Menabung Asyik Ala Emak-Emak

Foto: unsplash

Mak-emak, pernah mengalami kayak aku yang belum habis bulan anggaran belanjanya dah habis? Kalau sama, tos barenglah kita. 

Mau cerita pengalaman boleh ya, Mak. 


Aku, tuh, baru menyandang status IRT dua tahun yang lalu. Dulu, aku dan suami sama-sama bekerja. Jadi, masalah anggaran belanja bulanan jarang terjadi kehabisan di akhir bulan. Malah, aku dan suami mempunyai tabungan masing-masing. 


Bahkan, sebelum pandemi datang pun, keuangan rumah tanggaku baik-baik saja. Bisa menyisihkan dana darurat sesuai standar anjuran para pakar perencana keuangan, yaitu enam bulan dari pengeluaran bulanan.


Nah, di masa pandemi ini, dana darurat milikku yang disisihkan tersebut baru dipakai sedikit. Soalnya suami memutuskan untuk menggunakan dana darurat miliknya selama dia berdiam diri di rumah. Dana daruratku buat cadangan. Tidak boleh di utak-atik kecuali kepepet.


Akibat dari pandemi ini pun berimbas pada menurunnya pemberian bulanan suami sebanyak 80%. Aku mah maklum saja. Meski nggak bisa lagi mengatur keuangan seperti yang disarankan oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan) yaitu 10, 20, 30, 40. Bisa bertahan di tengah pandemi yang sudah berjalan hampir tujuh bulan ini saja, sudah bersyukur. 


Mengevaluasi Anggaran


Mengatur keuangan rumah tangga memang gampang-gampang susah. Terkadang bulan belum habis, sudah nodong suami buat minta tambah uang belanja. 


Ini kualami bulan lalu. Malu juga sebetulnya menadahkan tangan pada suami. Tapi, apa boleh buat. Demi dapur tetap ngebul. 


Evaluasi pun kulakukan. Hmm, kenapa perlu evaluasi keuangan? Menurut perencana keuangan Pandji Harsanto, evaluasi keuangan berguna untuk mendeteksi adanya pengeluaran yang menyimpang dari tujuan awal. Demikian juga disampaikan oleh perencana keuangan dari Finansia Consulting Eko Endarto. Keuangan keluarga yang tidak sehat bisa menimbulkan utang dan menghambat investasi. Padahal kedua hal itu bisa memengaruhi kondisi keuangan di masa depan. (Kompas, 13/12/2017). 


Dari hasil evaluasi didapatlah bahwa bulan lalu itu, ada dua orang anak tetangga yang sunatan dan tetangga dekat pindah rumah ke luar daerah. Jadi, perhitungan anggaran meleset. Selama pandemi anggaran untuk dana hadiah atau kondangan memang nggak ada. 


Dari hasil evaluasi ini juga, aku harus lebih bisa mengatur keuangan. Anggaran kondangan yang tidak biasa ini, nyatanya tetap harus disisihkan dari penerimaan bulanan. Coba, ah, nanti diutak-atik lagi pos anggaran bulanannya. Kalau dicari, pasti ketemu celah buat menyisihkan anggaran kondangan ini. Lagipula di masa pandemi begini, nggak akan banyak tetangga yang nyunatin anaknya. Ya, kan?


Pengertian menabung


Menabung adalah menyisihkan uang untuk digunakan di masa yang akan datang. Warren Buffet bilang, "jangan menabung dari apa yang tersisa setelah kamu belanja, tapi belanjakan apa yang tersisa setelah kamu menabung."


Masalah buat emak-emak sekarang adalah, bagaimana caranya menabung di masa pandemi. 


Demi tidak mengulang kejadian bulan lalu. Aku memaksa diri untuk menabung. Jumlahnya memang nggak banyak. Ya, daripada nggak menabung sama sekali, kan. 

Begini ini caraku menabung:

  • Begitu terima uang dari suami. Langsung kubagi dua alias 50:50. 50 untuk belanja, 50 kedua kupecah kembali menjadi 30:20 untuk pembayaran BPJS dan listrik. Angka 20 terakhir inilah yang masuk ke dalam tabungan

  • Koin sisa uang belanja dikumpulkan dalam dompet atau dimasukkan ke dalam celengan. Menurut Aidil Akbar Madjid, hal terpenting pada tabungan uang receh ini adalah tak menganggap remeh uang kecil. "Karena kalau dikumpulkan uang-uang seribu, dua ribu atau lima ratus, uang untuk beli rokok dikumpulin bisa banyak. Uang jajan kalau misalnya dipotong 50 persen saja kan ternyata bisa beli motor bisa beli hape, itu kan istilahnya uang kecil tapi disimpan dan dilakukannya rutin," kata Aidil. Tuh, kan, jangan remehin uang kecil lagi ya. Biar receh tapi punya power alias The power of recehan. Pastinya Mak-Emak belum lupa tentang koin Prita, kan?


Foto: pixabay
  • Aku paling suka menyimpan uang di banyak tempat. Seperti dalam kantong jas yang tergantung di lemari, di tas bepergian, di dalam buku, di dalam dompet yang ada dompetnya lagi, atau di bawah meja setrikaan. Nominalnya memang nggak besar. Tapi kalau dikumpulin dan bila sedang ada butuh. Lumayan juga, lah, ya. Terkadang aku suka lupa akan uang-uang tersebut, terus pas nemuin mereka, jadi kejutan manis buat diri, gitu. 


Berhemat


1. "Mamah, nyalain AC, yaa!" teriak kakak dari kamar sebelah. Maklum AC satu dipasang untuk dua kamar. 

"Belum jam delapan!" jawabku dengan sedikit teriak. 

Nah, ini caraku menghemat listrik. Kalau musim hujan malah AC baru dinyalakan pukul sembilan. Sebelum subuh, dimatikan, deh, tuh, AC. Bukan pelit, lho, cuma irit ini, mah. Iya, kan? 


2. Di masa pandemi, jajan juga dikurangi. Diganti dengan membuat camilan sendiri. Secara lebih sehat dan lebih murah juga. Ya, hitung-hitung jajal resep-resep di youtube.

 

3. Belanja sayur biasa di abang sayur depan komplek. Sekarang belanjanya di pasar tradisional, seminggu sekali pula. Selain lebih murah juga banyak pilihan. 


4. Belanja bulanan non pangan biasa kulakukan tiap hari Jumat, Sabtu, atau Minggu. Kenapa pilihannya ada tiga hari atau weekend tersebut? Soalnya kalau weekend, supermarket banyak promo dan discount. Kalau lagi promo, aku suka beli buat kebutuhan sampai dua bulan. Seperti, sabun cuci, sampo, pasta gigi, dll. Kan, mereka tahan lama dan nggak basi. Bahkan kalau memungkinkan belanja bulanan jadi dua bulanan. 


Bagaimana, ada yang samakah gaya menabungku dengan Mak-emak sekalian? Atau mungkin ada gaya lain yang Emak pakai? Boleh lah dibisiki. Barangkali saja aku bisa praktik pakai gaya Emak sekalian. 


Seberapapun yang diberi suami, diusahakan untuk ditabung ya, Mak. Biar receh-receh juga. Menabung itu kan cuma perlu konsisten dan berkesinambungan.

Semangat menabung! 

Komentar

  1. Kerreeeeennnnn....mau belajar ilmu menabungnya 50, 40, 30, 20, 10..tangannya masih suka gatel jajan krn bocah lg doyan2nya makan..huhuhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangat nabung. Dikit² dulu aja, dari yang receh atau koin. Ntar pelan² naikkin nominalnya.

      Hapus
  2. gampang-gampang susah ternyata nabung itu ya, apalagi kalau hal yang remeh2 diabain bisa tahu2 bengkak pengeluaran dan g jdi nabung deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul, Pak. Semua yang namanya konsisten di segala macem itu susah² gampang.

      Hapus
  3. Memang di saat pandemi seperti ini harus berhemat ya kak, tapi memang berhemat untuk kita juga kok ke depannya bukan orang lain. Semangat menabung asyik .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pandemi gini yang ditabung dikit banget. Hemat mah udah pasti. Malah bingung apa yang mau dihemat lagi. Heuheu. Tapi hasil berhemat sebelum pandemi akhirnya kepake, deh.

      Hapus
  4. Urusan nabung memang tricky, harus ujicoba berulang-ulang. Saya setelah mencoba beberapa tahun, metode nabung yang paling bagus buat saya adalah punya beberapa rekening, lalu setiap terima gaji atau honor langsung dipecah dan ditabung di beberapa rekening tersebut.

    Hanya rekening utama yang atmnya saya bawa2. Sisanya tetap di rumah aja..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, sama ini metodenya Mbak dengan saya. Tapi semenjak jadi full IRT. Rekening tabungannya tinggal 1. Tapi suami punya rekening lain sih.

      Hapus
  5. Lagi pandemi gini tabungan mandek, malah saldo rekening ilang sendiri huhu. maaf malah curcol ya mba..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huhu sama Mbak Wit. Nabung 50rb sebulan aja susah banget. Pengeluaran sama, pemasukannya jauh dari yang seharusnya. #eh, curcol balik

      Hapus
  6. Menabung itu pun butuh perencanaan ya..^^ konsistensi dg rencana juga perlu hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. He eh betul. Itu celengan dikasih nama dan target. Tapi nggak sampe². Soalnya konsistennya nggak kompak sama target 😅

      Hapus
  7. sedikit lama-lama menjadi bukit ya mom. aku belum bisa konsisten nih kalau menabung. jadi seadanya ada. padahal menabung itu harus di usahakan ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Soal konsisten, sama masih belajar nih, Mbak Chairina. Tapi biasa kalau dapet di awal bulan langsung dipisahin. #waktuzamanbelumpandemi

      Hapus
  8. Masih susah untuk nabung aku tuh. Sekarang-sekarang ini makin banyak pengeluaran untuk beli kuota.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau untuk ilmu mah nggak apa² Mbak. Kan nanti balik modal. Aamiiin.

      Hapus
  9. Sama nih mba. Aku berusaha berhemat dengan cara bijak memakai AC. Mba, kalau boleh tau, belajar soal keuangan dan anggaran ini dimana ya mba? Ada referensi yang online supaya saya lebih melek finansial planning?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku diajarin sama ibu cara berhemat dan nabung. Tapi buat referensi aku baca bukunya Robert Kiyosaki. Semangat berhemat Mbak Shady

      Hapus
  10. No.4 aku banget nih mba, klo weekend cari promo jsm..mamaklyfe bgt yaa xixixiix

    BalasHapus
  11. Sama niy urusan AC hahaaaaa... pokoknya kalau siang buka jendela lebar2 ajaaaaa

    BalasHapus
  12. kalau sudah berkeluarga lebih ketat lagi ya pembagian pos nya
    aku sendiri saat ini berusaha untuk belajar mengatur keuangan juga mbak, saving perlu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masa pandemi gini lebih ketat lagi. Pemasukan berkurang, pengeluaran sama. Auto pusing

      Hapus

Posting Komentar