Friday, September 25, 2020

Buka Usaha di Tengah Pandemi? Begini Kiat-Kiatnya Agar Kamu Berhasil

September 25, 2020 36

 "Ti, besok gua ke gerai jus lo, ya?" 

"Iya, dateng aja. Kabarin kalo udah mau jalan ntar, yak. Jadi gua bisa duluan datengnya."

Begitulah percakapan aku dan adik bungsu perempuanku lewat WA Jumat minggu lalu. 


Adik perempuanku baru saja membuka gerai jus yang diberi nama Republic Cafe. Aku, suami, serta kakak berencana untuk mengunjunginya. Ya, sebagai bentuk support juga menengok usahanya. 


Nanti mau ngobrol dan tanya-tanya juga, alasan mengapa membuka usaha di saat orang-orang sedang mengencangkan ikat pinggang. Apakah peluang usaha di tengah pandemi dengan membuka gerai jus akan menguntungkan? 


Mungkin dari alasan adikku membuka usaha itu, aku mendapat ide jualan juga. Meski nggak gede seperti gerai jus, yang penting bisa buka usaha kecil-kecilan dirumah yang menguntungkan. 


"Ayo, Mah, kita berangkat? Enak, nih, kayaknya panas-panas gini minum jus," ucap suami meminta aku bersiap. 


"Iya, gua mah cepet dandannya. Tunggu bentar, yak. Bilangin kakak, dah, biar agak cepet dandannya" jawabku sambil melipat mukena.


"Udah gua forward alamatnya tadi yak, Pah." Ketika kami sudah berada dalam kendaraan. 

"Iyah. Tuh udah gua pasang GPS nya." Terlihat di layar gawai suami rute jalan menuju gerai jus adikku. 


"Kalau liat dari GPS, gerai jusnya ada di pinggir jalan, ya, Mah? Belum sampe masuk ke perumahan Dukuh Zamrud."


"Kayaknya sih, gitu. Enak malahan dipinggir jalan, Pah. Rame."


"Itu gerai jusnya, Pah!" ucapku menunjuk pada sebuah kendaraan yang terparkir di depan sebuah gerai jus. Kendaraan yang kuhafal milik adikku membuatku mudah mencari gerai jus miliknya. 


Suami memarkir kendaraan dengan posisi serong. Tempat parkirnya cuma cukup satu mobil. Jadi sebagian bagian belakang kendaraan berada di wilayah toko sebelah. 


Bangunan gerai jusnya memanjang. Didesain bergaya anak milenial gitu. Beberapa kursi dan meja tersusun rapi. Kursi yang terbuat dari ember kaleng bekas cat. Lalu dicat putih, diberi gambar cangkir, dan dinamai sesuai dengan nama gerai jusnya Republic Cafe. Kesan pertama menurutku, enak dan nyaman. 


Etalase kaca berisi aneka macam buah berwarna-warni, menambah kesan segar dan kontras dengan cat dinding yang berwarna hijau. 


Berani-buka-usaha-di-tengah-pandemi-?-Siapa-takut-?


Aku, suami, dan kakak duduk di sofa yang berada di bagian dalam gerai jus. Memesan sup buah siram jus sirsak, salad buah dengan saus original yang ditabur keju, dan suami memesan jus mangga tanpa es, gula, dan susu. 


Memilih Jenis Usaha


"Lo mau cobain ini, Teh?" Adikku menyodorkan es alpukat. 

"Nggak ada di menu, nih. Gua cuma suka makan alpukat kalo dipotong gini aja. Bukan di jus." Aku sih cuma manggut-manggut dengan mulut penuh dengan es alpukat. 


"Rame, Ti?" kutaruh gelas es alpukat di meja kaca. Nggak berani ngabisin es alpukatnya. Kan cuma icip. Heuheu.


"Lumayan.  Disyukuri, aja. Namanya juga baru mulai jualannya."


"Tapi balik modal, kan?"


"Balik. Cuma belum bisa disimpen. Sore dapet duit. Besoknya dipake lagi buat belanja buah."


"Ya, nggak apa-apa kali, ya. Yang penting jangan nombok aja." 

"Kenapa lo pilih buka gerai jus, Ti?" tanyaku sambil mata berkeliling melihat pajangan manfaat buah yang memenuhi dinding. 


"Suami gua yang pilihin usaha jus buah ini, nih. Katanya:


  1. Temannya ada yang udah sukses ngejalanin usaha jus. 

  2. Dari info teman itulah, sebelum buka usaha jus, konsultasi dulu tentang seluk beluk usaha jus buah ini. Seperti modal awal, faktor resiko, lama kembali modal, dan lain-lain. 

  3. Karena ada teman, selama awal usaha, jadi ada teman yang memandu atau membimbing. Seperti, cara membuat jus sesuai takaran gelas saji, membuat mayonaise, fla, dan lain-lain. 

  4. Dan yang jelas kalau ada teman dengan jenis usaha sama. Bisa berbagi cerita gitu. Di awal usaha kan, suka-dukanya banyak. Jadi nyambung, dah, ngobrolnya."


Aku mendengarkan dengan seksama dan mencatat poin-poin penting dalam membuka usaha. Pastinya bakal kepake, nih, apa yang diceritakan adikku ini. 


Secara di tengah pandemi kayak begini, kita sebagai perempuan sekaligus istri. mesti punya penghasilan kedua. 


Baca juga: Sumber Keuangan Kedua


Survey Lokasi Sebelum Membuka Usaha


"Lo dapet info kios kosong yang mau dikontrakin ini dari siapa, Ti?" tanyaku sambil menerima semangkuk sop buah siram jus sirsak dari tangannya. 


"Gua sama suami muter-muter. Cari sekitaran yang nggak terlalu jauh juga dari rumah. Biar gampang kontrolnya. Lagian cari kios buat peluang usaha di tengah pandemi kayak gini nggak terlalu sulit tapi juga nggak mudah."


Aku mengerti maksudnya dengan tangan mengaduk-mengaduk campuran aneka buah seperti, strawberry, anggur, pir, alpukat, mangga, melon, dan buah naga. 


Di tengah pandemi ini, banyak kios atau ruko yang letaknya strategis gulung tikar. Kita sebagai penyewa nantinya cuma membutuhkan kejelian. Kejelian untuk memperhitungkan letak sebuah kios atau toko tersebut di daerah ramai atau nggak. Maksudnya tentu agar kios, toko, atau gerai yang dibuka nanti banyak pembelinya. 


Mencari Supplier Buah


Siang itu benar-benar terik meski hari hampir mendekati waktu sholat ashar. Kakak menikmati salad buahnya sambil sesekali mengambil gambar salad buah tersebut dengan gawainya.


"Buah apa yang jadi favorit pembeli, Ti?" 


"Mangga, jambu, alpukat. Makanya buah itu yang paling sering dibeli dan dalam jumlah lebih banyak dari buah lainnya. Sayang, buah musiman kalau belum terlalu musimnya, susah didapet. Sekalinya ada, kualitasnya kurang bagus," jawabnya. 


"Emang di Pasar Induk Cibitung nggak ada?" 


Tempat tinggal adik tidak jauh dari Pasar Induk Cibitung. Bahkan ia sekarang sudah mempunyai pedagang langganan buah. Kirim permintaan melalui WA. Lalu barang dikirim langsung ke gerai jusnya. 


Sayang, buah yang baru memasuki musimnya seperti mangga. Harganya masih mahal. Sehingga diperlukan membeli buah ke Pasar Induk Kramat Jati. Untuk mendapatkan harga yang lebih murah dengan kualitas yang bagus juga. 


Prinsip penjual adalah pembeli yang mengambil barang dengan jumlah banyak, akan mendapatkan harga lebih murah. Nah, untuk itu, adikku menyiasatinya dengan membeli bersama teman suaminya yang memiliki usaha jus juga. Jadi bisa dibagi dua, deh. 


Penyimpanan Buah


Semua usaha pasti ada faktor resiko. Nggak usaha saja ada resikonya juga. Ya, kan? 


"Jadi buah yang susah diselametin apa, Ti?"

"Alpukat."


Aku berdiri lalu menuju showcase dan freezer. Kulihat di dalam showcase berjajar aneka bentuk kotak plastik transparan berisi buah yang sudah dipotong. Cara tersebut cukup lumayan untuk memperpanjang usia buah. 


Kubuka freezer. Sama. Kulihat susunan beberapa kotak plastik transparan. Nanas, durian, terong belanda, jadi satu dengan es batu. 


"Alpukat kalau dibekuin kayak buah yang lain nggak, bisa, ya?" tanyaku pada adikku yang sedang menikmati es yakult leci. Yakult series merupakan salah satu menu yang disediakan oleh adikku di gerai jusnya. 


"Udah dicoba. Tapi hasilnya, buah alpukat jadi item-item gitu. Mungkin nanti gua googling cara nyimpen alpukat biar awet," jawab adikku. 


Baca juga: Peluang Usaha di Tengah Pandemi


Promosi


Zaman sekarang, berpromosi semakin gampang. Bermodalkan gawai dan kuota. Kita sudah bisa mempromosikan produk yang dijual. 


Sama seperti adikku, meski bukan diendorse oleh artis terkenal. Cukup anggota keluarga yaitu adik laki-lakiku yang membuat status di media sosialnya. Bisa membuat produk yang dijual dapat dikenal teman atau orang banyak. 


Aku pun sama, tidak mau kalah dengan adik laki-lakiku. Suami mengundang teman-teman yang kantornya tidak jauh dari lokasi gerai jus untuk datang. 


Berani-buka-usaha-di-tengah-pandemi-?-siapa-takut-?
Foto: Bareng teman-teman

Memperkenalkan aneka menu jus pada mereka. Tentu hal ini dimaksudkan agar mereka dapat memberitahu pada teman-temannya tentang gerai jus yang baru dibuka ini. 


Bahkan adikku membuat tiap weekend menjadi spesial dengan memberikan promo JSM (Jumat, Sabtu, Minggu). Yaitu membeli tiga gratis satu untuk produk tertentu. Ini, sih, menang banyak. Emak-emak mana yang nggak tergiur dengan promo. 


Bahkan di minggu pertama buka. Weekend promo yang disebarkan di grup kompleknya. Dapat menarik pembeli hingga mencapai kurang lebih dua puluhan lebih mangkuk sup dan salad buah. 


Menurut adikku lagi. Gerai jusnya sekarang sedang menunggu proses Grab dan Gojek agar bisa mencapai sasaran pembeli yang lebih luas. 


Mempunyai Ciri Khas


Usaha apa yang menguntungkan? Ya, usaha yang mempunyai ciri khas. Ciri khas akan menjadi pembeda dari gerai-gerai jus yang lain. 


Jeli melihat kebutuhan pasar adalah salah satu kepekaan yang harus dimiliki setiap pengusaha. Terlebih bila mempunyai pembeda. Pastinya hal ini akan mudah diingat orang. 


Gerai jus milik adikku ini, selain menyediakan aneka jus buah. Ia juga menambahkan varian sup dan salad buah dengan pilihan fla original, durian dan sirsak. Ia juga menyediakan minuman kekinian yaitu aneka thai tea, dan yakult series yang dicampur dengan sirup juga susu. 

Buka-usaha-di-tengah-pandemi-?-Siapa-takut-?


Bahkan memasuki awal musim penghujan bulan ini. Gerai jusnya akan menambah menu roti panggang, dimsum, cireng, dan aneka minuman kopi juga coklat panas. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi penggemar minuman dingin ke minuman panas karena pergantian musim.


Sebagai kakak, aku mah cuma bisa mendoakan agar usaha baru yang dijalani adikku lancar dan sukses. Semoga bisa membuka gerai cabang di daerah lainnya. Siapa tahu aku bisa menjadi pengelola gerai jus juga. 


Meski sebenarnya usaha jus ini bisa menjadi salah usaha kecil-kecilan dirumah yang menguntungkan. Yaitu dengan membuat jus buah dalam kemasan botol. 


Ayo, Desi. Semangat berusaha! 


Barangkali ada yang lewat Republic Cafe atau mau icip-icip berbagai jus, salad, atau sup buahnya. Silakan mampir ke Republic Cafe yang beralamat di: Jl mustika jaya no 102. Bekasi. 


Sampai ketemu di sana. Eh, janjian dulu tapinya, yak. Biar bisa standby.

Friday, September 18, 2020

Commuter Line dan Aku

September 18, 2020 2

Langit gelap mengiringi langkah kakiku menuju stasiun kereta api. Tubuhku menantang angin pagi. Lampu-lampu pertokoan menerangi jalanku. Begitu juga lampu kendaraan yang berlalu lalang terlihat menyilaukan. Pagi gelap yang riuh dengan suara mesin, knalpot, juga sesekali klakson. Dapat dimengerti mengapa mereka begitu tergesa. Terlambat lima menit akan berpengaruh besar pada lalu lintas ibu kota nanti.


Tidak ubahnya dengan stasiun kereta api setelah aku tiba disana. Para penumpang yang mayoritas adalah pegawai kantoran, terlihat tergesa dan berebut posisi berdiri. Posisi dimana bila kereta listrik atau commuter line datang, pintunya akan berada tepat di hadapan mereka.


Ketika terlihat rangkaian gerbong berjalan menghampiri ke arah penumpang dari arah barat. Terlihat posisi tubuh mereka bersiap. Layaknya seorang pelari atau pencak silat. Kaki mereka seperti memasang kuda-kuda dengan memeluk erat tas mereka masing-masing. 


Pemandangan dan tentu yang kualami juga. Ketika kereta berhenti dihadapanku. Tubuhku beradu dengan penumpang lain dari semua sisi. Depan, belakang, kiri, kanan, atas, juga bawah. Tubuh terombang-ambing mengikuti desakan arus lautan manusia. 


Tak terbayangkan bila aku memilih gerbong laki-laki. Tinggi badanku saja sudah kalah. Apalagi harus berhadapan dengan mereka. Bisa-bisa aku bukan terdorong masuk ke dalam kereta. Malahan yang ada aku tersingkir keluar.


Jarang sekali tempat duduk kudapat. Terdorong masuk ke dalam kereta saja sudah mengucap syukur. Kalau dapat tempat duduk, itu namanya bonus. 


Ada apa dengan KRL? Sekarang namanya Commuter Line, deng.


Transportasi Favorit


Moda transportasi yang menjadi favorit mayoritas banyak orang Bekasi ini, tidak pernah sepi penumpang. Setiap harinya bahkan rangkaian dua belas gerbong ini dapat mengangkut 600 ribu penumpang. (Poskota, 15/06/20).


Bisa dimengerti sih, mengapa KRL ini menjadi kendaraan favorit. Secara ongkosnya murah banget. Dulu, zaman naik KRL pertama kali tahun 2007. Masih ada rangkaian kereta ekonomi non AC yang dikenakan biaya Rp 1.500. Bayangin aja, dengan ongkos segitu bisa ke Jakarta.


Seiring waktu dan demi memanusiakan manusia (ini pendapat pribadi, sih, secara KRL ekonomi non AC itu penumpangnya berjubel sampai ke atas gerbong. Malah dulu menjadi hal biasa kalau ada penumpang yang tersambar kabel listrik).


Foto: Berita Satu


Pada pertengahan tahun 2011, KRL ekonomi non AC secara bertahap mulai dikurangi jumlah perjalanannya. Dan perlahan diganti dengan kereta Commuter Line (CL) alias ekonomi AC.


Setelah dirasa masyarakat terbiasa dengan kereta CL. Akhirnya Juli 2013, kereta ekonomi non AC diberhentikan total atau dihapus untuk semua rute alias pensiun. 


Ya, kalau aku mah lebih pilih CL ekonomi AC daripada ekonomi non AC yang nggak ada pintunya. Selain lebih nyaman karena gerbong yang dingin ber-AC. Tarifnya juga lebih murah enam ribu rupiah dibanding kereta ekspres yang sembilan ribu rupiah sebelum diberlakukannya CL ini. Ya, meski diakui, aku tetap umpel-umpelan didalamnya. Maklumin aja, deh. Namanya juga kendaraan murah meriah. Dibanding naik bus yang bakal kejebak macet. Bisa-bisa telat sampai kantor nanti. 


Kereta Bekas


Tahu nggak kereta CL yang beroperasi sekarang itu dari Jepang? Ah, pasti tahulah, ya. Cuma tahu nggak kamu asal muasal mengapa PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) ketagihan menggunakan kereta bekas dari Jepang?


KRL Toei seri 6000 namanya. Di Jepang sana, masa penggunaan kereta adalah 50 tahun. Tapi baru 32 tahun beroperasi, Jepang mau ganti keretanya, tuh. Daripada dibuang, kan, sayang. Akhirnya tahun 2000 sebanyak 72 unit dihibahkan, deh, buat Indonesia. 


Foto: Bisnis


Emang bekas, sih, tapi masih layak pakai. Layak banget malahan. Buktinya sampai sekarang, keretanya masih bagus. Kualitas made in Japan emang nggak perlu diragukan lagi. Sejak saat itulah dan karena alasan kualitas, Indonesia jadi suka beli kereta bekas dari Jepang sampai sekarang. 


Kata Direktur Utama Wiwik Widayanti KCI, "gangguan pada kereta bekas asal Jepang ini cukup rendah. Keandalannya bisa tetap dijaga dengan peralatan yang sesuai dengan yang dilakukan di Jepang." (Bisnis, 6/3/20).


Bahkan tahun ini KCI bakal mendatangkan train set sebanyak 120 unit. Padahal tahun 2019 lalu sudah mendatangkan 168 unit kereta. Jadi total keseluruhan, KCI sudah memiliki 1.100 kereta yang beroperasi di wilayah Jabodetabek. 


Apa kabar INKA? 


Sebenarnya Indonesia, kan, punya PT Industri Kereta Api (INKA) Terus dimana kontribusi INKA untuk PT KCI? Masa Indonesia bisa produksi kereta api tapi tetep impor, mana kereta bekas lagi. 


Begini, ya. Menurut penjelasan Direktur Utama INKA Budi Noviantoro biaya untuk mendatangkan kereta bekas dari Jepang rata-rata sekitar Rp 2 miliar. Biaya ini jauh lebih murah dibandingkan harga kereta baru yang diproduksi INKA, mencapai US$ 1,3 juta atau setara Rp 18 miliar, dengan kurs sekarang. "Di Jepang, meski hanya membuang barang bekas juga mahal ongkosnya. Tapi kalau harus beli baru juga lebih mahal," kata Budi di Gedung Kementerian BUMN, Jakarta, (Senin, 19/8). (Katadata, 19/8/19)


Nah, kabar terbaru tahun 2020, tepatnya 6 Maret yang kudapat beritanya dari media online Bisnis. Menurut keterangan Direktur Teknik KCI Saridal selain masih mengandalkan kereta bekas yang didatangkan dari Jepang meski sebelumnya telah mendatangkan 10 trainset dari PT Industri Kereta Api (Inka). Namun, kereta produksi dalam negeri tersebut harus dikembalikan kembali karena ada beberapa hal yang perlu diperbaiki.


“Ternyata [kereta produksi Inka] banyak gangguan, banyak dikomplain oleh masyarakat. Jadi dikembalikan, kami minta diperbaiki, kalau sudah selesai dikembalikan,”jelasnya.


Berharap kedepannya, sih, INKA bisa mensejajarkan diri dengan produksi kereta api yang dari Jepang. Jadi, KCI nggak perlu impor lagi. Meski sebenarnya INKA sudah maju. Terbukti INKA sudah mengekspor produk kereta apinya ke Bangladesh, Malaysia, Thailand, Australia.


Malah baru-baru ini telah melakukan uji coba kereta api pesanan Philipina pada tanggal 24 - 30 Juni 2020 yang lalu.

"Sejauh ini, hasil uji coba pertama berjalan lancar dan tidak ada kendala yang berarti. Hanya perlu sedikit penyempurnaan di sisi lokomotif. Itu pun minor sekali," kata Dadik Project Manager Filipina PT INKA (Persero). (Kompas, 23/6/20).


Foto: asiatoday


Gimana? Keren, kan, Indonesia.


Mari kita doakan bersama, semoga usaha perkeretaapian Indonesia semakin berjaya dan sejajar dengan kereta api Jepang Shinsaken. Aamiiin. 








Wednesday, September 9, 2020

Menabung Asyik Ala Emak-Emak

September 09, 2020 23
Foto: unsplash

Mak-emak, pernah mengalami kayak aku yang belum habis bulan anggaran belanjanya dah habis? Kalau sama, tos barenglah kita. 

Mau cerita pengalaman boleh ya, Mak. 


Aku, tuh, baru menyandang status IRT dua tahun yang lalu. Dulu, aku dan suami sama-sama bekerja. Jadi, masalah anggaran belanja bulanan jarang terjadi kehabisan di akhir bulan. Malah, aku dan suami mempunyai tabungan masing-masing. 


Bahkan, sebelum pandemi datang pun, keuangan rumah tanggaku baik-baik saja. Bisa menyisihkan dana darurat sesuai standar anjuran para pakar perencana keuangan, yaitu enam bulan dari pengeluaran bulanan.


Nah, di masa pandemi ini, dana darurat milikku yang disisihkan tersebut baru dipakai sedikit. Soalnya suami memutuskan untuk menggunakan dana darurat miliknya selama dia berdiam diri di rumah. Dana daruratku buat cadangan. Tidak boleh di utak-atik kecuali kepepet.


Akibat dari pandemi ini pun berimbas pada menurunnya pemberian bulanan suami sebanyak 80%. Aku mah maklum saja. Meski nggak bisa lagi mengatur keuangan seperti yang disarankan oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan) yaitu 10, 20, 30, 40. Bisa bertahan di tengah pandemi yang sudah berjalan hampir tujuh bulan ini saja, sudah bersyukur. 


Mengevaluasi Anggaran


Mengatur keuangan rumah tangga memang gampang-gampang susah. Terkadang bulan belum habis, sudah nodong suami buat minta tambah uang belanja. 


Ini kualami bulan lalu. Malu juga sebetulnya menadahkan tangan pada suami. Tapi, apa boleh buat. Demi dapur tetap ngebul. 


Evaluasi pun kulakukan. Hmm, kenapa perlu evaluasi keuangan? Menurut perencana keuangan Pandji Harsanto, evaluasi keuangan berguna untuk mendeteksi adanya pengeluaran yang menyimpang dari tujuan awal. Demikian juga disampaikan oleh perencana keuangan dari Finansia Consulting Eko Endarto. Keuangan keluarga yang tidak sehat bisa menimbulkan utang dan menghambat investasi. Padahal kedua hal itu bisa memengaruhi kondisi keuangan di masa depan. (Kompas, 13/12/2017). 


Dari hasil evaluasi didapatlah bahwa bulan lalu itu, ada dua orang anak tetangga yang sunatan dan tetangga dekat pindah rumah ke luar daerah. Jadi, perhitungan anggaran meleset. Selama pandemi anggaran untuk dana hadiah atau kondangan memang nggak ada. 


Dari hasil evaluasi ini juga, aku harus lebih bisa mengatur keuangan. Anggaran kondangan yang tidak biasa ini, nyatanya tetap harus disisihkan dari penerimaan bulanan. Coba, ah, nanti diutak-atik lagi pos anggaran bulanannya. Kalau dicari, pasti ketemu celah buat menyisihkan anggaran kondangan ini. Lagipula di masa pandemi begini, nggak akan banyak tetangga yang nyunatin anaknya. Ya, kan?


Pengertian menabung


Menabung adalah menyisihkan uang untuk digunakan di masa yang akan datang. Warren Buffet bilang, "jangan menabung dari apa yang tersisa setelah kamu belanja, tapi belanjakan apa yang tersisa setelah kamu menabung."


Masalah buat emak-emak sekarang adalah, bagaimana caranya menabung di masa pandemi. 


Demi tidak mengulang kejadian bulan lalu. Aku memaksa diri untuk menabung. Jumlahnya memang nggak banyak. Ya, daripada nggak menabung sama sekali, kan. 

Begini ini caraku menabung:

  • Begitu terima uang dari suami. Langsung kubagi dua alias 50:50. 50 untuk belanja, 50 kedua kupecah kembali menjadi 30:20 untuk pembayaran BPJS dan listrik. Angka 20 terakhir inilah yang masuk ke dalam tabungan

  • Koin sisa uang belanja dikumpulkan dalam dompet atau dimasukkan ke dalam celengan. Menurut Aidil Akbar Madjid, hal terpenting pada tabungan uang receh ini adalah tak menganggap remeh uang kecil. "Karena kalau dikumpulkan uang-uang seribu, dua ribu atau lima ratus, uang untuk beli rokok dikumpulin bisa banyak. Uang jajan kalau misalnya dipotong 50 persen saja kan ternyata bisa beli motor bisa beli hape, itu kan istilahnya uang kecil tapi disimpan dan dilakukannya rutin," kata Aidil. Tuh, kan, jangan remehin uang kecil lagi ya. Biar receh tapi punya power alias The power of recehan. Pastinya Mak-Emak belum lupa tentang koin Prita, kan?


Foto: pixabay
  • Aku paling suka menyimpan uang di banyak tempat. Seperti dalam kantong jas yang tergantung di lemari, di tas bepergian, di dalam buku, di dalam dompet yang ada dompetnya lagi, atau di bawah meja setrikaan. Nominalnya memang nggak besar. Tapi kalau dikumpulin dan bila sedang ada butuh. Lumayan juga, lah, ya. Terkadang aku suka lupa akan uang-uang tersebut, terus pas nemuin mereka, jadi kejutan manis buat diri, gitu. 


Berhemat


1. "Mamah, nyalain AC, yaa!" teriak kakak dari kamar sebelah. Maklum AC satu dipasang untuk dua kamar. 

"Belum jam delapan!" jawabku dengan sedikit teriak. 

Nah, ini caraku menghemat listrik. Kalau musim hujan malah AC baru dinyalakan pukul sembilan. Sebelum subuh, dimatikan, deh, tuh, AC. Bukan pelit, lho, cuma irit ini, mah. Iya, kan? 


2. Di masa pandemi, jajan juga dikurangi. Diganti dengan membuat camilan sendiri. Secara lebih sehat dan lebih murah juga. Ya, hitung-hitung jajal resep-resep di youtube.

 

3. Belanja sayur biasa di abang sayur depan komplek. Sekarang belanjanya di pasar tradisional, seminggu sekali pula. Selain lebih murah juga banyak pilihan. 


4. Belanja bulanan non pangan biasa kulakukan tiap hari Jumat, Sabtu, atau Minggu. Kenapa pilihannya ada tiga hari atau weekend tersebut? Soalnya kalau weekend, supermarket banyak promo dan discount. Kalau lagi promo, aku suka beli buat kebutuhan sampai dua bulan. Seperti, sabun cuci, sampo, pasta gigi, dll. Kan, mereka tahan lama dan nggak basi. Bahkan kalau memungkinkan belanja bulanan jadi dua bulanan. 


Bagaimana, ada yang samakah gaya menabungku dengan Mak-emak sekalian? Atau mungkin ada gaya lain yang Emak pakai? Boleh lah dibisiki. Barangkali saja aku bisa praktik pakai gaya Emak sekalian. 


Seberapapun yang diberi suami, diusahakan untuk ditabung ya, Mak. Biar receh-receh juga. Menabung itu kan cuma perlu konsisten dan berkesinambungan.

Semangat menabung! 

Saturday, September 5, 2020

Pandemi datang Gaptek Hilang

September 05, 2020 0

 

Adakah yang menyangka kalau masa pandemi ini akan lama sampai berbulan-bulan? 

Waktu epidemi virus corona muncul pertama kali di Cina. Aku mah berpikir, jauh dari negara kita, Indonesia. Cuma bisa prihatin melihat banyaknya korban berjatuhan lewat berita di tv. 


Lalu, ketika wabah virus menjadi pandemi dan sampai ke negara kita. Lagi-lagi aku berpatokan pada Cina. Melihat mereka bisa menangani virus mematikan tersebut dalam waktu kurang lebih tiga bulan. Meski ada gelombang kedua, tapi mereka berhasil menanganinya dengan baik. Berarti negara kita juga bisa.


Ternyata di PHP-in sama diri sendiri itu nyesek (pegang dada).


Bulan Maret pertengahan adalah situasi ketika suami diharuskan bekerja dari rumah tanpa upah. Aku tidak terlalu panik karena aku mempunyai tabungan untuk beberapa bulan kedepan.

Ketika melewati hitungan bulan ketiga. Dan penyebaran virus corona yang semakin naik tiap bulannya. Aku mulai khawatir. Itu pertanda suami akan berdiam lebih lama di rumah. Berarti hilal jatah bulanan yang biasa didapat, dadah babay, deh. 


Pemerintah dengan desakan ekonominya memutuskan, agar  kita sebagai warga negara dapat menjalani kehidupan dengan adaptasi kebiasaan baru (new normal). Kayak buah simalakama, deh. Diam di rumah nggak ada penghasilan alias matiin ekonomi rumah tangga. Keluar rumah untuk menghidupi keluarga juga beresiko besar terpapar virus corona ini. 


Jadi, judulnya kita masing-masing harus bisa jaga diri agar terhindar dari virus corona yang nggak pandang bulu ini. Ikuti protokol kesehatan biar semua aman dan selamat. 


Setelah new normal berjalan kurang lebih dua bulan. Kabar dari suami membuatku berada di antara dua perasaan, bahagia dan was-was. 

"Mah, bulan depan udah bisa mulai kerja, nih," katanya suatu hari. "Tapi, karena papah usianya diatas empat puluh lima. Masuk kantornya cuma dua kali seminggu," lanjutnya lagi memberi penjelasan. 


Jelas dong ini namanya angin surga untuk keuangan rumah tangga. Ya, meski katanya upah yang diterima nggak full. Alhamdulillah, ucap syukur kuucap, karena suami masih berstatus karyawan dan masih berpenghasilan. Tinggal sebagai istri aja, akunya kudu pinter berhemat membelanjakan kebutuhan rumah tangga. 


Sedang rasa was-was nggak dipungkiri pasti ada dalam diri. Secara suami, kan, mempunyai riwayat jantung. Resikonya lebih besar ketimbang yang tidak mempunyai penyakit bawaan. La hawla wa kuwwata illa billah. Ikhtiar dan doa aja sebagai tamengnya selain mengikuti protokol kesehatan. 


Sekali lagi Alhamdulillah terucap dari bibir dan hatiku. Kakak yang duduk di semester akhir, dapat melakukan konsultasi skripsi via daring.


Belajar via daring memang sudah dicanangkan oleh pemerintah agar para siswa dan mahasiswa tetap belajar meski diam di rumah. Selain hati nggak khawatir karena nggak ngampus. Keuangan juga agak legaan. Soalnya nggak bayar uang kos-an, nggak ngeluarin jajan juga transportasi mingguan kakak. Lumayan, kan, dananya bisa dialokasikan buat urusan dapur. Heuheu. 


Kalau aku mah sebagai mamak-mamak sudah terbiasa dengan new normal. Secara memang nggak pernah pergi kemana-mana juga. Jadi diam di rumah dan belajar via daring, sudah dijalani sejak menyandang status IRT dua tahun yang lalu. 


Ya, memang, sih, virus corona bikin kita semua susah gerak alias aktivitas terbatas. Tapi, buat mamak-mamak seperti aku yang masih ingin ingin belajar. Di era pandemi ini, bertebaran kelas daring gratis. Tinggal siapin kuota, waktu, niat, dan kemauan aja.


Kalau dulu cuma tahu aplikasi WA, FB, dan IG. Sekarang bertambah tahu lagi aplikasi digital gegara ikut kelas daring. Seperti Zoom dan Google Meet. Sekarang nggak gaptek lagi, deh. Jadi, kalau diajak ngobrol sama kakak tentang aplikasi ini, bisa nyambung. 


Eh, satu lagi aplikasi favorit, nih, yaitu iPusnas. Soalnya bisa baca buku gratis. Secara fulus buat beli buku nggak ada. Jadi punya aplikasi pinjam buku gratis adalah solusinya (kedip mata sebelah).



Siapa bilang diam di rumah nggak bisa ngelmu. Kaum rebahan tapi otak jangan merebah.