Mengenangmu



Foto: Brilio

"Pah, kenapa nih jalan dinamain Jalan KH Agus Salim?" tanyaku pada suami.

Nggak ada jawaban. Entah karena suaraku yang bertabrakan dengan angin sehingga suaraku terbawa olehnya. Atau mungkin telinga suami yang tertutup helm. 

Pas motor yang dikendarainya berhenti karena kereta bakal lewat. Aku yang diboncengi nanya lagi dong. 

"Pah, kenapa jalan yang kita lewatin ini namanya Jl. KH. Agus Salim? 

"Pertanyaan banget, sih, lo. Ya, jelas-jelas supaya kita inget terus sama jiwa kepahlawanannya." 

"Iya, sih. Tapi orang-orang yang ngelewatin jalan ini tahu nggak siapa KH Agus Salim itu. Selain dia dikenal sebagai pahlawan, lho, ya."

"Harusnya sih mereka cari tahu, lah, ya. Nama para pahlawan dijadikan nama jalan, kan, supaya kita tetap inget jasa mereka. Jas Merah, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Kata Bung Karno, lho, ya. Bapak Agus Salim itu keren. Biar kata tinggi badannya cuma sekuping Bung Karno. Tapi beliau pinter, cerdas, cerdik, juga jago diplomasi."

"Trus trus, mumpung masih berhenti, nih." kuletakkan daguku di atas bahu kanannya. Meski aku dan suami beradu helm. Kereta kalau tengah hari, yang lewat lebih dari satu.

"Lo tahu poligot, nggak?"

"Orang yang menguasai lebih dari satu bahasa, kan?"

"Tumben pinter." Kucubit pinggang suami. Dia cuma mengaduh bercanda. Secara cubitanku kan cuma cubitan sayang.

"Nah, Bapak Agus Salim ini menguasai tujuh bahasa asing, Belanda, Inggris, Arab, Turki, Perancis, Jepang, dan Jerman. Itu selain beliau jadi lulusan terbaik di HBS se-Hindia Belanda, lho."

"Ih, berarti masih muda banget, dong."

"Emang, iya. Lo mah lulus SMA aja, bahasa Inggrisnya masih plintat-plintut. Apa kabarnya mau belajar bahasa asing yang lain."

"Halah, kayak yang lo pinter bahasa Inggris aja."

"Jangan dikelitikin, dong. Ntar nggak dilanjut lagi, nih."

Dua kereta berlalu sudah. Tapi suara pertanda kereta akan lewat dari pos jaga rel masih berbunyi. Pintu perlintasan pun masih tertutup.

"Hmm, trus sumbangsih Bapak Haji untuk kemerdekaan RI dimananya?"

"Sumbangsihnya? Gede bangetlah pastinya. Beliau itu andelannya Bung Karno dari sebelum kemerdekaan sampai awal masa kemerdekaan.  Bapak Haji Agus Salim terpilih jadi salah satu anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia), juga jadi Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Gimana kurang gede jasanya, coba. Kecil-kecil cabe rawit, nih, Pak Haji. Kalau nggak pinter mana bisa jadi anggota BPUPKI sama PPKI."

"Trus, keahlian diplomasinya dipake buat apaan? BPUPKI dan PPKI mah di dalem negeri."

"Lah, Pak Haji saking banyak bahasa asing yang dikuasai. Beliau jadi itu jadi Menteri Luar Negeri, jadi penasihat di Kementerian Luar Negeri dengan gelar pribadi duta besar. Semua jabatan itu kisaran tahun '47-50 an gitu.

Nih, ya, yang paling hebat. Pak Haji ini ditunjuk jadi pemimpin untuk misi diplomatik republik Indonesia. Beliau berkunjung ke negara-negara islam di Timur Tengah. Misinya adalah beliau kudu ngedapetin pengakuan kemerdekaan Indonesia. Gimana keren, kan?"

"Wuidih, tugas berat, tuh. Pastinya tujuh bahasa yang dikuasai beliau kepake juga, dong."

"Jelaslah kepake. Kayak orang belanja bukan di daerahnya tapi pake bahasa di daerah tersebut. Pasti lo bakal dikasih lebih murah, kan?"

"Iya aja, dah, gua, mah." Gak banget perumpaannya, deh. Biarlah, asal dia seneng.

"Nggak salah pilih orang emang Bung Karno. Hasil kunjungannya berbuah hasil. Beliau bawa pulang oleh-oleh beberapa pengakuan secara de jure dan de facto berturut-turut dari Mesir (10 Juni 1947), Irak (16 Juli 1947), Afganistan (23 September 1947), dan Arab Saudi (21 November 1947)."


Kereta ketiga akhirnya menjadi penutup cerita kepahlawanan KH Agus Salim di siang yang terik itu. Suami pun mulai berkendara kembali menuju kios bakso di Jl. Juanda.

Mungkin lain kali harus dengar cerita tentang Pak Juanda ini. Jasa apa yang telah dilakukannya pada negara tercinta Republik Indonesia ini.


Catatan: cerita diatas adalah artikel yang dibuat seperti fiksi.

Sumber bacaan:
https://m.gomuslim.co.id/read/tokoh/2016/08/04/1060/haji-agus-salim-diplomat-awal-kemerdekaan-republik-indonesia.html











Komentar