Pandemi datang Gaptek Hilang

 

Adakah yang menyangka kalau masa pandemi ini akan lama sampai berbulan-bulan? 

Waktu epidemi virus corona muncul pertama kali di Cina. Aku mah berpikir, jauh dari negara kita, Indonesia. Cuma bisa prihatin melihat banyaknya korban berjatuhan lewat berita di tv. 


Lalu, ketika wabah virus menjadi pandemi dan sampai ke negara kita. Lagi-lagi aku berpatokan pada Cina. Melihat mereka bisa menangani virus mematikan tersebut dalam waktu kurang lebih tiga bulan. Meski ada gelombang kedua, tapi mereka berhasil menanganinya dengan baik. Berarti negara kita juga bisa.


Ternyata di PHP-in sama diri sendiri itu nyesek (pegang dada).


Bulan Maret pertengahan adalah situasi ketika suami diharuskan bekerja dari rumah tanpa upah. Aku tidak terlalu panik karena aku mempunyai tabungan untuk beberapa bulan kedepan.

Ketika melewati hitungan bulan ketiga. Dan penyebaran virus corona yang semakin naik tiap bulannya. Aku mulai khawatir. Itu pertanda suami akan berdiam lebih lama di rumah. Berarti hilal jatah bulanan yang biasa didapat, dadah babay, deh. 


Pemerintah dengan desakan ekonominya memutuskan, agar  kita sebagai warga negara dapat menjalani kehidupan dengan adaptasi kebiasaan baru (new normal). Kayak buah simalakama, deh. Diam di rumah nggak ada penghasilan alias matiin ekonomi rumah tangga. Keluar rumah untuk menghidupi keluarga juga beresiko besar terpapar virus corona ini. 


Jadi, judulnya kita masing-masing harus bisa jaga diri agar terhindar dari virus corona yang nggak pandang bulu ini. Ikuti protokol kesehatan biar semua aman dan selamat. 


Setelah new normal berjalan kurang lebih dua bulan. Kabar dari suami membuatku berada di antara dua perasaan, bahagia dan was-was. 

"Mah, bulan depan udah bisa mulai kerja, nih," katanya suatu hari. "Tapi, karena papah usianya diatas empat puluh lima. Masuk kantornya cuma dua kali seminggu," lanjutnya lagi memberi penjelasan. 


Jelas dong ini namanya angin surga untuk keuangan rumah tangga. Ya, meski katanya upah yang diterima nggak full. Alhamdulillah, ucap syukur kuucap, karena suami masih berstatus karyawan dan masih berpenghasilan. Tinggal sebagai istri aja, akunya kudu pinter berhemat membelanjakan kebutuhan rumah tangga. 


Sedang rasa was-was nggak dipungkiri pasti ada dalam diri. Secara suami, kan, mempunyai riwayat jantung. Resikonya lebih besar ketimbang yang tidak mempunyai penyakit bawaan. La hawla wa kuwwata illa billah. Ikhtiar dan doa aja sebagai tamengnya selain mengikuti protokol kesehatan. 


Sekali lagi Alhamdulillah terucap dari bibir dan hatiku. Kakak yang duduk di semester akhir, dapat melakukan konsultasi skripsi via daring.


Belajar via daring memang sudah dicanangkan oleh pemerintah agar para siswa dan mahasiswa tetap belajar meski diam di rumah. Selain hati nggak khawatir karena nggak ngampus. Keuangan juga agak legaan. Soalnya nggak bayar uang kos-an, nggak ngeluarin jajan juga transportasi mingguan kakak. Lumayan, kan, dananya bisa dialokasikan buat urusan dapur. Heuheu. 


Kalau aku mah sebagai mamak-mamak sudah terbiasa dengan new normal. Secara memang nggak pernah pergi kemana-mana juga. Jadi diam di rumah dan belajar via daring, sudah dijalani sejak menyandang status IRT dua tahun yang lalu. 


Ya, memang, sih, virus corona bikin kita semua susah gerak alias aktivitas terbatas. Tapi, buat mamak-mamak seperti aku yang masih ingin ingin belajar. Di era pandemi ini, bertebaran kelas daring gratis. Tinggal siapin kuota, waktu, niat, dan kemauan aja.


Kalau dulu cuma tahu aplikasi WA, FB, dan IG. Sekarang bertambah tahu lagi aplikasi digital gegara ikut kelas daring. Seperti Zoom dan Google Meet. Sekarang nggak gaptek lagi, deh. Jadi, kalau diajak ngobrol sama kakak tentang aplikasi ini, bisa nyambung. 


Eh, satu lagi aplikasi favorit, nih, yaitu iPusnas. Soalnya bisa baca buku gratis. Secara fulus buat beli buku nggak ada. Jadi punya aplikasi pinjam buku gratis adalah solusinya (kedip mata sebelah).



Siapa bilang diam di rumah nggak bisa ngelmu. Kaum rebahan tapi otak jangan merebah.











Komentar