Jadi, Brandingnya Apa, Dong?

Hari kedua marathon coaching, 26 Oktober yang diadakan oleh GrowThing.id membahas materi yang cukup menarik. Yaitu branding diri di media sosial. 


Masih peer banget buatku, nih, tentang branding diri ini. Sebab apa? Sebab sampai sekarang aku masih belajar. 


Sejak menekuni dunia tulis menulis tahun 2017 lalu. Aku sudah mulai membuat status di FB dan IG kalau aku menekuni dunia menulis ini. 


Sayang, fokus menulisku masih belum pasti. Rasa haus belajar, membuat aku mengikuti banyak kelas kepenulisan. 


Sebut saja, kelas cerpen, novel, cernak, kisah inspiratif, kelas menulis artikel, menulis buku non fiksi, termasuk juga blog. 


Bingung, kan, brandingnya aku ini sebetulnya apa. 


Dibilang cerpenis, bukan. Ini dikarenakan menulis cerpen sebatas untuk dikirim seputaran komunitas saja. Paling banter nulis bareng-bareng. Terus jadinya buku antologi, deh. 


Novelis? Bukan juga. Secara belum pernah menuntaskan satu naskah pun. Paling mentok cuma di dua bab. Setelah itu, bubar. 


Cernak? Ini agak lumayan, sih. Meski masih menulis keroyokan dan menghasilkan beberapa buah buku antologi. Aku juga menulis dan mengumpulkannya di wattpad. 


Cukup rutin aku update cernak ini di wattpad. Seminggu bisa tiga cerita. Sayang, untuk cernak, sementara kutinggalkan. Aku mau mencoba menekuni dunia per-blog-an ini. 


Gimana, ngebingungin, kan, aku? Jadi, branding akutuh penulis apa? 


Beruntung Bang Ilham Sadli memberikan materi ini. Jadi, kan, aku bisa kembali ke jalan yang lurus. 


Sebelum memulai materi utama. Bang Ilham memberikan penjelasan tentang manfaat media sosial terlebih dahulu. 


Apa, sih, Manfaat Media Sosial?

Menjaga Silaturahmi

Zaman sekolah dulu tahun 90-an, saat sudah berpisah dengan teman-teman karena melanjutkan sekolah ke daerah yang berbeda. Mengikat tali Silaturahmi melalui bertukar surat. 


Atau sesekali menelpon lewat warnet. Itupun tidak semua teman memasang telepon. Jadi mengikat silaturahmi zaman itu, lumayan penuh perjuangan. Ada yang seangkatan? 


Sekarang di era serba internet. Silaturahmi adalah hal yang paling mudah. Tidak perlu tatap muka untuk saling bertegur sapa. Tidak perlu berpelukan untuk melepas kangen. Tidak perlu berjabat tangan untuk saling berjanji. 


Cukup modal gawai android, akun medsos, dan kuota. Kita sudah bisa menjalin tali persahabatan dan persaudaraan. Istilah kata, mah, ever lasting relationship.


Perbanyak koneksi


Direktur Jenderal Penyelenggaraan Pos dan Infomatika Kementerian Komunikasi dan Informatika Ahmad M. Ramly mengatakan, "internet user pada 2020 itu sebanyak 175,5 juta mengalami kenaikan 25 juta atau 17 persen dibandingkan tahun sebelumnya pada 2019."


Hal tersebut disampaikan ketika Ahmad M Ramli menjadi pembicara kunci dalam Webinar Kominfo bertajuk Cerdas Bertelekomunikasi Melindungi Data Pribadi, (Republika-Rabu (30/9)


Menambahkan data yang telah disebut oleh Ahmad Ramli yang merupakan laporan terkini dari We Are Social, bahwa ditemukan ada 160 juta orang aktif di media sosial. 


Branding diri

Berikut media sosial dengan urutan teratas yang paling digemari oleh pengguna internet Indonesia adalah YouTube, WhatsApp, Facebook, Instagram, Twitter, Line, FB Messenger, LinkedIn, Pinterest, We Chat, Snapchat, Skype, Tik Tok, Tumblr, Reddit, Sina Weibo. (Inet.detik.com)


Melalui media-media yang disebutkan di atas. Hal yang sangat memungkinkan kalau kita bakal mendapat teman baru. Itu artinya koneksi kita bertambah banyak. 


Contohnya seperti aku. Jumlah pertemanan yang terdapat di facebook, instagram, twitter, dan linkedin lebih banyak teman baru dibanding teman yang pernah kukenal dekat, seperti sekolah atau teman kerja. 


Merekrut pertemanan itu mirip sistem MLM. Dari kenal cuma satu orang lalu akan membawa kita pada pertemanan berikutnya. Begitu seterusnya sampai kita menghendakinya. 


Branding


Brand adalah apa yang orang katakan ketika kita tidak ada dalam ruangan, (Founder dan CEO Amazon).


Nah, yang baru mau memulai branding macam aku. Mau dibawa kemanakah branding kita dan mau dikenal sebagai? 


Sebagai langkah awal, ada baiknya kita mengenal diri sendiri dulu. Ceritakan pada teman-teman dan dunia bagaimana adanya kita tanpa perlu ditutupi. Tampilkan yang sebenarnya. 


Coba, deh, lihat kembali status-status media sosial yang kita punya. Sekali waktu bacalah status-status tersebut.


Apakah status yang dibagikan ke jagad maya tersebut condong ke curhat berujung galau, inspiratif, provokasi, asal share info atau gambar tanpa cek kebenarannya, politik, tukang pamer, atau yang lainnya. 


Dari situ kita bisa melihat dengan jelas siapa diri kita sebenarnya. 


Kalau memang mau diubah branding kita. Mulailah dengan membangun siapa diri kita sebenarnya. Membutuhkan waktu memang. Tapi kalau nggak dimulai dari sekarang. Selamanya orang akan mencap apa yang sudah dilihat mereka tentang kita. 


Nyok, ah, kita semedi. Eeh, monolog, dah. Kan, bisa, tuh, kalau kita lagi ngaca ngomong sama diri sendiri. Dijamin jujur. 


Media Promosi Blog


Poin ini, mah, baru dijalani dua bulan terakhir ini. Kemarin-kemarin masih malu alias nggak pede gitu. 


Tapi, seperti yang dibilang oleh teman-teman di dunia per-blog-an. Kalau tulisannya disimpan buat sendiri, kan, sayang. Barangkali aja tulisan yang kita buat bisa bermanfaat atau menginspirasi orang banyak. 


Dari situlah, akhirnya aku memberanikan diri membagikan tulisanku di media sosial. Nggak apa tulisannya belum sebagus dan sebaik teman blogger profesional. Teman-teman di medsos juga tahu kalau aku masih belajar. Ya, kan? 


Nah, ini topik yang paling ditunggu di antara poin-poin yang sudah disebutkan di atas. Menurut Bang Ilham, blogger dan media sosial adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. 


Berikut Cara Branding Diri di Media Sosial:


Tentukan Audience 


Tentukan berdasarkan usia, pendidikan, kebiasaan, gaya hidup, hingga hal yang paling disukai. 


Jadi terbayang kalau bikin cerpen. Tulisannya ditujukan untuk pembaca usia berapa. Pendidikan para pembaca ada ditingkat apa. Kebiasaan para pembaca seperti apa. Apakah mereka suka fiksi atau non fiksi? Apakah gaya hidup mereka sederhana atau high society.


Dengan mengetahui hal-hal tersebut diatas. Maka kita dapat menentukan topik, jenis tulisan, dan gaya bahasa. Agar semua tepat sasaran dan tulisan kita memang benar dibutuhkan oleh mereka. 


Mau Dikenal Sebagai Siapa? 


Ketika menggunakan media sosial ingin dikenal sebagai apa dan siapa? 


Kalau aku selama ini selalu berusaha menggiring teman-teman di media sosial untuk melihat aku sebagai penulis. Dan itu berhasil. 


Cuma ada yang harus diperbaiki. Sebagai penulis yang sedang menuju profesional. Jenis tulisanku belum jelas. Apakah fiksi, non fiksi, atau blogger. 


Semangat branding


Apa Bedanya dengan Akun Lain? 


Berikan sesuatu yang khas, minimal itu di caption atau difoto, atau bahasan, atau sudut pandang. 


Huhu, belum punya ciri khas. Kayaknya ini mau tanya anggota keluarga, saudara, atau tetangga buat survey. 


Sudut pandang di blog baru diputuskan menggunakan POV 1. Di medsos bakal diseragamin juga, deh.


Bahasan yang harus diluruskan. Beda jauh antara blog dengan medsos. Butuh perjuangan ekstra keras. 


Tentukan Arah Akunnya


Sapaan untuk followers, gaya bahasa, penggunaan kosa kata. 


Sapaan untuk followers baru dipikirin beberapa hari belakangan ini, sih. Asli bingung cari yang beda dengan yang sudah ada.


Cupuers?  Punya Coach Marita, nih. 

Teman-teman? Sudah biasa dipakai ini, mah. 

Pals? Kayaknya Coach Marita pakai sapaan ini juga, deh, di blogya. 

Sobat? Sahabat? Sudah banyak, pun, yang pakai ini. 

Bunda? Lah, yang baca, kan, ada laki-lakinya juga. 

Pembaca Desi's corner? 

Atau teman Desi's corner? 


Pusing juga. Nanti, deh, dipikirin lagi. 


Oke, bagian gaya bahasa dan kosa kata, jujur belum berjalan mulus. Setelah dibaca-baca kembali caption di medsos. Ternyata gaya bahasa yang digunakan di blog dan medsos berbeda. 


Kalau di blog bahasanya santai. Kalau di medsos, mendayu-dayu gitu. 


Mari merenung kembali untuk mencari perbedaan dengan akun lain. 


Branding

Sumber: Marathon coaching's Ilham Sadli


Konsisten


Siap! Nanti kalau sudah ketemu yang sreg dan pas di hati. Insha Allah bakal konsisten. 


Sekarang, pencarian jati diri dulu. 


Bang Ilham Sadli sudah memfokuskan diri di twitter. Beliau sudah menemukan jati dirinya sebagai Blogger yang Mellow di twitter. Sehingga otomatis followernya sudah banyak. 


Beliau membagikan tips agar aku dan kita semua yang baru nyemplung di twitter mungkin saja bisa mengikuti jejaknya. 


1. Lakukan interaksi

2. Jangan saling follow dengan yang satu profesi

3. Selalu perhatikan analytics

4. Sering muncul di konten yang viral dengan komentar nyentrik


Kalau buatku twitter adalah hal baru. Belum ketemu feell nya main di sana. Nantilah, kalau di IG dan FB berhasil, jajal di twitter. 


Kalau menurut teman Desi's corner, branding aku apa? 

Eeh, cocok nggak, tuh, pake sapaan itu?  😋













Komentar