tempat, seperti sebelum kemoterapi. Setelah konsultasi dokter, lanjut ke Case Manager dan Instalasi Farmasi. You know what Sabahat Desi's Corner, letak kedua tempat itu seperti timur dan barat. Udah gitu pakai antri pula. Kalau udah begini, aku bisa berada di rumah sakit sampai pukul empat atau setengah limaan gitu.

Dept. Radioterapi RSUPN Cipto

Oleh karena itulah, kalau bisa kenakanlah pakaian yang nyaman, yang akan membuat gerak dan langkah kita enteng atau ringan. Bayangkan kalau pakaian yang kita kenakan lalu tidak menyerap keringat dengan baik. Bisa-bisa salah satu anggota tubuh kita akan mengalami basket, burket, dan ujung-ujungnya nggak pede ketika berada di antrian ruang tunggu atau waktu bertemu dokter. Kitanya juga pasti merasa risih dan nggak enak, kan?

5. Pakailah Flat Shoes atau Sepatu Kets


Dikarenakan luasnya bangunan rumah sakit dan jarak yang ditempuh dalam satu hari bisa dari pagi hingga sore. Maka alangkah lebih baiknya memakai alas kaki yang tidak menyiksa diri.

Flat shoes dengan bahan kain atau karet atau bisa juga sepatu lainnya yang menurut Sahabat Desi's Corner enak dibuat jalan kaki dalam waktu lama. Alas kaki yang enak dipakai akan membuat langkah kita nyaman ketika harus bergerak cepat karena diburu waktu.

6. Bawalah Bekal Makanan dan Tumbler Minum


Waktu awal ke rumah sakit negeri nasional ini. Aku belum punya gambaran bakal seperti apa yang akan dihadapi ketika mengantar Papap berobat. Entah itu seluk beluknya atau waktu yang diperlukan ketika harus berada di sana.

Cukup sekali perutku tidak diisi oleh makanan ketika menunggu pemeriksaan dokter sampai lewat tengah hari. Kontrol berikutnya, aku menyiapkan bekal untuk sarapan, makan siang, camilan, atau teh manis dalam gelas termos. Adikku malah bawa es kopi. Ya, kayak model piknik gitu jadinya wkwk.

Tukang jualan keliling sebetulnya ada, kantin juga ada. Tapi jaraknya bo', lebih dari dua puluh menit bolak-balik hanya untuk sekadar beli makan siang dari poli yang letaknya di lantai tiga. Jadi baiknya bawa bekal "piknik" aja ya, Sahabat Desi's Corner.

Kalau soal minum, di lobi depan atau bagian admisi tempat pendaftaran ada dispenser. Jadi kita bisa isi ulang tumbler yang kita bawa. Di beberapa poli juga tersedia dispenser. Soal air minum nggak usah khawatir karena di beberapa titik memang disediakan. Jadi nggak perlu jalan jauh untuk membeli kalau persediaan habis

Baca Juga: Oseng Tempe Kacang Panjang Pedas Manis Nggak Pakai Lama

7. Membawa Perlengkapan Salat dan Perlengkapan Pencegahan Virus Covid-19


Perlengkapan sebelum bepergian

Pandemi belum berakhir. Malah sekarang jumlah penderita terinfeksi Covid-19 lagi naik-naiknya. Dan terlebih lagi, kita mengunjungi rumah sakit. Disarankan banget untuk membawa sajadah dan mukena sendiri.

Jangan lupa untuk membawa juga hand sanitizer, masker cadangan, tisu kering, dan tisu basah. Meski hand sanitizer disediakan di beberapa titik bagian rumah sakit. Tapi interaksi sentuhan menggunakan tangan terbilang sering.

Entah ketika menyerahkan berkas, memegang uang ketika fotocopy, memegang gagang pintu, memencet tombol lift, dan masih banyak lagi interaksi yang menggunakan tangan.

Dikarenakan sering pegang sana-pegang sini itulah dan untuk mencegah kita lupa menyentuh area wajah atau memegang gawai. Maka setelah kita melakukan aktivitas menggunakan tangan, wajib membersihkannya segera dengan hand sanitizer.


Bagaimana Sahabat Desi's Corner? Semoga 7 tips sebelum pergi ke RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo diatas dapat menjadi informasi atau pengetahuan bagi teman atau keluarga yang membutuhkan.

Berada di rumah sakit rujukan nasional memang kudu cerewet dan banyak tanya. Pepatah malu bertanya sesat dijalan, ternyata berlaku banget di sini. Soalnya nggak bisa pakai google map atau waze buat mencari jalan dari satu poli ke poli lainnya. Aku aja waktu awal dulu ke RSCM suka kesasar wkwk.

Baiklah sampai disini dulu ya cerita pengalamanku yang dijadikan tips sebelum pergi ke RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo. Lain kali aku bakal berbagi pengalaman tentang alur pelayanan radioterapi bagi pasien baru menggunakan Jamkesda.

Sampai jumpa dan salam sehat untuk Sahabat Desi's Corner dimanapun berada.












Wednesday, June 2, 2021

Oseng Tempe Kacang Panjang Pedas Manis Nggak Pakai Lama

June 02, 2021 18

oseng tempe kacang panjang

Ceritanya suami kangen sama oseng tempe kacang panjang manis pedas. Maklum, gegara waktu fasdhu, hasil darahnya ada kandungan asam urat. Alhasil pere bikin oseng tempe ini, lama pake banget. Mungkin selama pandemi nggak bikin masakan oseng tempe manis pedas ini. (Lebay tapi hampir nyata ๐Ÿ˜‹๐Ÿ˜…).

Sebagai Mamak yang masih belajar masak. Oseng, tumis, sayur bening, goreng-goreng, adalah keahlian yang bisa dipelajari secara ekspres bin kilat. Sayur asem dan sayur sup, masih butuh jam terbang agak lamaan dikit. Rasanya itu lho, nggak konsisten. Kadang enak, kadang layak dimakan, atau kadang kayak minum air bening. Wkwk.

Kalau kata Kakak mah, "enakan sayur sup buatan Eyang Mamah."

Ya iyalah, Kak, secara Eyang Mamah, kan, terjun ke dunia masaknya sejak masih gadis sampai nemenin Papap berumah tangga 50 tahun lebih. Lah Mamah, jam terbang di dapurnya baru tiga tahun. Itu juga nggak tiap hari masak.

Telur ceplok buatan Eyang Mamah aja enak banget dibanding bikinin Mamah.

 

Coba itu Kakak, hati Mamah terasa teriris seperti tempe yang mau dipotong buat bikin oseng. Sampai telur ceplok pun kalah saing sama Eyang Mamahnya Kakak. Padahal jam terbang bikin telur ceplok semenjak masih sekolah lho, akutu bikinnya.

Baca Juga: Review Usaha Masakan Rumahan Dapoerasatoe

Perbedaan Oseng dan Tumis

Oseng tempe yang dibuat ini, Alhamdulillah cukup berhasil, cocok di lidah dan lumayan bisa dimakan (mau muji enak, takut nggak percaya ๐Ÿ˜€). Eh tapi buktinya, suami pas makan cuma bilang kurang pedes. Nggak ada embel-embel kurang enak atau nggak enak. Berarti berhasil kan, nyontek resepnya ๐Ÿ˜…). Aku ambil resepnya dari kecap bango gitu. Tapi ada beberapa bumbu dan cara masaknya aku sesuaikan dengan gaya aku sendiri. 

Sebelum mulai masak. Sahabat Desi's Corner tahu nggak perbedaan antara oseng dan tumis?

Ya, benar, kok Sahabat Desi's corner udah tahu, sih, perbedaan antara oseng dan tumis? Jujur, aku baru tahu perbedaan keduanya pas menulis tentang oseng tempe kacang panjang pedas manis ini. Padahal masaknya mah, hampir tiap hari, kalau nggak oseng ya, tumis. Praktiknya udah bener. Cuma teorinya yang kelewat.

Dari sumber beberapa artikel yang kubaca. Katanya kalau oseng itu masakan khas bangsa kita, Indonesia. Dimasak menggunakan minyak lebih sedikit dibanding tumis. Karena bahan makanan oseng kaya protein dan sudah mengandung minyak alami, makanya minyak yang dipakai lebih sedikit dibanding tumis. 

Bumbu rempah yang digunakan selain bawang merah dan putih, cabai. Juga menggunakan lengkuas, daun salam, jahe, lada, dan teman-temannya. Gimana nggak harum menggoda coba nih, masakan? Soal rasa, oseng memiliki rasa asin cenderung pedas.

Rempah oseng

Nah, kalau olahan tumis, perpaduan antara masakan khas Indonesia dan Oriental. Selain menggunakan minyak sedikit. Bumbu yang dipakai adalah cabai, bawang merah, dan putih. Terus rempahnya diganti dengan kecap asin, kecap ikan, saus tiram. Nggak lupa ditambah gula dan garam.

Biar masakan lebih mantap, biasa ditambah air sedikit. Jangan sampai berenang, ya. Soal rasa? Hmm, gurih dan manis gitu (jadi pengin tumis kangkung sama tempe goreng).


Resep Oseng Tempe Kacang Panjang Pedas Manis

Mari kita mulai masak oseng tempe kacang panjang pedas manis ini diawali dengan mengucap bismillah.

Bahan-bahan yang digunakan:

Tempe - 1 papan
Kacang panjang - 1 ikat
Bawang merah - 7 siung
Bawang putih - 3 siung ukuran besar
Daun salam - 2 lembar
Lengkuas - 1 ruas ibu jari
Cabai keriting - 2 buah
Cabai rawit setan - 7 buah
Garam
Gula
Kaldu jamur (optional)
Kecap manis 

Bahan oseng tempe

Langkah Membuat I:

1. Potong panjang tempe tapi jangan tipis kayak mau bikin orek atau mau potong dadu juga boleh. Suka-suka deh, pokoknya. Lalu kukus tempe (aku mengukus tempenya barengan sama menghangatkan nasi. Jadi lama deh, 30 menit gitu). Kalau Sahabat Desi's Corner tempenya mau digoreng setengah matang juga boleh. Aku mah, ceritanya lagi mengurangi konsumsi minyak. Jadi tempenya dikukus.

2. Kacang panjangnya juga jangan lupa dipotong. Ukuran standar dah, panjangnya.

3. Iris tipis bawang merah dan putih.

4. Iris serong cabai merah keriting dan cabai rawit.

5. Iris lengkuas lalu di geprek. Kalau mau langsung digeprek utuh juga, sah, kok.

6. Remas daun salam sebelum ditumis. Biar aromanya keluar.

Langkah Membuat II:

1. Tumis bumbu yang sudah diiris, daun salam, dan lengkuas sampai mengeluarkan aroma enak di hidung.

2. Masukkan tempe dan kacang panjang. Aduk rata dengan bumbu tumis. Sebentar aja, ya.

3. Masukkan kecap. Aku sukanya manis, jadi agak banyak gitu kecapnya. Aduk rata. Nggak usah lama-lama aduknya. Begitu rata, masukkan air secukupnya. Kalau aku airnya kira-kira 150 ml-an, gitu. Soalnya tempe sama kacang panjangnya banyak. Aduk rata lagi.

4. Masukkan kaldu jamur, gula, garam. Aduk lagi sampai air saat dan bumbu meresap.

5. Tes rasa. Kalau udah oke, siap disantap deh, nih oseng makanan sejuta umat.

Oseng tempe kacang panjang pedas manis

Baca Juga: Buka Usaha Di Tengah Pandemi? Begini Kiat-Kiatnya agar Kamu Berhasil

Aku masak ini, nggak sampai setengah jam, deh, kayaknya. Soalnya sebelum masak, habis dzuhur aku "siangin" gitu bahan-bahannya. Tempenya setelah aku potong-potong, langsung dikukus. 
Bawang merah dan teman-teman bumbu lainnya aku iris. Terus aku simpan di kulkas, deh. Istilah kerennya mah, food preparation. Jadi pas ashar, aku tinggal mengolah aja. Cepat dan nggak pakai lama.

Kalau teori oseng diatas tadi bilang, rasanya oseng itu umumnya asin cenderung pedas. Lah, kalau oseng tempe kacang panjang yang aku buat ini rasanya, pedas, manis, dan gurih.

Hmm, menurut Sahabat Desi's Corner masakan oseng kacang panjang pedas manis yang aku buat ini bisa disebut dengan perpaduan antara oseng dan tumis, nggak?






Thursday, May 27, 2021

Cara Daftar di RSCM Online Menggunakan Jamkesda ke Poli Jantung,

May 27, 2021 8

RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo

Begini cara daftar di RSCM Online menggunakan Jamkesda di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo khusus ke Poli Jantung sebagai informasi buat Sahabat Desi's Corner. Barangkali ada kenalan yang mau berobat ke RSUPN Dr. Cipto, terus lagi cari cara untuk mendaftar secara online. Bolehlah dipakai artikel ini sebagai panduan gitu.

Soalnya setelah bolak-balik ke Cipto setahunan, akhirnya di bulan November 2020 lalu, buat pasien yang menggunakan kartu Jamkesda bisa daftar secara online. Senang banget akutu akhirnya nggak usah lagi datang pagi-pagi buat antri ambil nomor pas Papap mau berobat.


Keuntungan Mendaftar Di RSCM Online

Dulu waktu daftar onsite kalau berobat ke RSUPN Cipto. Aku dan adikku kudu sampai rumah Mamah pukul enam kurang buat jemput Papap. Soalnya selama pandemi, pasien yang berobat di Cipto kuotanya dibatasi.

Pihak rumah sakit pun memberikan kuota untuk pasien daftar online lebih banyak dibanding yang daftar on site. Dapat dimengerti sih, mengapa RSUPN Cipto melakukan hal itu. Pastinya untuk mencegah penumpukan antrian pasien yang akan berobat.

Makanya waktu dapat informasi kalau Jamkesda sudah bisa daftar online. Aku senang banget.

5 Keuntungan Daftar di RSCM Online:

5 Keuntungan Daftar di RSCM online


1. Tidak Perlu Datang Pagi

Enaknya daftar online, kita nggak perlu datang pagi buat ambil nomor antrian ke admisi. Kita cuma cukup daftar di aplikasi RSCMKu atau melalui web RSCM Online dan dilakukan pada H-2 dari jadwal berobat atau kontrol.

Tapi buat berbagi pengalaman. Kalau mau kontrol ke Poli Hematologi Onkologi. Daftar online harus dilakukan minimal dua minggu sebelum jadwal pemeriksaan. Soalnya Poli Hemato ini jadi "favorit pasien". Kalau daftar H-2 mah, alamat nggak kebagian.

2. Tidak Perlu Antri

Yang jelas kalau kita daftar secara online melalui aplikasi RSCMKu atau web RSCM Online. Selain nggak perlu datang pagi. Kita juga nggak perlu antri masuk ke RSCM, antri cetak SEP di admisi, juga nggak perlu menunggu lama untuk pemeriksaan dokternya.
 

3. Mendapatkan Kuota Pemeriksaan

Mendaftar secara online, dipastikan bahwa kita mendapatkan kuota untuk pemeriksaan dokter dibanding mendaftar secara on site atau ditempat.

For your information ya, Sahabat Desi's Corner. Sepengalamanku nih ya, kalau jumlah kuota pasien untuk yang mendaftar secara online itu lebih banyak dapat jatahnya dibanding yang mendaftar di tempat atau on site.

Perbandingan jumlah pasiennya lumayan banyak. Mungkin kira-kira 20% dari jumlah kuota yang diberikan oleh pihak RSCM. Misalnya, kuota pasien poli Hematologi-Onkologi adalah 150 orang. Maka jumlah pasien yang bisa mendaftar secara on site, kurang lebih cuma 30 orang.

4. Datang Satu Jam Sebelum Waktu Kunjungan

Waktu melakukan pendaftaran online. Kita akan mendapat lembar perjanjian elektronik yang mencantumkan tanggal dan jam kunjungan. Di lembar itu pun tertera kalimat yang menginformasikan bahwa lembar Surat Eligibilitas Peserta (SEP) dapat dicetak satu jam sebelum waktu kunjungan. Dengan begitu, kita nggak perlu menunggu terlalu lama di rumah sakit.

Memang resikonya parkiran aja yang susah dapat. Tapi, nggak apa, daripada harus datang pagi lalu menunggu berjam-jam dapat giliran. Ya, mending susah dapat parkiran. Kan, ada jasa valet. 

5. Lebih Aman, Nyaman, dan Praktis

Sebelum Jamkesda bisa daftar secara online. Selama kurang lebih 9 bulanan. Papap harus menunggu sampai kurang lebih enam jam untuk pemeriksaan. Itu belum dihitung dari kita mulai tiba di RSCM untuk melakukan pendaftaran yang memakan waktu sampai satu jam-an.

Dengan mendaftar terlebih dahulu. Kita bisa mengatur kedatangan untuk tiba di Cipto. Aman dan nyaman karena jumlah pasien yang datang akan menyesuaikan dengan waktu yang sudah tertera di SEP yang dipunyainya. Penumpukkan pasien pun dapat dihindari.

Terakhir keuntungan daftar RSCM Online melalui web adalah praktis. Cukup dengan rebahan, kita sudah bisa booking tanggal dan hari buat kontrol sesuai dengan kebutuhan dan keadaan kita.

Baca Juga: Usia 25 Tahun Idealnya Punya Apa? Ini Usia 25 Tahun Versi Desi's Corner  

Cara Mendaftar RSCM Online Menggunakan Jamkesda

Daftar online ke RSUPN ini, bisa melalui aplikasi RSCMKu yang dapat di download di playstore. Atau bisa melalui web RSCM Online seperti aku. Maklum, gawainya udah nggak muat download aplikasi baru lagi. Doain aku supaya bisa beli gawai baru yang ramnya gede ya, Sahabat Desi's Corner.

Berikut Langkah Daftar RSCM Online menggunakan Jamkesda:

- Buka RSCM Online di web http://perjanjian.rscm.co.id/ atau langsung tik RSCM Online pada keypad gawai. Disini kita akan melihat halaman pertama yang meminta kita untuk mengisi data pasien di kolom yang telah disediakan. Setelah selesai diisi, lalu klik kotak hijau bertuliskan Proses.

Daftar RSCM Online menggunakan gawai

- Pada halaman kedua, kita mulai membuat perjanjian dan mengisi data lebih lanjut. Seperti, mengisi tanggal kunjungan, memilih cara pembayaran. Bila menggunakan Jamkesda (Jaminan Kesehatan Daerah), pilihlah dimana daerah, kota, atau kabupaten penerbit Jamkesda tersebut.

- Lanjut mengisi poli/klinik tujuan. Untuk Poli Jantung, pilihlah PJT Poliklinik. Untuk pengguna BPJS, setelah mengisi data lengkap dan sudah mendapatkan surat perjanjian elektronik, dapat langsung menuju Poli Jantung (PJT) untuk mendaftar dan mencetak SEP (Surat Eligibilitas Peserta) disana. Tidak perlu ke admisi lagi, karena PJT mempunyai loket pendaftaran sendiri.

Praktis menggunakan RSCM online

Tapi karena aku menggunakan Jamkesda yang membutuhkan persetujuan Dinkes kota dimana aku tinggal. Juga pihak Dinkes yang sistemnya hanya bisa terkoneksi oleh admisi (loket pendaftaran utama RSUPN). Maka aku tidak bisa langsung daftar ke PJT seperti pengguna BPJS.

Setelah aku mendapat surat perjanjian elektonik yang berbarcode. Aku harus tetap ke admisi untuk mencetak SEP. Baru deh, aku bisa daftar ke PJT. Jadi daftarnya dua kali dan bekasnya pun menyerahkan dua kali juga.

- Mengisi pilihan dokter dan waktu berkunjung. Paling enak daftar H-2 nya itu pagi-pagi banget, karena pilihan dokter dan waktu berkunjungnya masih banyak. Contoh pilihan dokter dibawah adalah pada saat aku menulis artikel ini. Aslinya waktu itu, meski daftar pagi. Aku tetap dapat jadwal dokter pukul 11.

Nyaman dengan web RSCM online

- Data terakhir yang diisi pada halaman kedua adalah alamat email. Setelah pengisian pendaftaran komplit. Klik aja kotak biru bertuliskan perjanjian. Nanti keluarnya seperti contoh ini, deh. Jangan lupa, hasil perjanjian elektroniknya di screenshoot, soalnya nggak bisa disimpan. 

Barcode pendaftaran rscm online

Selain konfirmasi pendaftaran RSCM Online didapat berupa barcode. Konfirmasi pendaftaran pun akan kita dapat melalui email dan sms. Gimana nggak kurang meyakinkan coba, kalau nama pasien benar-benar sudah mendapat kuota pemeriksaan. 

Baca Juga: 5 Tips Ibu Bahagia Selama Pandemi

Berkas yang dilampirkan khusus pengguna kartu Jamkesda:

1. Kartu berobat RSCM
2. Fotocopy KTP
3. Fotocopy KS (Kartu Sehat/Kartu Jamkesda)
4. Surat rujukan dari RSUD
5. Surat rujukan dari Puskesmas
6. Hasil print berwarna Surat Keterangan Layanan dari Dinas Kesehatan kota/kab.
7. Fotocopy Kartu Keluarga

Catatan: Masing-masing berkas hanya membutuhkan satu lembar. Saat pendaftaran di admisi, jangan lupa menunjukkan barcode yang didapat dari perjanjian online.

Berkas yang dilampirkan untuk daftar ke PJT:

1. Kartu berobat RSCM
2. SEP yang dicetak oleh admisi
3. Fotocopy KTP
4. Fotocopy KS (Kartu Sehat/Kartu Jamkesda)
5. Surat rujukan dari RSUD
6. Surat rujukan dari Puskesmas
7. Fotocopy Kartu Keluarga
8. Satu lembar surat konsultasi asli, lalu di fotocopy satu lembar. Surat konsultasi ini didapat dari poli rujukan (kebetulan Papap direkomendasikan ke PJT dari Poli Hematologi untuk evaluasi setelah kemo).

Catatan: Masing-masing berkas hanya membutuhkan satu lembar kecuali no. 7.

Semoga pengalamanku tentang cara daftar di RSCM Online menggunakan Jamkesda khusus ke Poli Jantung dapat bermanfaat bagi Sahabat Desi's Corner yang membutuhkan.

Melalui tulisan ini juga, aku mau mengucapkan terima kasih kepada Pemkot Bekasi dan Dinkes (Dinas Kesehatan) yang telah memfasilitasi adanya kartu Jamkesda bagi kami, rakyat kecil. Nggak terbayang deh, seandainya mengeluarkan biaya berobat sendiri selama satu tahun lebih ini. Dari mulai bolak-balik pemeriksaan, operasi, CT Scan, rontgen, kemoterapi, USG, echo, dan masih banyak lagi.

Lain kesempatan, aku akan berbagi pengalaman selain daftar RSCM Online ini. Jelasnya mah, masih berhubungan dengan proses, prosedur, serta pasca kemoterapi Papap. Semoga kita semua diberi kesehatan dan diberi kesempatan untuk berbakti kepada orang tua. Aamiiin.

Salam sehat selalu Sahabat Desi's Corner.






Thursday, May 20, 2021

Usia 25 Tahun Idealnya Punya Apa? Ini Usia 25 Tahun Versi Desi's Corner

May 20, 2021 14

Usia 25 tahun idealnya punya apa?

Usia 25 Tahun idealnya punya apa? Ini adalah topik viral di twitter beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 10 Mei. Aku sih, tahunya cuitan ini dari beranda status facebook. Heboh bener. Penasaran dong, sampai akhirnya buka twitter.

Waktu mau mau menulis tentang topik viral usia 25 tahun ini. Dicari tahulah dulu siapa pencetus pertama kalinya. Eh, nggak nemu. Secara cuitannya bikin geger dunia pertwitteran dan sekitarnya. Begini bunyi cuitannya:

”Usia 25 tahun idealnya punya apa? Tabungan 100 juta. Cicilan rumah sisa 20 persen lagi beres. Punya kendaraan pribadi. Gaji minimal 8 juta.”
Gimana? Cuitannya bikin pro dan kontra, kan? Terus aku jadi mikir, deh. Macam flashback gitu. Waktu aku usia 25 tahun, sudah punya apa, ya?

Baca Juga: Green Jobs Peluang Kerja Anak Muda

Usia 25 Tahunku Kala Itu

1. Bekerja

Selang tiga bulan selesai kuliah tahun 1996, aku mulai bekerja. Hingga menginjak usia 25 tahun, aku menemukan pekerjaan ketiga yang akhirnya mengabdi sampai sebelas tahun lebih sedikit di sana.

Tapi di usia 25 tahun, tabunganku nggak sampai 100 juta, tuh? Ya kali, tahun 1999 upah yang didapat 300 ribu/bulan bisa menabung sampai 100 juta? Eh, tapi 300 ribu yang kudapat kala itu berdasarkan data dari BPS sudah diatas UMR, lho.

UMR tahun 1999 provinsi Jabar
Sumber: bps.go.id

Kalau dilihat dari poin cuitan di atas. Berarti untuk tiga kriteria berikutnya yaitu, cicilan rumah, punya kendaraan pribadi, sama gaji minimal 8 juta, lewat deh.

Biarpun makan dan ongkos ditanggung dan ditambah uang lembur. Tetap saja, tabungan 100 juta nggak bakal bisa dapat.

2. Menikah

Aku menikah di usia 25 tahun lebih dua bulan. Pas lama kerja sudah dua tahun dan berhak mendapat cuti tahunan.

Maklum dah, masa pacarannya kelamaan, hampir 9 tahun. Jadi meski tabungan belum 100 juta, belum punya rumah juga. Eh, zaman 1999 belum ada rumah bersubsidi atau proyek perumahan seperti sekarang ini. Dulu banyaknya sawah, kebun, atau tanah resapan air.

Akhirnya tabungan yang sudah dikumpul, dipakai buat hajatan, deh. Aku dan suami pun kembali ke titik nol. Mengumpulkan tabungan lagi. Meski pada akhirnya, kami bisa mengambil KPR tahun 2005.

Baca Juga: Mengatur Finansial Rumah Tangga Ala-Ala

3. Mempunyai Anak

Usia 25 tahun anggota keluarga bertambah. Iya, di tahun yang sama, tidak lama menikah, aku melahirkan anak pertama. Target 100 juta mah, lewat dah, meski aku dan suami sama-sama bekerja.

Dulu belum ada olshop atau marketplace yang bisa ditebengin produk buat jualan. Terakhir jualan kayaknya pas kuliah, deh. Jualan tas yang kudu simpan stok di rumah. Resiko nggak balik modal kalau sisa. Setelah menikah dan punya anak. Keinginan untuk berjualan lagi, nggak terlewat di benakku saat itu.

Jadi ya gitu. Tiap bulan aku menabung sebisa mungkin. Kayak lagu Eyang Titiek Puspa. Menabung nggak usah dihitung dan nggak perlu nominal besar untuk memulainya. Yang penting aku sudah membuka rekening atas nama anakku. Jadi setelah gajian, aku langsung bisa menyisihkan dan menyimpannya di rekening Kakak.


Membentuk Usia 25 Tahun Versi Desi's Corner Untuk Kakak

Mengarahkan passion anak

Jujur, karena topik viral usia 25 tahun ini. Selain bikin aku flashback ke masa lalu. Aku juga ingin pengalaman yang lalu tersebut jangan terulang atau dialami oleh Kakak.

Aku ingin usia 25 tahun kakak nanti bisa seperti cuitan di twitter. Ya, paling nggak, mendekati gitu. Meski baru menyelesaikan kuliah awal tahun ini. Meski sekarang lagi pandemi dan susah mencari kerja. Dan meski kedua orang tuanya bukan pengusaha dan mempunyai modal. Tapi zaman sekarang, untuk mempunyai 100 juta sepertinya bisa diusahakan.

Persiapan Sebelum Usia 25 tahun Kakak:

1. Membantu dan mengarahkan mencari passion

I have no special talent. I am only passionately curious. -Albert Einstein-

 

Bayangkan belajar fisika buat Einstein adalah passion. Buatku mah, pelajaran fisika zaman sekolah dulu adalah beban. Wkwkw. Dapat nilai enam aja udah paling TOP itu. Seandainya belajar fisika cuma karena kewajiban sebagai pelajar macam aku dulu di sekolah. Mungkin rumus E=mc², kesetaraan energi dan massa nggak akan ditemukan. Hmm, ya kan, ya kan?

Dan aku nggak mau, Kakak menemukan passion macam mamaknya ini. Baru ketemu setelah usia kepala empat.

Bagaimana cara membimbing Kakak menemukan passionnya?

- Memberi contoh

Pertama ya aku kasih contoh dulu. Aku suka membaca. Kakak pun sedari kecil sudah terbiasa dengan buku dan membacanya sampai sekarang. Cuma, pas aku belajar menulis tiga tahun yang lalu sampai sekarang. Kakak nggak tertarik untuk mengikutiku.

Sebenarnya Kakak sempat punya blog. Malah duluan dia daripada aku. Cuma yang namanya nggak terlalu tertarik, jadinya nggak berlanjut, deh.

Baca Juga: 9 Alasan Ngeblog Ala Desi's Corner  

- Menularkan Hobi

Aku hobi banget crafting. Mulai dari kristik, sulam pita, decoupage, daur ulang barang bekas (kaleng, patchwork), menjahit. Tapi ya gitu, namanya hobi, jadi cuma sekadar bisa, nggak expert.

I'm good in many things but great in nothing. 

Dan dari sekian banyak hobi tersebut. Nggak ada satupun yang nyantol sama Kakak alias Kakak nggak minat untuk ngejalanin salah satu hobiku tersebut.

- Ekspresi Diri

Aku suka berbicara dengan tanaman. Selain menulis sebagai penyaluran emosi. Berbicara dengan tanaman lumayan bikin pikiran teralihkan sementara akan rumitnya hidup di masa pandemi. Untung tanamannya nggak layu saat aku mengekspresikan diri.

Pohon yang aku tanam juga bukan tanaman hias yang lagi ngetrend. Secara aku nggak punya halaman luas. Jadi tanamnya ya, di pot gitu. Cukuplah pohon cabai dan mengembang biakkan pohon daun mint.

Tapi Kakak juga nggak tertarik dengan gaya mengekspresikan diri macam ini. Padahal mengekspresikan diri juga bisa menjadi salah satu jalan buat menemukan passion. Karena sebenarnya saat berbicara dengan lawan bicara yang bukan manusia. Ia sedang bermuhasabah dan mencari jati dirinya sendiri. 

Mungkin Kakak punya cara sendiri dalam mengekspresikan diri. Cuma akunya aja yang nggak tahu. Semoga. 


Hobi mendaur ulang

- Belajar Hal Baru

Aku suka coba-coba resep kue. Kalau ada resep yang unik. Aku suka penasaran pengin mencobanya. Namanya juga coba-coba. Kadang berhasil, kadang nggak. Tapi kalau makanan mah, biar hasilnya nggak sesuai youtube. Tetap aja masih bisa dimakan, kecuali gosong dan rasanya pahit. Wkwkw.

Eh, ternyata Kakak suka dengan dunia perbakingan ini. Bulan puasa kemarin, Kakak berhasil menjual kurang lebih lima belas toples crunchie chesse cookiesnya. Resepnya seperti biasa aku ambil dari youtube.

Setelah Kakak punya label nama cookiesnya sendiri. Aku sekarang rajin mencari resep unik buat Kakak. Biar Kakak punya produk baru selain kue kejunya itu. Lumayan semangat dia. Dan aku senang.

Baca Juga: Mengembangkan Jiwa Wirausaha Di Masa Pandemi  

2. Manajemen Keuangan

Aku memang bukan ahli perencana keuangan. Tapi sejauh ini Alhamdulillah, aku dapat mengatur keuangan rumah tangga sampai bebas riba sebelum waktunya selesai.

Bukan hal mudah pula untuk dijalani ketika mempunyai uang di tangan, lalu godaan marketplace hilir mudik di dalam genggaman. Seperti yang dialami oleh Kakak. Kakak yang punya uang hasil penjualan kue ditambah uang lebaran yang didapat. Pastinya gatel banget tuh, tangan kepengin beli ini dan itu.

Meski mulut udah bawel banget dari zaman jebot, kalau dia tuh, kudu bisa membedakan mana kebutuhan dan keinginan. Tapi ya, gitu. Belum berhasil 100%. Ada aja barang yang dijemput di pos satpam depan komplek rumah. "Mumpung 99 perak nih, Mah." Gitu alasannya.

Maunya sih, mulut merepet lagi. Tapi, ya sudahlah. Kan, dalam penghasilan yang didapat nggak melulu semuanya kudu disimpan. Penting mah, Kakak udah menyisihkan lebih dari sebagian keuntungan jualan, dah. Jadi bisa buat diputar modal jualan lagi.

Baca Juga: Menabung Asyik Ala Emak-Emak

3. Bergabung dengan komunitas

Waktu Kakak di semester awal kuliah, sempat tuh, bergabung dengan organisasi YOT (Young On Top). Dua tahun Kakak terlibat dengan berbagai event yang diadakan oleh YOT. Kepercayaan diri Kakak mulai tumbuh. Secara Kakak kan, orangnya introvert dan sering insecure kalau berada di lingkungan baru.

Sayang, setelah dua tahun berada di sebuah organisasi. Bekas-bekasnya nggak kelihatan lagi. Kakak mulai nggak PD dan jumlah pertemanannya pun nggak bertambah banyak.

Melihat Mamaknya sibuk ikut zoom sana-sini ternyata nggak membuatnya tertarik. Padahal Kakak tahu kalau Mamaknya gabung di grup wa komunitas lebih dari lima. Meski seringnya SR (silent reader). Stt, jangan bilang-bilang Kakak, kalau Mamaknya juga punya masalah insecure (dikiiiit, kok).

Padahal komunitas tempat berbagi dan mendapat ilmu dari orang-orang yang berpengalaman dibidangnya. Mana gratisan lagi ilmunya. Tapi Kakaknya belum tertarik bergabung dengan komunitas. Padahal komunitas juga kan, bisa jadi target pasar, yak?

Masa yang jadi mentor Mamaknya doang. Kakak juga kan, butuh mentor dari luar (gaya beud dah guweh, mentor wkwkw).

Baca Juga: Tetap Produktif Meski Diam Di Rumahl

Semoga Kakak baca tulisan ini. Jadi aku nggak perlu ceramah dan nggak bikin pegel mulut.

Poin berikutnya akan bertambah seiring perkembangan situasi dan kondisi. Setidaknya, tiga poin di atas adalah pondasi untuk mencapai 100 juta. Syukur-syukur sebelum mencapai usia 25 tahun angka di rekening Kakak bisa mencapai segitu. Aamiiin.

Soalnya, kalau mengandalkan gaji dari pekerja kantoran mah, susah didapat. Apalagi sekarang masih mencari kerja. Dan mencari kerja di situasi pandemi kayak gini saingannya berat. Profesional yang dirumahkan, lulusan sebelum Kakak, dan lulusan angkatan Kakak. Semuanya mencari kerja.

Tapi, pencapaian usia 25 tahun setiap orang berbeda. Kesuksesan seseorang waktunya tidak sama. Selagi usaha dan semangat tetap hidup. Keidealan pencapaian di usia 25 tahun, sebetulnya telah diraih.

Angka bukan sebuah ukuran keberhasilan. Karena setiap usaha tidak selalu diukur dengan angka. Kalau kebutuhan sudah mencukupi alias kalau ada butuh selalu ada dan nggak punya utang. Berarti hidup bahagia sudah tercapai.

Jadi, idealnya usia 25 tahun menurut Sahabat Desi's Corner seperti apa?










Saturday, May 8, 2021

Mau Usaha Dari Rumah? Simak Cerita Usaha Masakan Rumahan Dapoerasatoe

May 08, 2021 12

Dapoerasatoe

Bingung mau usaha dari rumah? Simak cerita usaha masakan rumahan Dapoerasatoe ini. Semoga dengan cerita usaha yang bakal dituturin ini. Sahabat Desi's Corner mendapat pencerahan ide untuk memulai usaha.

Dapoerasatoe apaan, sih?

Dapoerasatoe itu solusi makan dengan rasa rumahan buat ibu yang nggak sempet masak, kurang bisa masak, yang mau nyontek masakan, malas masak (tunjuk hidung sendiri), atau mungkin butuh pelarian dari rutinitas masak keseharian alias butuh istirahat dari dapur sesekali.

Dapoerasatoe menyediakan masakan rumahan yang sehat dengan mengutamakan kualitas. Bahan baku masakan yang digunakan adalah sayuran dan lauk pilihan. Agar kita para ibu tetap merasa aman ketika menghidangkan makanan untuk keluarga. Karena masakan yang sehat tanpa pengawet dan pewarna adalah salah satu syarat utama dari sekian banyak syarat, agar tubuh tetap sehat.

Mari kita mengenal lebih dekat masakan rumahan Dapoerasatoe, yuk! Mulai dari pilihan nama brandnya, menu yang dimasak, menu andalannya, bagaimana cara memasarkannya, bahan masakannya beli dimana, atau informasi lainnya.

Sebetulnya bahan tulisan dari temanku ini didapat hampir dua mingguan. Tapi ya gitu. Orangnya kan super duper sibuk. Tanya jawabnya aja sampai makan waktu mingguan. Pas bahan ceritanya komplit. Eeh, yang nulisnya angot-angotan. Rebahan vs semangat yang menang ya, rebahan.

Kembali lagi ke topik utama, biar nggak ngalor-ngidul ceritanya.

Mau tahu kenapa namanya Dapoerasatoe? Pemiliknya yang bernama Windiastuti bilang kalau Dapoerasatoe itu nama singkatan dari nomor rumah. Blok A No.1. Sedangkan arti Dapur, ya karena kegiatannya memang memasak. Agar terbaca unik dan beda dari yang lain. Ejaan yang dipakai bukan PUEBI tapi ejaan lama yang belum disempurnakan.

Sedangkan merek dalam bentuk stiker dari masakan rumahan ini. Mempunyai arti yang mudah dimengerti sebagai pengenal produk. Coba aja dilihat stiker di bawah ini. Apa arti dari gambar tudung saji yang mengepulkan asap menurut Sahabat Desi's Corner?

Logo Dapoerasatoe

Sedangkan warna hijau sebagai dasar warna stiker tersebut, jawaban dari anak perempuan satu-satunya dalam keluarganya itu diawali dengan tertawa, "karena hijau warna favoritku. Nabi Muhammad kan, warna kesukaannya juga hijau. Berharap usaha yang aku jalanin ini membawa berkah selalu, baik untukku dan juga pelangganku."

Lah, samaan dong, Bu. Warna favoritku juga hijau selain oranye. Tos lah kita, wkwk.

Baca Juga: Tetap Produktif Meski Diam Di Rumah

Pandemi, Hobi, Peluang, dan Inovasi

Nggak menyangkal lah ya, kalau pandemi membuat banyak orang harus beradaptasi dengan kebiasaan baru. Mulai dari belajar daring, bekerja dari rumah, belanja dari rumah alias pesen sayur dan lauk sama Babang Sayur lewat WA, sampai arisan yang kocoknya pakai laptop kayak di komplek rumahku. Padahal arisan kan diadakan buat kumpul-kumpul, yak?

Bahkan di masa pandemi gini, banyak orang yang hobinya bermunculan. Sangking kelamaan diam di rumah dan untuk mengusir stres. Dari tahun lalu sampai hari ini, kegiatan menanam masih ngetrend. Sampai-sampai tanaman yang bernama Janda Bolong naik daun. Harganya bisa sampai kebeli mobil.

Buat aku mah, tanaman Janda Bolong bikin stres bukan mengusir stres. Mending tanam cabai dah, aku mah. Ada yang samakah hobinya denganku?

Hobi yang sedang naik daun selain tanaman adalah memasak. Di masa pandemi, banyak ibu mencari aman untuk asupan makanan keluarganya. Selain hemat juga pastinya sehat. Lagipula nggak gampang mencari dan membeli masakan yang sehat, tanpa pengawet, bahan berkualitas dan fresh di saat sekarang ini.

Momen seperti inilah yang dilihat dari Ibu dua anak yang salah satunya adalah balita. Terlebih balita yang berusia hampir empat tahun itu hobi banget sama jajan. Kalau bukan masa pandemi sih, cingcay aja jajan. Lah, kalau lagi musim corona begini? Nggak ada jaminan kita keluar rumah bakal aman dari virus. Terlebih anak-anak yang senang banget dengan apa yang dilihat terus pengennya dipegang-pegang.

Agar anak-anak betah di rumah dan nggak jajan. Akhirnya, rutinitas masak yang juga hobi dari perempuan asal Banjarnegara ini. Membuat bakso tahu, camilan kesukaan anak-anak.

Sebagai emak-emak yang terbiasa berjualan. Eh, iya, Ibu yang juga teman pengajianku ini. Sebelum pandemi adalah pemilik brand Karalla Kids. Produk fashion khusus untuk anak-anak dan remaja. Jadi, wajarlah ya, kalau melihat sesuatu yang sekiranya bisa menjadi sumber penghasilan. Di atas kepalanya langsung ada lampu bohlam bersinar terang "cling".

Alkisah itu bakso tahu yang dibuat untuk camilan anak-anak, ditawari ke Ibu-Ibu komplek rumah lewat wa grup. Gayung bersambut, baik ibu-ibu rumah tangga tulen maupun ibu-ibu ranah publik yang bekerja dari rumah, suka banget dengan penawaran Ibu anak kedua dari tiga bersaudara ini.

Nggak tanggung-tanggung, dalam satu hari bisa terjual 300 - 400 buah tahu bakso, bo'. Wow aja atau wow banget, tuh? Niat iseng-iseng cuma buat konsumsi keluarga aja. Malah bisa jadi buat konsumsi keluarga komplek. Keren banget ini, mah.

Salah satu kunci berusaha adalah jeli melihat peluang. Begitu bakso tahu mendapat respon baik dari ibu-ibu komplek. Ibu penyuka yoga ini langsung tancap gas dan tidak menyia-nyiakan pintu yang sudah terbuka. Mulailah BunWin, panggilan akrabku padanya memberanikan diri menawarkan masakan siap santap dengan sistem PO (Pre Order) setiap hari. Seperti ayam bakar kalasan, ayam woku dan teman-teman masakan lainnya.

Menu Dapoersatu

Momen yang pas banget, kan? Pas kita dianjurkan membatasi gerak keluar rumah oleh pemerintah. Pas juga dengan tawaran makanan siap santap diantar ke rumah. Lebih cepat dari ojek online malah ๐Ÿ˜‚.

Pandemi memang membawa berkah bagi orang-orang yang kreatif dan penuh inovasi. Dengan berkegiatan di dalam rumah pun. Rezeki akan selalu ada bagi yang berusaha (tepuk pipi sendiri biar sadar ๐Ÿ˜).

Nggak terasa udah satu tahun aja. Dapoerasatoe memenuhi panggilan meja makan pelanggannya. Semakin hari, menunya pun semakin bertambah. Sistem PO nya memang TOP B.G.T dah Ibu satu ini.

Baca Juga: Ini 5 Sebab Kalau Nekat Mencoba Yo'Qta

Masakan Rumahan Dapoerasatoe

Aku paling suka kalau cari masakan itu yang rasa dan jenis masakannya seperti rumahan. Seperti tumisan, sayur sup, ayam goreng atau bakar. Mungkin sama lah ya, seperti ibu-ibu yang lain.

Nah, masakan rumahan Dapoersatoe menunya kayak sehari-hari yang ibu-ibu suka masak. Oseng-oseng, sup kimlo, krecek, sayur lodeh. Kalau lauk dari ayam sih, macam-macam. Mau ayam panggang, woku, rica-rica, kalasan, bahkan rendang ayam juga ada. Atau mau lauk ikan? Ada juga, seperti ikan tongkol dan kembung balado, pesmol ikan nila, ikan dan cumi cabe ijo sampai telur ceplok kecap.

Menunya banyak banget, deh. Kalau ditulis satu-satu, ntar ulasan masakan rumahan Dapoerasatoe ini, jadi daftar menu lagi. Tapi, kata Ibu penyuka jalan kaki ini. Ayam bakar kalasan menjadi top request di antara menu harian lainnya. Sedangkan sup kimlo dan sup kembang tahu top requestnya buat anak-anak.

Aneka camilan buat anak-anak dan ibunya biar semangat belajar dan mengajar juga ada. Selain tahu bakso, risoles, asinan, lontong isi atau mau soto mie bogor. Soto mie buatku mah, masuknya camilan ๐Ÿ˜‹.

Sedangkan di bulan Ramadan ini. Hadir menu baru untuk menambah keceriaan berbuka puasa. Yaitu kolak ubi, pisang, campur kolang-kaling. Bahan-bahan yang digunakan tentunya organik dan bukan santan sebagai kuah kolaknya. Jadi kalau makan, nggak merasa berdosa sama tubuh ๐Ÿ˜Š.

Atau barangkali mau coba es dogernya? Pas banget buat buka puasa yang siang harinya panas banget. Tapi tetap ingat ya, Sahabat Desi's Corner. Buka puasanya tetap minum air putih dulu. Jeda. Baru deh, serbu es dogernya. Untung tulis tentang es ini, malam-malam. Jadi nggak dosa ngebayangin segarnya es doger ini.

Ramadan Dapoersatoe

Soal kehigienisan, Insha Allah aman. Teman sepengajianku ini masak sendiri di rumah dibantu oleh beberapa asisten. Terlebih pasokan bahan-bahan yang digunakan juga dikirim dari supplier tetap. Jadi, kualitas hasil masakan akhir pun tetap konsisten.

Baca Juga: Buka Usaha Di Tengah Pandemi? Begini Kiatnya Agar Kamu Berhasil

Media Berjualan

Seperti pada umumnya zaman serba medsos sekarang ini. Maka Dapoerasatoe pun mempromosikan menu hariannya melalui instagram. Berbagai foto aneka masakan terpampang menggugah selera di sana.

Mau langganan? Bisa. Jadi kayak catering gitu. Waktu aku main ke rumahnya. BunWin ini bilang, ada orang tua yang sudah berlangganan catering hampir sama dengan usia Dapoerasatoe ini.

Ceritanya, anak dari orang tua ini yang memesan lalu dikirim ke rumah orang tuanya. Maklum anak orang tua ini bekerja dan tidak cukup waktu untuk masak. Terlebih usia orang tuanya sudah lanjut dan banyak makanan yang dipantang.

Untuk menjangkau pemasaran dan lebih dikenal oleh masyarakat luas. Masakan rumahan Dapoerasatoe juga dapat dipesan melalui gofood dan grabfood.

Atau Sahabat Desi's Corner dapat menyimpan nomor gawai berikut +62 813-8507-0386. Setelah nomor tersimpan, maka menu harian Dapoersatoe akan terlihat melalui status whatsapp Ibu berkacamata ini.

Kayaknya menulis ulasan atau review usaha di blog kayak gini juga termasuk ke dalam media berjualan. Iya, kan? Wkwk.

Baca Juga: Usaha Batik Tak Lekang Oleh Waktu.

Tips Usaha Ala Dapoerasatoe


Tips Usaha Dapoerasatoe

1. Mulailah dari Hobi

Usaha bukan tentang soal untung saja. Akan ada banyak sekali liku-liku yg dihadapi.
Setuju banget dengan kalimat ini. Sesuatu yang dijalani karena hobi lalu menjadi passion. Maka tantangan dan hambatan akan bisa dilalui. Ibarat buta karena cinta. Hal sesulit apapun pasti dihadapi. Gunung kan kudaki, laut pun kan kusebrangi.

2. Menjaga Hubungan Baik dengan Supplier

Supplier penting banget buat usaha jenis apapun yang kita jalani. Bayangin aja kalau kita nggak care sama mereka. Bisa-bisa apa yang kita butuhkan dibikin susah oleh mereka.

Terlebih bahan-bahan masakan yang digunakan oleh Dapoerasatoe adalah bahan organik. Terkadang susah juga lho, mencari bahan-bahan tersebut. Tapi kalau hubungan kita dengan supplier berjalan baik. Maka mereka akan bantu untuk mencarikan bahan masakan yang akan digunakan.

Hubungan baik seperti apa? Pastinya Sahabat Desi's Corner lebih tahu lah, ya. Mungkin pepatah pembeli adalah raja, sepertinya jangan terlalu diterapkan dalam hubungan antara supplier dan pembeli. Karena kedua belah pihak, penjual dan pembeli sama-sama saling membutuhkan.

3. Jujur dengan Pembeli

Tahu dong, kalau kita baru saja menghadapi harga cabai yang nggak masuk diakal tapi sungguh terjadi. Harga cabai khususnya rawit setan sampai menyamai harga daging sapi bo'.

Nggak main-main kenaikan harga cabai ini, sampai membuat warteg tutup tidak berjualan. Sebab warteg tutup dikarenakan hampir semua masakannya menggunakan cabai rawit setan ini. Dan pihak warteg tidak dapat menaikkan harga jual karena pertimbangan pembeli banyaknya dari kalangan bawah. Itu yang kudapat dari berita di tv.

Begitu juga dengan Dapoerasatoe yang ikut merasakan dampak dari kenaikan harga bahan pokok ini. Demi mempertahankan kualitas, masakan rumahan Dapoerasatoe tidak mengurangi takaran bumbu masakan yang menggunakan cabai. Akhirnya pun berdampak pada kenaikan harga jual.

BunWin sebagai pemilik Dapoerasatoe memberikan penjelasan kepada pembeli tentang kenaikan harga jual ini. Menurutnya, pembeli pun menerima dan mengerti akan hal tersebut.

4. Bagilah Waktu Antara Keluarga dan Usaha

Usaha yang dimulai pada masa pandemi pastinya memiliki tantangan tersendiri. Seperti anak-anak yang sekolah daring dan menuntut pendampingan dari orang tua. Sedangkan Ibu yang ramah ini harus memulai aktivitas memasak di jam yang sama dengan anak sekolah.

"Saya pastikan Kakak masuk sekolah dulu (login). Lalu saya tinggal dan pergi ke dapur. Awalnya memang repot, harus kontrol anak-anak dan dapur. Tapi setelah ketemu ritmenya, lama kelamaan mereka terbiasa dengan aktivitas pagi ibunya. Malahan Kakak sudah mulai bisa membantu pekerjaan saya. Seperti, mengantar pesanan ke sekitaran komplek rumah."

Hitung-hitung melatih anak tentang entrepreneur juga mengenal tetangga sekitar rumah ya, BunWin ๐Ÿ˜Š.

Begitu deh, cerita tentang tetanggaku yang produktif banget di masa pandemi. Ternyata memulai sebuah usaha itu gampang. Tinggal cari yang sesuai hobi aja (gampang beud dah, ah, guweh ngomongnya). Padahal aku sendiri juga masih mencari jenis usaha yang mau dijalanin.

Masakan rumahan Dapoerasatoe contohnya. Berasal dari masakan keseharian. Terus dijual, deh. Enak banget, kan? Hasil dari masakan bisa buat masak kebutuhan keluarga juga. Malah dapat untung lagi.

Baiklah kalau begitu. Sepertinya aku harus menepi dan menyendiri. Merenungi sekian banyak hobi yang aku bisa. Lalu menyortirnya, kira-kira mana yang bisa aku jadiin usaha (gaya dulu, hasil belakangan wkwkw). Kali aja bisa berhasil seperti tetanggaku ini, Dapoerasatoe.

Semoga Sahabat Desi's Corner tercerahkan dengan cerita ini, ya. Kalau mau mengenal lebih jauh masakan rumahan Dapoerasatoe ini. Bisa dilihat di IG @dapoerasatoe.














Tuesday, April 20, 2021

3 Tips Membeli Cokelat Batangan Terbaik Agar Hasil Olahan Kue Oke

April 20, 2021 12
Quote cokelat inspiratif

Ada yang sudah ancang-ancang menyambut lebaran? Nggak apa, kan, kalau cuma tanya meski puasa baru masuk minggu kedua. ๐Ÿ˜

Secara Mamak-Mamak macam aku mah, bulan puasa belum masuk aja suka bikin rencana duluan. Seperti, mau jualan apa buat ngabuburit atau mau bikin kue apa buat menyambut lebaran. Meski sering kali realisasinya mah, ke laut aja tuh, rencana. ๐Ÿ˜…

Malah sebelum pandemi, puasa belum mulai, udah beli baju lebaran. Nggak usah dijelasin, Sahabat Desi's Corner tahulah ya, sebabnya. Terutama sesama Mamak-mamak. Tahu sama tahulah kita, ya.

Nah, berdasar prolog diatas. Jadi, ceritanya, adik perempuanku kan, puasa tahun lalu jualan kue kering. Terus pas aku dapat jawaban dia mau jualan kue lebaran lagi tahun ini. Aku bilang sama dia, kalau aku mau nebeng kue bikinan aku untuk barengan dijual. Gayung bersambut, dia oke-in penawaranku.

Baca Juga: Tetap Produktif Meski Diam Di Rumah

Antara Kue Cokelat dan Bola Keju Krispi

Ramadan sebelumnya, aku mencoba membuat kue bola keju krispi. Buat konsumsi pribadi, sih. Selain ovennya aja boleh pinjam Ibu Mertua. Itu juga cuma trial resep hasil googling. Jadi, ya bikinnya juga cuma dua toples.

Eeh, tetanggaku bilang, temanku bilang, anakku juga bilang, kalau kuenya enak. Malah ada yang pesan dua toples. Rencana nggak ada niat jualan. Ya, masa rezeki ditolak. Cuz lah langsung diterima dengan tangan terbuka.

Itulah sebabnya dalam menyambut lebaran tahun ini. Aku ingin berjualan kue bola keju krispi lewat adikku. Tapi ada kendala nih, oven tangkringnya udah dikembalikan ke Ibu mertua. Mau pinjam, takut adik iparku mau pakai untuk bikin kue juga. Secara pandemi belum kelar tahun ini. Bikin kue lebaran sendiri pastinya lebih hemat.

Ya sudah, aku putuskan untuk membuat kue yang lain. Dan pilihanku dari sekian banyak resep, sepertinya bola kurma kacang cokelat, oke juga. Selain bahan yang digunakan cuma sedikit. Membuatnya juga nggak perlu pakai oven. Nggak ribet, nggak butuh perabotan masak banyak, dan nggak butuh waktu lama buat bikinnya.

Coba ikutan bikin yuk, Sahabat Desi's Corner. Ini resepnya yang kudapat dari YouTube:

Bahan yang dibutuhkan:
1. Kurma - 150 gram
2. Kacang tanah atau jenis kacang lainnya) - 100gr
3. Cokelat batangan - 100 gram

Cara membuat:
1. Potong kurma menjadi ukuran kecil
2. Sangrai kacang
3. Lelehkan cokelat batangan selama sepuluh menit (proses akhir)

Proses selanjutnya:
1. Masukkan kurma dan kacang ke dalam chopper. Setelah selesai penyatuan kurma dan kacang. Bentuk bulat adonan yang besar bulatannya sesuai selera Sahabat Desi's Corner. Sisihkan.
2. Lelehkan cokelat selama sepuluh menit.
3. Celupkan bola-bola kacang dan kurma ke dalam cokelat. Tutupi dengan sempurna. Letakkan diatas piring atau wadah lainnya. Biarkan dingin dan cokelat mengeras. Lalu masukkan ke dalam kulkas untuk hasil yang sempurna. Terus, tata cantik di toples, deh. Tara! Jadi, deh, bola kurma kacang cokelatnya buat suguhan lebaran.

Bola cokelat kurma kacang
Foto: Unsplash


Baca Juga: Lebaran 50:50

Cokelat Batangan

Cokelat yang digunakan nanti, kan, cokelat batangan, tuh. Sahabat Desi's Corner tahu dong, cokelat batangan itu apa. Iya, cokelat blok atau batangan yang buat kue itu. Yang bisa dibuat minuman atau dimakan langsung. 

Sekarang kan, banyak banget, tuh cokelat yang beredar di pasaran. Jadi kita gampang ngedapetinnyaUdah gitu harganya juga ngikutin kantong. Mau hasil akhir rasa yang kayak gimana. Ya, tergantung budget dan target pasar yang dituju.

Itulah kenapa aku pilih cokelat. Selain tentunya semua kalangan usia banyak yang suka sama makanan jenis cokelat ini.

Ngomongin target pasar. Rencananya aku mau bikin kue bola kurma kacang cokelat ini dengan kualitas dan rasa yang oke. Selain mencari untung, kepuasan pelanggan juga nggak boleh diremehin. Karena kepuasan pelanggan nggak bisa dinilai dengan materi.

Kualitas cokelat dan harga, pastinya harus berimbang. Agar hasil olahan kue berbahan cokelat ini nantinya memuaskan. Nah, mau tahu kan, bagaimana cara mendapatkan cokelat yang oke ini.

Tips memilih cokelat blok yang harus diperhatikan:

1. Merek

Tips pertama yang bisa kita gunakan adalah dengan melihat merek cokelat blok yang bakal kita beli. Tahu kan, kalau di pasaran itu banyak banget merek cokelat yang bikin kita bingung buat memilih.

Soalnya nanti, merek yang dipilih ini, bakal memengaruhi kualitas dari proses akhir kue yang akan dibuat. Entah itu rasa atau bahkan tekstur yang kurang sesuai dengan keinginan. Oleh sebab itulah, penting bagi kita untuk memilih merek cokelat dengan membandingkan komposisi dan rasa yang ditawarkan untuk mendapatkan cokelat batangan yang sesuai keinginan kita.

2. Ukuran yang dibutuhkan

Tips mudah selanjutnya untuk memilih cokelat blok adalah dari ukuran yang dibutuhkan. Di pasar nanti, kita bakal menemukan ukuran cokelat blok yang beragam. Baik yang ukurannya kecil, sedang, hingga yang besar. So, pilihlah cokelat sesuai dengan kebutuhan.

Misal, bagi yang menggunakannya untuk keperluan pribadi, maka pilihlah ukuran kecil yang ditawarkan di minimarket. Sedangkan untuk kebutuhan usaha, baiknya memilih yang ukuran besar, supaya lebih hemat. Persis mottonya Mamak, hemat is the most important thing to buy something. ๐Ÿ˜

3. Tempat membelinya


Cokelat batangan


Tips terakhir untuk membeli cokelat blok adalah dari tempat membelinya. Kalau untuk usaha, sebaiknya sih, pilih cokelat bloknya yang ukuran besar. Dan itu bisa ditemui di toko bahan kue, seperti di TokoWahab. Di sini kita bisa membelinya secara online dengan banyak pilihan cokelat blok yang dapat dipilih. Mulai dari merek Colatta dan Tulip dengan harga 300 hingga 700 ribu rupiah.

Cocok banget, kan, di musim pandemi kayak gini. Sambil rebahan, bisa order cokelat. Pas di dapur, cokelatnya datang, deh.

Jadi, bagaimana? Kita coba bareng yuk, resep kue bola kurma kacang cokelatnya! Kali aja rezeki buat lebaran memang lewat usaha ini. Jangan lupa memilih cokelat bloknya pakai tips yang di atas tadi, ya. 

Selamat menjalankan ibadah puasa dan mencoba resep. 







Wednesday, April 14, 2021

Begini Ceritaku dari Workshop Detox Emosi Jelang Ramadhan

April 14, 2021 24

Detox Emosi

Mbak Diah membimbing kami, para peserta workshop Detox Emosi untuk mengolah dan mengelola amarah yang ada dalam diri kami.


Aku yang duduk sendiri di ruang makan dengan mata terpejam. Beberapa kali mengusap air mata yang tidak tertahankan mengalir keluar dari dua mataku.

 

Detox Emosi Jelang Ramadhan

Hari Minggu adalah hari santai. Meski sebetulnya setiap hari bagiku adalah santai. Rebahan depan tv sampai akhirnya tv yang menonton diriku.

Kurang lebih dua puluh menit, aku terbangun dari tidurku. Memang seperti itulah istirahat tidur siangku. Jarang sampai berjam-jam. Meski hanya satu jam pun, aku jarang sekali mendapatkannya.

Pukul 01.05 aku terbangun dan langsung teringat Rembo yang belum makan siang. Segera kukeluarkan makanan kaleng Rembo dari kulkas.

Ketika sedang menyuapi makan siang Rembo. (Just information ya, Sahabat Desi's corner. Anabul (anak bulu) putih berusia hampir delapan bulan ini. Kalau makannya nggak disuapin, makannya nggak habis). Aku melihat jam di gawaiku, pukul 01.18. Alamak! Aku telat.

Acara workshop yang diselenggarakan oleh Female Digest dan ISB ini dimulai pukul 01.00. Dan aku telat. Sambil menyuapi Rembo makan, aku buka grup WA untuk mendapatkan link zoom workshop Detox Emosi Jelang Ramadhan.

Alamak! Untuk kedua kalinya aku panik. Panik karena komitmen untuk hadir tepat waktu dalam zoom meeting, aku ingkari. Aku lupa kalau aplikasi zoom sudah dihapus dari gawaiku. Sudah terlambat, belum mandi, belum salat, dan harus instal aplikasi zoom dulu.

Padahal sehari sebelumnya, aku sudah memperingati diri sendiri. Jangan sampai aku telat hadir untuk workshop yang diadakan oleh Female Digest ini.

Kapan lagi bisa ikut workshop selama dua jam, free, dan ada sesi praktiknya juga. Ditambah pemberi materinya adalah dua orang profesional, psikolog sekaligus psikoterapis.

Bulan Ramadhan bukan aja disambut dengan munggahan. Tapi hati yang plong tanpa beban juga kudu disiapin. Biar ngejalanin puasanya khusyu tanpa ada beban yang mengganjal di hati.

Untung acaranya telat ๐Ÿ˜. Aku masuk kelas pas Teh Ani, ketua Komunitas ISB baru masuk ke sesi perkenalan.

Baiklah, aku memutuskan untuk membersihkan badan dengan membawa gawai ke dalam kamar mandi. Eeh, sinyal wifinya menolak kerjasama. Terputus bo' zoomnya waktu mau join kelas lagi. Layar gawai cuma memperlihatkan kursor yang berputar-putar. Ya, udah, lanjut mandi, sambil menunggu di accept masuk kelas.

Benar saja, selesai mandi, aku sudah berada di dalam kelas zoom yang acaranya sudah dimulai. Kang Dandi yang bernama lengkap Dandi Birdy sekaligus founder Biro Psikologis Dandiah menjadi pembicara pertama.

Workshop yang diikuti oleh 34 peserta terlihat bersemangat. Termasuk aku, yang membawa "beban".

Baca Juga: Tetap Produktif Meski Diam di Rumah

Bayangan Masa Lalu Mengiringi Langkah Masa Kini

Segera aku salat dzuhur terlebih dahulu, sebelum semuanya terlambat. Sambil mengenakan bawahan mukena. Aku menyimak slideshare yang dibawakan oleh Kang Dandi. Menarik. Lalu aku pun menaruh gawai ke dalam tumpukan keranjang pakaian untuk meredam suaranya.

Duh, beneran, deh. Perbuatan nggak terpuji banget deh, aku. Ngaku, seriusan. Salatnya memang nggak tergesa. Tapi pikirannya melayang dengan presentasi yang kena banget di hati.

Ransel emosi

Kang Dandi betul 100%. "Beban" yang dibawa oleh kita sungguh teramat berat. Namanya juga psikolog. Analisa tentang kesehatan mental seseorang secara umum pastinya mendekati benar.

Beban atau ransel yang dibawa di pundak kita, kalau tidak dikurangi, akan membuat langkah kita semakin berat. Yang ada langkah kita menjadi pelan dan akhirnya cita-cita masa depan semakin jauh untuk dicapai.

Memang isi ransel itu apa aja, sih? Isi ranselnya adalah berbagai macam frustasi yang kita alami. Ransel ini tidak terlihat oleh mata awam. Kita tidak dapat melihat luka batin seseorang, meski orang tersebut tertawa dan terlihat bahagia.

Luka batin yang seperti apa? Luka batin tersebut bisa berupa luka karena pengasuhan, luka karena ditinggal orang terkasih, luka yang dibuat oleh pasangan atau mantan, luka yang dibuat oleh diri sendiri (self blaming), atau bisa juga luka karena perundungan (di kantor, komunitas, atau lingkungan sosial dimana kita berada).

Luka batin yang ditumpuk dalam ransel tersebut akan membentuk emosi. Kalau yang ditumpuk kertas berharga sih, nggak apa, ya? Lah, kalau emosi yang ditumpuk, bakal jadi apa dunia ini?

Sekarang aja kalau lihat berita di tv. Berita pembunuhan dan tindakan kriminal lainnya selalu ada. Nggak habis pikirnya akutu, penyebabnya cuma hal sepele aja.

Tapi ya itu tadi. Luka yang bertumpuk adalah penyebab emosi seseorang akhirnya tidak terkendali dan meledak.

Baca Juga: Mengembangkan Jiwa Wirausaha di Masa Remaja

Bagaimana Cara Mengolah dan Mengelola Amarah?


Amarah tersimpan

Materi seru tapi suara motor berhenti di depan rumah bikin buyar konsentrasi. Bapake sama anak wedok pulang. Pas lihat jam di dinding, eeh, udah waktunya masak.

Padahal sebelum acara dimulai. Dua D (Mbak Diah dan Kang Dandi) udah mewanti-wanti, kalau pas workshop kudu fokus. Tapi, meski disambi masak enteng dan ekspres alias goreng-goreng dan masak nasi. Presentasi ibu dengan tiga orang anak ini, bikin aku baper. Terus ujung-ujungnya, aku mengusap sudut mata yang rembes dengan lengan daster.

Dengan gawai di kantong daster dan headset di telinga. Suara Mbak Diah yang membawakan materi mengolah dan mengelola amarah bersaing dengan suara minyak panas karena menggoreng.

Istri dari Kang Dandi yang juga seorang psikolog dan psikoterapis ini memberikan cara agar kita dapat melepaskan emosi dalam diri.

Tahapan Pelepasan Emosi dengan Konsep 4A:

1. Aware

Disini kita tahu luka apa yang sedang dihadapi. Dan kita juga tahu siapa yang membuat luka itu. Tapi apakah kita sadar, seberapa dampak dari luka yang ada tersebut pada diri kita?

2. Accept

Setelah kita sadar akan luka yang menyebabkan emosi dalam diri tersebut. Seperti marah, kecewa, sakit hati, atau juga dendam. Maka sebaiknya semua emosi itu kita terima, jangan disangkal. Alirkan dan luapkan semua rasa emosi yang ada dalam diri di ruang terapi dengan Self Healing Therapy (SEHAT) with Depth.

3. Allow

Tahap pelepasan emosi ketiga adalah tentang memperbolehkan diri akan luka, apakah luka itu akan disimpan atau dilepaskan? Semua pilihan ada ditangan kita sendiri dengan segala konsekuensinya.

4. Away

Melepaskan segala emosi akan luka yang ada dalam diri dengan cara memaafkan.

Kata maaf memang cuma empat huruf. Tapi buat pelaksanaannya nggak semudah pas ngucapinnya.

Memaafkan menurut Mbak Diah dalam workshop detox emosi yang aku ikuti tanggal 4 April ini, harus mencakup empat tindakan, yaitu:

- Logika

Memaafkan itu kudu menggunakan logika, bukan baper yang berperan. Kalau menuruti baper yang ada luka nggak kering-kering.

Ya Alloh, kayak aku bisa pakai logika aja buat maafin orang. Ya kali, kalau salahnya cuma nggak sengaja senggolan di gang sempit. Kecipratan air hujan sama mobil aja, ngedumelnya nggak berujung.

Tapi kita tetap harus belajar memaafkan. Pelan-pelan aja, mungkin lama-lama logika akan berperan utama dibanding baper.

- Hati

Jangan sampai memberi maaf hanya di bibir tapi hati menolak. Berikan kata maaf dengan tulus dari hati dan ikhlas.

- Ucapan

Ucapkan kata maaf. Istilah kata mah, dengan mengucapkan kata maaf. Itu pertanda kita sudah memberi maaf secara sah heuheu. Bolehlah ditambah dengan berjabat tangan, biar afdol.

- Tingkah Laku

Tunjukkan bahwa kita sudah memaafkan dengan sikap dan tingkah laku. Bilang udah dimaafin, tapi kita cuekin.

Baca Juga: Jemari Menari Di Atas Keypad

Sesi Praktik

Akhirnya waktu untuk praktik tiba. Kantong kresek, tisu, dan bantal adalah perlengkapan yang dibutuhkan selama sesi praktik berlangsung.

Praktik pertama adalah, para peserta diminta untuk melakukan rileks terlebih dahulu dengan metode Butterfly Hug. Yaitu metode untuk self healing therapy atau lebih dikenal teknik pausing and pending.


Butterfly hug


Jadi, teknik butterfly hug itu kayak P3K gitu. Kalau tiba-tiba kita dilanda cemas yang berlebihan atau emosi yang meledak-ledak. Pasti kan, semuanya bakal kacau dan di luar kendali. Nah, untuk mengatasinya menggunakan teknik butterfly hug.

Waktu pas coba sih, lumayan terasa rileks. Mungkin karena efek masaknya kelar. Terus jadinya nggak ada beban lagi. Heuheu, bercanda.

Tapi ini seriusan ✌ butterfly hug bikin hati dan diri jadi santai. Waktu ngelakuin teknik ini, jangan lupa matanya dipejamkan. Terus sambil menarik nafas dari hidung dan dikeluarkan dari mulut secara perlahan.

Tangan kita yang memeluk diri sendiri ini sambil ditepuk-tepuk. Ya, layaknya kalau lagi pelukan gitu. Cuma ini yang ditepuk bukan punggung tapi bagian sisi bawah bahu bagian depan diri kita sendiri.

Praktik kedua adalah dengan cara Tapping. Yaitu dengan memukul-mukul titik yang telah ditentukan dengan menggunakan tiga jari. Biar lebih jelas, bisa dilihat lewat gambar di bawah ini kali, ya.


Teknik tapping theraphy

Praktik tapping ini lumayan menguras emosi. Dan biar lebih leluasa praktik tappingnya. Aku pergi ke atas (dak tempat menjemur pakaian). Kalau terus di duduk di ruang makan. Suami pastinya bakal banyak tanya kalau nanti melihat istrinya mewek sambil ngomong sendiri.

Mbak Diah memang psikoterapis jempolan. Setiap kata yang terucap, selalu aja berhasil mengeluarkan air dari mata. Kok, ya, hampir benar semua kata-katanya.

"Ayo, keluarkan semua uneg-uneg yang mengganjal di hati. Kekesalan, kemarahan, semuanya dikeluarkan. Sebut nama yang bikin teman-teman sakit hati. Caci-maki mereka karena perbuatan mereka pada teman-teman. Kalau mau teriak. Teriak saja." Mbak Diah memberi motivasi pada kami para peserta sambil memberi instruksi titik tapping dan meminta para peserta untuk batuk.
Memang posisiku di atas (dak rumah) jauh dari penglihatan suami dan anak. Tapi kalau aku teriak, bisa bingung nanti mereka. Palingan aku cuma bicara pelan dan berdebat sendiri. Hasilnya, ujung lengan daster basah.

Memang secara agama, aku pasrah akan semua yang terjadi. Dan sampai saat ini pun masih belajar untuk menerima. Tapi dari sisi psikologis, aku belum kelar eung.

Beberapa peserta ada yang terbatuk lalu muntah pada saat mengeluarkan beban yang selama ini dibawa. Ketahuan aku ngintip para peserta lain, deh. Kan, harusnya mata aku merem ๐Ÿ˜

Penutup

Workshop detox emosi jelang ramadhan yang semula hanya dua jam. Jadi mulur melebihi waktu seharusnya. Dan Ibu pemilik Dandiah Care Centre ini sungguh totalitas memberikan materi juga praktiknya meski free.

Semoga setelah pandemi berakhir dan punya rezeki lebih. Aku mau ah, ikut workshop tatap mukanya. Butuh banget workshop detox emosi ini, biar isi ransel yang masih tersimpan sekian tahun lamanya dapat melebur dalam diri alias diterima dengan lapang dada.

Terima kasih Female Digest dan ISB untuk acara workshop Detox Emosi Jelang Ramadhannya. Kerenlah, acaranya. 

Nah, bagaimana Sahabat Desi's corner, mau coba praktik dengan butterfly hug dan tappingnya, nggak? Tapi harus konsisten dan rutin praktiknya, ya, biar hasilnya maksimal.

Kalau mau tahu lebih banyak informasi mengenai Anger Managemen, Luka Pengasuhan, atau butuh psikoterapis dan psikologi. Coba mampir di IG Dandiah Centre. Di IG tersebut Mbak Diah dan Kang Dandi berbagi ilmu mereka seputar detox emosi dan jadwal workshop mereka. 

Kesehatan mental itu sama pentingnya dengan perawatan wajah. Jangan sampai wajah kinclong kita dipakai buat menutupi jiwa yang luka. Ntar aura kecantikannya tertutup, lho. Ya Alloh guweh sotoy banget yak ๐Ÿ˜…