Commuter Line dan Aku

Langit gelap mengiringi langkah kakiku menuju stasiun kereta api. Tubuhku menantang angin pagi. Lampu-lampu pertokoan menerangi jalanku. Begitu juga lampu kendaraan yang berlalu lalang terlihat menyilaukan. Pagi gelap yang riuh dengan suara mesin, knalpot, juga sesekali klakson. Dapat dimengerti mengapa mereka begitu tergesa. Terlambat lima menit akan berpengaruh besar pada lalu lintas ibu kota nanti.


Tidak ubahnya dengan stasiun kereta api setelah aku tiba disana. Para penumpang yang mayoritas adalah pegawai kantoran, terlihat tergesa dan berebut posisi berdiri. Posisi dimana bila kereta listrik atau commuter line datang, pintunya akan berada tepat di hadapan mereka.


Ketika terlihat rangkaian gerbong berjalan menghampiri ke arah penumpang dari arah barat. Terlihat posisi tubuh mereka bersiap. Layaknya seorang pelari atau pencak silat. Kaki mereka seperti memasang kuda-kuda dengan memeluk erat tas mereka masing-masing. 


Pemandangan dan tentu yang kualami juga. Ketika kereta berhenti dihadapanku. Tubuhku beradu dengan penumpang lain dari semua sisi. Depan, belakang, kiri, kanan, atas, juga bawah. Tubuh terombang-ambing mengikuti desakan arus lautan manusia. 


Tak terbayangkan bila aku memilih gerbong laki-laki. Tinggi badanku saja sudah kalah. Apalagi harus berhadapan dengan mereka. Bisa-bisa aku bukan terdorong masuk ke dalam kereta. Malahan yang ada aku tersingkir keluar.


Jarang sekali tempat duduk kudapat. Terdorong masuk ke dalam kereta saja sudah mengucap syukur. Kalau dapat tempat duduk, itu namanya bonus. 


Ada apa dengan KRL? Sekarang namanya Commuter Line, deng.


Transportasi Favorit


Moda transportasi yang menjadi favorit mayoritas banyak orang Bekasi ini, tidak pernah sepi penumpang. Setiap harinya bahkan rangkaian dua belas gerbong ini dapat mengangkut 600 ribu penumpang. (Poskota, 15/06/20).


Bisa dimengerti sih, mengapa KRL ini menjadi kendaraan favorit. Secara ongkosnya murah banget. Dulu, zaman naik KRL pertama kali tahun 2007. Masih ada rangkaian kereta ekonomi non AC yang dikenakan biaya Rp 1.500. Bayangin aja, dengan ongkos segitu bisa ke Jakarta.


Seiring waktu dan demi memanusiakan manusia (ini pendapat pribadi, sih, secara KRL ekonomi non AC itu penumpangnya berjubel sampai ke atas gerbong. Malah dulu menjadi hal biasa kalau ada penumpang yang tersambar kabel listrik).


Foto: Berita Satu


Pada pertengahan tahun 2011, KRL ekonomi non AC secara bertahap mulai dikurangi jumlah perjalanannya. Dan perlahan diganti dengan kereta Commuter Line (CL) alias ekonomi AC.


Setelah dirasa masyarakat terbiasa dengan kereta CL. Akhirnya Juli 2013, kereta ekonomi non AC diberhentikan total atau dihapus untuk semua rute alias pensiun. 


Ya, kalau aku mah lebih pilih CL ekonomi AC daripada ekonomi non AC yang nggak ada pintunya. Selain lebih nyaman karena gerbong yang dingin ber-AC. Tarifnya juga lebih murah enam ribu rupiah dibanding kereta ekspres yang sembilan ribu rupiah sebelum diberlakukannya CL ini. Ya, meski diakui, aku tetap umpel-umpelan didalamnya. Maklumin aja, deh. Namanya juga kendaraan murah meriah. Dibanding naik bus yang bakal kejebak macet. Bisa-bisa telat sampai kantor nanti. 


Kereta Bekas


Tahu nggak kereta CL yang beroperasi sekarang itu dari Jepang? Ah, pasti tahulah, ya. Cuma tahu nggak kamu asal muasal mengapa PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) ketagihan menggunakan kereta bekas dari Jepang?


KRL Toei seri 6000 namanya. Di Jepang sana, masa penggunaan kereta adalah 50 tahun. Tapi baru 32 tahun beroperasi, Jepang mau ganti keretanya, tuh. Daripada dibuang, kan, sayang. Akhirnya tahun 2000 sebanyak 72 unit dihibahkan, deh, buat Indonesia. 


Foto: Bisnis


Emang bekas, sih, tapi masih layak pakai. Layak banget malahan. Buktinya sampai sekarang, keretanya masih bagus. Kualitas made in Japan emang nggak perlu diragukan lagi. Sejak saat itulah dan karena alasan kualitas, Indonesia jadi suka beli kereta bekas dari Jepang sampai sekarang. 


Kata Direktur Utama Wiwik Widayanti KCI, "gangguan pada kereta bekas asal Jepang ini cukup rendah. Keandalannya bisa tetap dijaga dengan peralatan yang sesuai dengan yang dilakukan di Jepang." (Bisnis, 6/3/20).


Bahkan tahun ini KCI bakal mendatangkan train set sebanyak 120 unit. Padahal tahun 2019 lalu sudah mendatangkan 168 unit kereta. Jadi total keseluruhan, KCI sudah memiliki 1.100 kereta yang beroperasi di wilayah Jabodetabek. 


Apa kabar INKA? 


Sebenarnya Indonesia, kan, punya PT Industri Kereta Api (INKA) Terus dimana kontribusi INKA untuk PT KCI? Masa Indonesia bisa produksi kereta api tapi tetep impor, mana kereta bekas lagi. 


Begini, ya. Menurut penjelasan Direktur Utama INKA Budi Noviantoro biaya untuk mendatangkan kereta bekas dari Jepang rata-rata sekitar Rp 2 miliar. Biaya ini jauh lebih murah dibandingkan harga kereta baru yang diproduksi INKA, mencapai US$ 1,3 juta atau setara Rp 18 miliar, dengan kurs sekarang. "Di Jepang, meski hanya membuang barang bekas juga mahal ongkosnya. Tapi kalau harus beli baru juga lebih mahal," kata Budi di Gedung Kementerian BUMN, Jakarta, (Senin, 19/8). (Katadata, 19/8/19)


Nah, kabar terbaru tahun 2020, tepatnya 6 Maret yang kudapat beritanya dari media online Bisnis. Menurut keterangan Direktur Teknik KCI Saridal selain masih mengandalkan kereta bekas yang didatangkan dari Jepang meski sebelumnya telah mendatangkan 10 trainset dari PT Industri Kereta Api (Inka). Namun, kereta produksi dalam negeri tersebut harus dikembalikan kembali karena ada beberapa hal yang perlu diperbaiki.


“Ternyata [kereta produksi Inka] banyak gangguan, banyak dikomplain oleh masyarakat. Jadi dikembalikan, kami minta diperbaiki, kalau sudah selesai dikembalikan,”jelasnya.


Berharap kedepannya, sih, INKA bisa mensejajarkan diri dengan produksi kereta api yang dari Jepang. Jadi, KCI nggak perlu impor lagi. Meski sebenarnya INKA sudah maju. Terbukti INKA sudah mengekspor produk kereta apinya ke Bangladesh, Malaysia, Thailand, Australia.


Malah baru-baru ini telah melakukan uji coba kereta api pesanan Philipina pada tanggal 24 - 30 Juni 2020 yang lalu.

"Sejauh ini, hasil uji coba pertama berjalan lancar dan tidak ada kendala yang berarti. Hanya perlu sedikit penyempurnaan di sisi lokomotif. Itu pun minor sekali," kata Dadik Project Manager Filipina PT INKA (Persero). (Kompas, 23/6/20).


Foto: asiatoday


Gimana? Keren, kan, Indonesia.


Mari kita doakan bersama, semoga usaha perkeretaapian Indonesia semakin berjaya dan sejajar dengan kereta api Jepang Shinsaken. Aamiiin. 








Komentar

  1. aku juga suka mba naik kereta lokal bisa tidur, hhee, klo wilayah bandung sih masih bisa dapet tempat duduk. beda banget sama jabodetabek yang penggunanya berkali-kali lipat yaa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. He eh, kereta Jabodetabek mah klo dapet tempat duduk namanya keajaiban #lebay

      Hapus

Posting Komentar