Hati yang Berkurban

Kali ini mau ngobrol sama diri sendiri aja, deh. Suami lagi nggak asik buat diajak ngobrol. Padahal baru ngasih intro obrolan. Belum juga masuk ke inti obrolan. Tanggepannya cuma, "hmm." Malesin, kan?

Mungkin bisa jadi tema yang mau diobrolin nggak menarik. Atau bisa jadi lagi sibuk karena WFH (work from home). Argh, nggak tahu, deh. Soalnya dia pegang gawai terus. Nggak tahu deh apa yang lagi dilihat. Judulnya nggak asik!

Padahal aku tuh pingin tanya pendapatnya seandainya aku seorang Hajar. Ah, sudahlah. Mari kita bahas sendiri aja.

Hajar, nama lengkapnya Siti Hajar. Perempuan hebat dan keren. Kayaknya lebih dari hebat dan keren, deh. Yang jelas Siti Hajar adalah perempuan yang luar biasa sabar dan mulia. Salut aku tuh sama beliau.

Bayangkan andai kau seorang Hajar dimana engkau dicemburui ketika baru saja mempunyai anak. Lalu engkau diminta pergi menjauh dari suami. Padahal, waktu menikahi suaminya itu, istri pertamalah yang meminta. Duh, sakit hati kali ya kalau digituin.

Nggak tanggung-tanggung lagi diminta perginya. Nabi Ibrahim membawa Siti Hajar dan bayi Nabi Ismail yang masih menyusui ke Mekkah. Waktu itu mereka menempuh perjalanan dari Syam ke Mekkah dengan berjalan kaki selama kurang lebih satu bulan. Duh, gimana coba kalau engkau yang alami hal tersebut.

Siti Hajar memang istri pilihan Allah melalui Siti Sarah. Kesabaran luar biasanya pun ditunjukkan ketika beliau bertanya kepada suaminya Nabi Ibrahim ketika akan meninggalkan dirinya di kota yang nantinya akan menjadi kota suci Mekkah.

Hajar mengikuti Nabi Ibrahim dan berkata, “Wahai Ibrahim! Kemana engkau hendak pergi meninggalkan kami di lembah yang tak berpenghuni dan tak ada apapun di sini?” Hajar mengucapkan kata-katanya berulang kali, namun Nabi Ibrahim tidak juga menolehnya. Akhirnya Hajar bertanya, “Apakah Allâh yang memerintahkan hal ini kepadamu?” Nabi Ibrahim menjawab, “Benar.” Hajar menimpali, “Kalau begitu, Allâh tidak akan menyia-nyiakan kami.” kemudian Hajar kembali ke tempat semula.

Duh, asli sedih banget ditinggal begitu aja oleh suami tercinta. Dan ketika jawaban Nabi Ibrahim karena perintah Allah. Siti Hajar langsung ikhlas dan tidak ada bantahan lagi. Ini yang namanya cinta karena Allah. Huhu, pingin bisa seperti Siti Hajar. Cinta kepada Allah adalah diatas segalanya

Siti Hajar yakin kalau karena perintah Allah. Berarti hidupnya dan anaknya Nabi Ismail pasti bakal dijamin oleh Allah. Padahal, Mekkah saat itu masih padang tandus tanpa air setetes pun.

Kesusahan Siti Hajar berbuah manis. Mekkah menjadi sebuah  kota yang makmur karena adanya air zam-zam. Sang suami Nabi Ibrahim pun sesekali datang menjenguk beliau dan anaknya.

Benar-benar kagum dengan akhlak mulia Siti Hajar. Jarang ditengok oleh ayahnya, Nabi Ismail tidak pernah membenci ayahnya. Bahkan Nabi Ismail begitu menyayangi ayahnya. Sampai-sampai Nabi Ismail meminta ayahnya untuk menjalankan perintah Allah untuk menyembelihnya. Padahal perintah Allah itu disampaikan lewat mimpi. Gimana kalau aku adalah Ismail, ya? Sepertinya ku tak sanggup menghadapi semua cobaan yang dihadapi Nabi Ismail.

Sungguh tulisan ini diambil dari berbagai sumber. Kalau tidak ada tema ini, mungkin pengetahuan tentang mulianya Siti Hajar nggak akan sedalam ini. Meski Siti Hajar adalah seorang budak yang kemudian diminta untuk menjadi istri kedua Nabi Ibrahim atas permintaan Siti Sarah. Tetap Siti Hajar tidak besar kepala. Terlebih ketika Siti Sarah cemburu. Siti Hajar rela pergi menjauh. Mulianya Siti Hajar. Nggak bisa berkata-kata lagi akutuh.

Semoga aku dan teman-teman sesama perempuan dapat mengambil pelajaran dari kisah cinta dan kesetiannya pada Allah SWT.


Referensi: 
https://almanhaj.or.id/9814-nabi-ibrahim-alaihissalam-hijrah-ke-mekkah-dan-membangun-kabah.html

Komentar