Saturday, August 22, 2020

Jangan ada Gengsi di Antara Orang Tua dan Anak

August 22, 2020 4
Udah dua hari ini ngintip FB, beberapa teman mejengin keberhasilan anak-anaknya yang lolos ujian masuk SBMPTN. Ikutan seneng sih, pastinya. Secara aku kan kenal mereka. Anak-anaknya juga. Nggak ada yang melarang berbagi kebahagiaan, kan?

Orang tua pastinya bangga dengan keberhasilan atau prestasi sekolah anak-anaknya. Tidak sedikit dari mereka malah membanding-bandingkan anak sendiri dengan anak orang lain. Seakan kesuksesan anak orang lain adalah tolak ukur untuk keberhasilan anak sendiri. 

"Sakit" orang tua seperti ini bakal berimbas pada anak saat mereka besar nanti. Sakit disini bukan sakit fisik, ya. Tapi kesehatan mental atau jiwa yang sakit. Temen-temen pasti mikirnya kalau udah nyangkut mental, berarti sakit jiwa trus gila, dah. Heuheu. Meski sebenarnya, kalau dibiarkan bisa jadi seperti itu, sih. Serius!

Padahal ajang prestasi anak bukan lomba gengsi. Juga bukan ajang lomba keberhasilan orang tua dalam mendidik anak.

Sini, deh, duduk deket-deket. Mau ceritain pengalaman sendiri, nih. Berbagi cerita. Barangkali aja bisa jadi masukkan. Tapi terima krisan juga, deng. Kali aja ada yang kudu dibetulin lagi.

Dulu, kakak itu masuk SD umur 4,5 tahun. Alasan simple nenek yang ngasuh kakak, katanya, "di TK banyak biaya nggak jelas (iyain aja, yak). Kalau hari Sabtu kan suka jemput kakak, kan, tuh. Ya Allah, ternyata badan kakak paling kecil. Udah gitu mengerjakan tugas, pulangnya paling belakangan. Cuma kayaknya kakak nggak ngerasa kali, yak. Alhamdulillah selesai juga SD dengan nilai cukup.

Waktu SMP malah kakak pernah di bully karena paling muda di kelasnya. Nggak mau sekolah waktu itu. Jadi, boro-boro menuntut nilai bagus atau ranking. Mau ke sekolah aja hatiku mah udah seneng banget. Alhamdulillah selesai juga SMP dengan nilai cukup masuk negeri tapi jauh pake banget. Di ujung Bekasi. Dari rumah kudu ganti angkot tiga kali. Dan waktu yang ditempuh kurang lebih satu jam setengah. Itu kalau lancar.

Bisa dibayangkan, pastinya mental kakak ikut capek juga. Konsentrasi belajarnya juga terkadang buyar karena capek. Sampai rumahpun dia langsung masuk kamar. Istilahnya, senggol bacok kalau ditanya-tanya kabar sekolah.

Aku mah nggak menuntut nilai tertinggi di antara siswa di kelasnya. Mau berangkat ke sekolah aja udah seneng. Kan, kalau hati senang, belajar juga jadi enteng.

Kebanggaan anak, kan, nggak selalu dinilai dari nilai raport. Meski memang angka-angka tersebut bisa bikin orang tua bangga.

Mungkin orang tua yang menuntut anaknya harus berprestasi, mempunyai masalah inner child. Jadi pengalaman masa kecil si orang tua dilimpahkan kepada anaknya.

Atuhlah orang tua perbaiki pola didiknya. Jangan sampai salah didik atau asuh dari kecil. Kalau ada masalah yang belum selesai. Sok atuh diselesaikan dulu. Nggak perlu ke psikolog kalau nggak berat-berat amat. Self healing kan bisa. Kalau aku mah bisasanya menulis. Kayak sekarang ini. Tapi, kalau lagi down, biasanya monolog pas lagi nyuci.

Sekarang kakak sedang menunggu wisuda. Eh, kakak kuliah di PTN, lho. UNSIKA (Universitas Singaperbangsa) Karawang. Meski bukan di UI, Unpad, ITB, UNJ, seperti anak-anaknya temen. Aku mah tetap bangga dengan kakak. Bagaimanapun kakak udah lebih baik dari orang tuanya. Dapet PTN dengan IPK yang ngelebihin ibu dan bapaknya.










Thursday, August 13, 2020

Mengenangmu

August 13, 2020 0


Foto: Brilio

"Pah, kenapa nih jalan dinamain Jalan KH Agus Salim?" tanyaku pada suami.

Nggak ada jawaban. Entah karena suaraku yang bertabrakan dengan angin sehingga suaraku terbawa olehnya. Atau mungkin telinga suami yang tertutup helm. 

Pas motor yang dikendarainya berhenti karena kereta bakal lewat. Aku yang diboncengi nanya lagi dong. 

"Pah, kenapa jalan yang kita lewatin ini namanya Jl. KH. Agus Salim? 

"Pertanyaan banget, sih, lo. Ya, jelas-jelas supaya kita inget terus sama jiwa kepahlawanannya." 

"Iya, sih. Tapi orang-orang yang ngelewatin jalan ini tahu nggak siapa KH Agus Salim itu. Selain dia dikenal sebagai pahlawan, lho, ya."

"Harusnya sih mereka cari tahu, lah, ya. Nama para pahlawan dijadikan nama jalan, kan, supaya kita tetap inget jasa mereka. Jas Merah, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Kata Bung Karno, lho, ya. Bapak Agus Salim itu keren. Biar kata tinggi badannya cuma sekuping Bung Karno. Tapi beliau pinter, cerdas, cerdik, juga jago diplomasi."

"Trus trus, mumpung masih berhenti, nih." kuletakkan daguku di atas bahu kanannya. Meski aku dan suami beradu helm. Kereta kalau tengah hari, yang lewat lebih dari satu.

"Lo tahu poligot, nggak?"

"Orang yang menguasai lebih dari satu bahasa, kan?"

"Tumben pinter." Kucubit pinggang suami. Dia cuma mengaduh bercanda. Secara cubitanku kan cuma cubitan sayang.

"Nah, Bapak Agus Salim ini menguasai tujuh bahasa asing, Belanda, Inggris, Arab, Turki, Perancis, Jepang, dan Jerman. Itu selain beliau jadi lulusan terbaik di HBS se-Hindia Belanda, lho."

"Ih, berarti masih muda banget, dong."

"Emang, iya. Lo mah lulus SMA aja, bahasa Inggrisnya masih plintat-plintut. Apa kabarnya mau belajar bahasa asing yang lain."

"Halah, kayak yang lo pinter bahasa Inggris aja."

"Jangan dikelitikin, dong. Ntar nggak dilanjut lagi, nih."

Dua kereta berlalu sudah. Tapi suara pertanda kereta akan lewat dari pos jaga rel masih berbunyi. Pintu perlintasan pun masih tertutup.

"Hmm, trus sumbangsih Bapak Haji untuk kemerdekaan RI dimananya?"

"Sumbangsihnya? Gede bangetlah pastinya. Beliau itu andelannya Bung Karno dari sebelum kemerdekaan sampai awal masa kemerdekaan.  Bapak Haji Agus Salim terpilih jadi salah satu anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia), juga jadi Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Gimana kurang gede jasanya, coba. Kecil-kecil cabe rawit, nih, Pak Haji. Kalau nggak pinter mana bisa jadi anggota BPUPKI sama PPKI."

"Trus, keahlian diplomasinya dipake buat apaan? BPUPKI dan PPKI mah di dalem negeri."

"Lah, Pak Haji saking banyak bahasa asing yang dikuasai. Beliau jadi itu jadi Menteri Luar Negeri, jadi penasihat di Kementerian Luar Negeri dengan gelar pribadi duta besar. Semua jabatan itu kisaran tahun '47-50 an gitu.

Nih, ya, yang paling hebat. Pak Haji ini ditunjuk jadi pemimpin untuk misi diplomatik republik Indonesia. Beliau berkunjung ke negara-negara islam di Timur Tengah. Misinya adalah beliau kudu ngedapetin pengakuan kemerdekaan Indonesia. Gimana keren, kan?"

"Wuidih, tugas berat, tuh. Pastinya tujuh bahasa yang dikuasai beliau kepake juga, dong."

"Jelaslah kepake. Kayak orang belanja bukan di daerahnya tapi pake bahasa di daerah tersebut. Pasti lo bakal dikasih lebih murah, kan?"

"Iya aja, dah, gua, mah." Gak banget perumpaannya, deh. Biarlah, asal dia seneng.

"Nggak salah pilih orang emang Bung Karno. Hasil kunjungannya berbuah hasil. Beliau bawa pulang oleh-oleh beberapa pengakuan secara de jure dan de facto berturut-turut dari Mesir (10 Juni 1947), Irak (16 Juli 1947), Afganistan (23 September 1947), dan Arab Saudi (21 November 1947)."


Kereta ketiga akhirnya menjadi penutup cerita kepahlawanan KH Agus Salim di siang yang terik itu. Suami pun mulai berkendara kembali menuju kios bakso di Jl. Juanda.

Mungkin lain kali harus dengar cerita tentang Pak Juanda ini. Jasa apa yang telah dilakukannya pada negara tercinta Republik Indonesia ini.


Catatan: cerita diatas adalah artikel yang dibuat seperti fiksi.

Sumber bacaan:
https://m.gomuslim.co.id/read/tokoh/2016/08/04/1060/haji-agus-salim-diplomat-awal-kemerdekaan-republik-indonesia.html