Saat Bibir Tak Berucap, Biarkan Jemari Menari Di Atas Keypad

Nggak tahu sudah berapa kali menulis alasan mengapa menyukai dunia tulis-menulis. Suka aja kalau jemari menari di atas keypad. Nggak perlu ngoceh sampai mulut berbusa.

Sebenernya bisa aja, sih, nyontek atau copy paste gitu dari tulisan-tulisan sebelumnya. Tapi, ntar nggak bisa lihat atau ngebandingin alasan menulis dari tahun ke tahun, dong. 


Ya, iya, beberapa kali ikut kelas menulis masa nggak ada kemajuan. 


Mencari Jati Diri


Jemari menari, keypad, bibir tak berucap


Sebetulnya akutuh sudah terjun ke dunia tulis-menulis itu di pertengahan tahun 2016. Di tahun itu juga untuk pertama kalinya punya blog. Secara setor tugasnya via blog gitu.


Sayang, nggak sampai hitungan bulan, dikeluarkan dari grup. Secara belum bisa membagi waktu antara bekerja di ranah publik dan menulis.


Mental tempe emang nih, aku, waktu itu. Setelah keluar dari grup komunitas menulis yang setorannya pake blog itu. Aku mencoba untuk mengambil kelas cerpen. Coba cari gaya menulis yang lain (1).


Sempat bertahan setahun di grup cerpen ini. Dan menghasilkan beberapa buku antologi. Niatnya, sih, mau bikin buku atau novel solo gitu. Apa daya diri malah malah nyemplung ke grup menulis cernak. Coba cari gaya menulis lain (2).


Di cernak ini, sempat merasa bahwa menulis cerita anak adalah gue banget. Secara menulis cerita anak itu, kan, jumlah katanya paling banyak 200 kata. 


Sama dengan cerpen. Setelah menghasilkan beberapa buku antologi cernak baik itu fiksi dan non fiksi. Hati berbelok untuk mendalami blog lagi. Padahal niatnya mau bikin buku solo anak. 


Ternyata dunia kepenulisan itu banyak cabangnya. Ilmunya juga berbeda-beda.


Hal ini semakin menantangku untuk mencari kenyamanan pada sepuluh jemariku untuk bercengkrama dengan keyboard.


Akankah blog menjadi pelabuhan terakhir? 


Blog, Tundukkan Aku, dong! 


Awal tahun 2020 ini blog menyapaku dengan tantangan. Ia datang ditengah aku sedang asyik menulis di wattpad.


Konsentrasi saat itu adalah membaca buku anak dan film kartun. Atau mengamati anak-anak bermain sekadar mencari ide cerita. 


Bahkan dalam waktu seminggu aku bisa menulis dua sampai tiga cerita. Pembaca dan follower pun bertambah. Makin semangatlah menulis. 


Kujalani dua dunia yang berbeda itu. Sempat bertahan beberapa bulan dengan menjalani dua jenis tulisan tersebut. 


Sampai akhirnya lewat pertengahan tahun, aku menyerah. Blog berhasil membuatku bertekuk lutut. Komposisi menulis menjadi dominan blog dibanding wattpad.


Blog, Kamu adalah Alasanku Jemari Ini Menari di Atas Keypad dan Juga Bertahan di "Dunia" Ini


1. Kamu (blog) Membuatku Mengenal Diri Sendiri


Begitu banyak topik pembicaraan yang ada di kepalaku. Begitu berisik isi kepalaku ini. Tidak pernah melihat situasi dan kondisi. Isi kepala ini selalu ribut. 


Ketika memasak, mencuci, menyetrika, dan bebenah rumah. Terlebih bila berdiam diri, ribut semakin menjadi. 


Menulis cerpen dan cernak bisa mengalihkan pikiran-pikiran tersebut. Istilahnya, " lo" bikin ribut, kelar hidup "lo" di cerita gue. 


Tapi melalui kamu (blog), isi kepalaku terdiam. Jari yang bergerak lewat keypad menuangkan "keributan" dari isi kepala ini, akhirnya tumpah ruah di layar putih gawaiku. 


Semua dapat diungkapkan tanpa perlu diselimuti oleh cerita fiksi lagi. Semua uneg-uneg dalam hati dapat dikemas dengan caraku.


Sehingga bagi orang lain yang membacanya, dapat merasakan kalau tulisan itu adalah pengalaman seperti yang mereka alami. 


2. Menasihati Diri


Sungguh hati lega dan menyenangkan dapat berbicara bebas pada diri sendiri.


Meski berbicara bebas, pun, tetap mengharuskan merujuk pada nasihat tulisan para pakar. Seperti ahli agama, psikolog, atau pengalaman orang lain. 


Itu semua harus dilakukan agar nasihat yang ditujukan pada diri dapat juga dibaca oleh yang lain dengan enak. Tanpa merasa digurui atau dinasihati seperti orang tua pada anaknya. 


Ya, kayak ngobrol sama diri sendiri gitu, deh. Debat yang berujung dengan hasil positif. 


3. Jejak Kehidupan


Kamu (blog) adalah rekaman jejak hidupku. Memang fotoku ada di kamu tidak sebanyak di album atau galeri foto di gawai. Tapi cerita kehidupanku banyak tertulis di sana. 


Bila kelak senja menyapa diri. Bila ingatan perlahan melemah. Aku tahu kamu akan selalu hadir menemani hari-hariku dengan senyum.


Senyum yang kelak akan membuatku mengingat dimana hari-hari yang pernah kutulis pernah kualami. 


Oh, iya, tentu. Cucu, cicit, bahkan sampai keturunan ketujuh pun dapat melihat dan membaca tentangku. Pastinya akan menjadi guru terbaik bagi mereka.  


3. Penulis, Editor, Penerbit


Kalau cerpen dan cernak membutuhkan editor dan penerbit sebelum mencetak tulisan dalam bentuk buku. Tapi kamu tidak. 


Aku adalah seorang penulis, editor, sekaligus penerbit. Meski bebas merdeka berbicara semauku. Tetap setiap tulisan yang bakal terbit akan diedit terlebih dahulu. 


Semua dilakukan agar tulisanku enak dan nyaman dibaca. Kesopanan dan etika dalam menulis juga penting.


Bukankah dengan begitu teman-teman yang membacamu menjadi betah dan ingin selalu kembali melihatmu?


4. Kamu Datang Gaptek Hilang


Ngeblog itu bukan sekadar menulis. Kalau diary cuma butuh buku dan pulpen. Tapi kalau kamu, aku harus pintar. 


Adanya kamu, membuatku harus belajar memotret dan mengeditnya. Kamu membuatku mengenal beberapa aplikasi untuk menunjang penampilanmu. Sebut saja canva dan picsart


Bahkan untuk mengisimu, aku harus belajar SEO, GA, GSC, apa itu PA, DA, dan segala macam istilah yang harus dicari tahu dan dipelajari. 


Beruntungnya diriku dapat mengikuti Blogspedia Coaching for Newbie. Sehingga aku bisa mengenalmu lebih personal.


Kamu begitu istimewa. Malah terkadang kamu ditempatkan di urutan teratas sebelum kegiatan rutin rumah tanggaku. 


Begitu istimewanya dirimu. Aku menyediakan waktu khusus agar kamu dan aku bisa berdua. Berdua tanpa ada yang mengganggu. 


Ini caraku agar aku dan kamu selalu dekat:


1. Setelah Ibadah Subuh


Ini adalah waktu untukmu. Sunyi, sepi, gelap. Meski hanya satu jam tapi ini adalah waktu yang berkualitas untukmu. 


Sungguh aku dan kamu sangat menikmati kebersamaan di waktu yang ini. Dunia serasa milik kita. 


2. Disela Pekerjaan Rumah Tangga


Maaf, di waktu yang ini kamu bukan prioritas. Tapi kamu hadir menghiburku. 


Saat aku menunggu rendaman cucian untuk dijemur. Kamu aku hadirkan meski cuma lima belas menit.


Saat menunggu masakan matang pun, dirimu dihadirkan.


3. Istirahat Siang


Kamu dihadirkan saat istirahat siang. Menemaniku sebelum mata terpejam. 


Tidak lama memang. Mungkin hanya satu paragraf atau mungkin hanya sekadar riset dengan membaca berbagai referensi. 


4. Menjelang Tidur Malam


Ini adalah waktu spesial untukmu. Sunyi dan hening. Hanya suara dengkur halus dari tubuh yang terbaring disebelahku. 


Ini adalah waktu terlama untukmu di setiap hari. Meski ceritaku tidak selesai. 



Semoga waktu selalu memberiku kesempatan pada jemari ini untuk menari di atas keypad. Mari kita berdoa, semoga kita selalu bersama dalam suka dan duka.














Komentar

  1. Suka gaya berceritanya mbak Desy.. ngalir gitu.. unik juga. Jadi pengen baca cernak buatan mbak Desy.. ayolah buku solonya dibuat, antre PO pertama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Mbak Marita. Masih harus belajar banyak biar kayak Mbak Marita. Asiik, dapet semangat. Doain ya biar cepet terbit buku solonya. Oh iya, ini link wattpadnya https://my.w.tt/QCBKuItoBab. Terima kasih.

      Hapus
  2. Gaya bahasa yang sulit saya pahami karena tidak terbiasa dengan bahasa cerpen. Terima kasih sudah berikan tips untuk tetap menulis di setiap waktu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak Ina. Tulisannya dibikin pake POV 2. Pas nulis tiba² mengarah kesana. Efek habis baca buku kayaknya :).

      Hapus
  3. Hi kak salam kenal.
    Blog bisa jadi teman setia ya kak dikala lagi suka maupun duka. Aku pribadi blog aku jadikan sebagai galeri kehidupanku atas prestasi atau pencapaian yang telah aku buat sendiri. Misalnya berhasil untuk meliput suatu event nah itu biasanya aku share lewat tulisan agar berbekas dan menjadi media buat anak cucuku nantinya. Semangat nge-blog ya kak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal kembali Kak Yopi. Semoga kita istiqomah di dunia per-blog-an ini ya, Kak. Aamiiin. Kan, tujuan kita mah nggak muluk². Bisa nulis, berbagi dan bermanfaat.

      Hapus
  4. Semoga bertahan. Sepuluh tahun pertama adalah waktu yang kritis bagi blogger untuk menentukan apakah dia suka menulis blog atau tidak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masha Allah, 10 thn? Kayak ujian pernikahan aja. :). Semoga lewat ujiannya. Terima kasih kakak untuk supportnya.

      Hapus
  5. semangat mbak dessy, apalagi sudah beli domain biasanya lebih semangat. aku jg suka nulis sebelum subuh pas anak-anak masih pada tidur.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Mbak Shafira buat semangatnya. Masih harus belajar banyak.
      Pagi² masih gelap emang waktu paling enak ya, Mbak.

      Hapus
  6. Suka banget dengn cara penyampaiannya. Storytelling, berbicara dengan blog seolah benda hidup, menumpahkan keributan yang ada di kepala.
    Semoga terus berdamai dengan dia dan membersamai ya sampe nanti yaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, disuka sama Mbak Nchie. Terima kasih. Ceritanya coba menulis gaya lain buat blog. Pertama dibaca, kok, aneh. Tapi di post aja, deh.
      Aamiiin, terima kasih juga buat doanya. Semoga betah terus ngeblognya.

      Hapus
  7. Wah keren, berhasil menaklukan fiksi, apalagi fiksi anak sebelum ke blog
    Saya paling ngga bisa nulis fiksi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih belajar nulis cernaknya juga, Mbak Maria. Sekarang mau coba ngeblog gaya fiksi biar nggak ngebosenin nulisnya.

      Hapus
  8. Semangat Mba! Jadikan blog teman di segala suasana dan jadikan blog teman menyenangkan yang bukan selalu menghantui dengan poin-poin dikte :)
    Jika Blog sudah dikenal dekat dan kita mampu bersahabat serta merawatnya, in syaa Allah blog akan memberikan banyak hal :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih teh Ani buat semangatnya. Alhamdulillah ketemu Teh Ani. Seneng banget bisa langsung belajar di ISB. Semoga bisa seperti teh Ani dan teman² di ISB. Bisa berkarya lewat blog. Aamiiin.

      Hapus
  9. yeay tim abis subuh mruput ke laptop juga nih teh. Suka sekali kalo berkunjng ke blognya teh desi suka kayak lagi baca cerpen gitu, ternyata teh desi tuh emang seorang cerpenis(panggilan buat pembuat cerpen?).

    Distraksi ide yang muncul saat melakukan pekerjaan rumah itu emang asyik ya teh. Ada ide-ide saat mencuci misal pengen nulis ttg satu hal ini itu dll. Jadi lebih baik sih daripada ga keidean sama sekali gegara2 fokus main gawai, hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nulis cerpennya juga masih belajar nih, Mbak Ghina. Alhamdulillah kalau suka. Nulis cerpen buat pelarian klo lagi bete heuheu.

      Ternyata kita cari idenya sama. Sambil nyuci dan beberes rumah. Tos lah kita.

      Hapus
  10. Banyak hal yang bisa dituliskan di blog ya. Aku pun dari blog ini malah jadi terapi juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, betul Mbak Lis. Di rumah kan seringnya sendirian. Jadi daripada bengong dan bete. Mending ditulis aja.

      Hapus
  11. Kita sama dipoin pertama. Blog itu bisa buat mengenal diri sendiri.
    Apalagi pas sulit untuk dibicarin, nulis di blog bener-bener bikin lega.

    BalasHapus
    Balasan
    1. He eh, betul Mbak Lusi. Blog itu tempat menempa diri supaya kita lebih bijak dalam berbagi cerita, supaya bisa jadi manfaat buat yang baca tulisan kita.

      Hapus
  12. Bacanya santay banget nih, berasa ngobrol sama mbak Desi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Bunda Wita. Saya orangnya juga santai, kok. Yuk, kita ngobrol beneran. Semoga kita bisa dipertemukan ya, Bun.

      Hapus
  13. Baca ini seperti ngomong langsung sama penulisnya...eheheheh enak dibacanya mbaak...sukses selalu yaaa... Sudah master nih sepertinya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Bun. Sukses buat kita berdua.
      Master? Aamiiin. Semoga tercapai jadi master beneran 😊. Terima kasih Buuuun

      Hapus
  14. Keren mbak, kata orang kan cinta datang karena terbiasa. Terbiasa menghabiskan waktu dengan blog ya lama-lama bakal jatuh cinta

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul betul Mbak Mulya. Kalau udah cinta, apa aja bisa dilakukan. Biar capek, kalau udah cinta nggak bakal dirasa.

      Hapus
  15. Dari pertama baca judulnya udah bagus banget. Bikin penasaran dengan isinya. Masyaallah, aku suka gaya bahasanya, Mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah Mbak Dini suka. Terima kasih. Masih terus belajar barenga Mbak Dini. Semangat buat kita!

      Hapus
  16. aku harus banyak belajar nih dari mba desi. mohon ijin nya mbak, angkat aku jadi muridmu.. heuheu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wuaaah, sama nih, saya juga masih belajar. Cuzz yuk, ah, kita belajar bareng, Mbak Heny.

      Hapus
  17. Sudut pandang Anda unik sekali, Mbak. Saya suka. Lain dari yang lain.
    Saya suka dengan cara Mbak memaparkan manajemen waktunya. Praktis. Realistis. Aplikatif.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Mbak Nia. Mencoba eksplore gaya menulis ceritanya. Semoga bermanfaat sharing manajemen waktunya.

      Hapus
  18. masya Allah, mbak Desi ini penulis toh 😍 jangan jangan kita pernah barengan di salah satu kelas menulis mbak hihihi semangat yaaaa ngeblog nya dan semangat menabung tulisan buat buku solonya 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh, bisa jadi. Panggilannya Mbak Iput bukan, ya? Atau jangan² kita ODOPers.
      Terima kasih untuk doanya Mbak Puput. Aamiin. Semoga ceper terlaksana punya buku solo.

      Hapus

Posting Komentar