Mengembangkan Jiwa Wirausaha di Masa Remaja? Simak Kisah Sederhana Ini

Siapa sangka bimbingan skripsi kakak akan dijalani secara daring. Mulai dari Sempro (Seminar Proposal) sampai sidang akhir. Semua dilakukan secara daring. 


Akibat kegiatan perkuliahan daring, uang saku kakak juga terhenti. Ya, kan, bapaknya selama pandemi stay at home. Pemasukan juga terjun bebas. Mau nggak mau, suka nggak suka, kakak kudu terima keadaan dompetnya kosong tak terisi. 


Nggak ada kata kebetulan, karena semua memang sudah diatur Tuhan. Begitu yang aku tahu dari ajaran agamaku. Tapi apa daya kata "kebetulan" nggak pernah lepas dari bibir. Selalu enak diucapkan bila kita menerima sesuatu yang sedang diinginkan tapi tanpa diharap terwujud. 


Seperti kakak. Berbulan-bulan tidak mendapat uang saku. Tanpa sengaja ia menemukan supplier hijab. Harapanku sebagai mamaknya sih, semoga kakak menjadi wirausaha baru dengan produk yang sedang digarapnya ini. 


Ceritanya begini:

"Mah, Kakak beli hijab tadi deket rumah Uti." Kakak memerlihatkan hijab syar'i warna hitam dan biru ketika baru saja sampai di rumah.  


Mulutku ternganga ketika kakak menyebutkan harga untuk satu hijab yang ia beli. Murah banget. Bahkan di olshop pun untuk kualitas seperti hijab kakak itu nggak ada yang dibandrol segitu murahnya. 


Bahannya cukup tebal,  nggak menerawang, dan adem pas dipakai. Nama bahannya Hyget Super. Waktu kakak bilang bahannya nggak gampang kusut. Aku jadi pembeli pertama dalam keluarga. Arti kata nggak gampang kusut berarti nggak usah menyetrika. Dan itu artinya irit tenaga dan listrik. 


"Beneran harganya segitu, Kak?" 


Aku pun menyimpulkan sendiri waktu kakak mengiyakan soal harga yang terbilang cukup murah tersebut. 


Mungkin karena mereka sedang mengembangkan wirausahanya, maka harga yang diberikan murah. Macam promo gitu. Tapi kakak bilang, konveksinya sudah berjalan lama. 


Ah, nggak tahu, deh. Mungkin juga karena mereka produksinya partai besar. Jadi harganya bisa lebih murah dari pasaran. 


"Kenapa nggak Kakak jualin aja itu hijabnya." Spontan otak dagangku bekerja menganjurkan kakak untuk menjual hijab-hijab tersebut. Kesempatan untuk menumbuhkan jiwa wirausaha muda, nih, pikirku. 


Selama ini kakak memang ingin berjualan seperti aku, mamaknya. Cuma belum ketemu produk yang cocok. Terlebih modal adalah salah satu faktor utama untuk mengembangkan wirausaha tersebut. 


Baca juga: Cari Passion Yuk


"Gimana caranya, Mah?" tanya kakak dengan antusias ingin mendengar saranku. Matanya berbinar seolah berkata, 'hai dunia! Aku adalah calon wirausaha baru.'


Aku membetulkan posisi duduk agar lebih tegak. Lalu berkata, "Begini, Kak, caranya."


Mengumpulkan Informasi


  • Apakah pihak produsen menerima usulan tata cara jual beli yang diajukan oleh kakak? 


Aku mengusulkan agar pihak penjahit dalam hal ini adalah sebagai produsen, dapat menerima order per pesanan atau tanpa minimum order yang dibuat oleh kakak. 


Sehingga transaksi terjadi bila ada order. Tidak ada sistem deposito, konsinyasi, atau dropshipper. Sistem jual beli yang dipakai adalah jual beli putus. 


  • Apakah produsen menerima label sebagai merek hijab yang diajukan oleh kakak? 


Dan ternyata informasi yang didapat dari kakak sangat menggembirakan. Di produsen penjahit tersebut sudah menyimpan beberapa label merek dari banyak orang seperti kakak. 


Terjawab sudah perkiraanku mengapa pihak produsen hijab dapat memberikan harga murah. 


Pihak produsen sungguh ikut berperan dalam menumbuhkan jiwa wirausaha muda seperti kakak. Kakak yang memiliki modal semangat lebih besar dari modal materi mendapat angin segar untuk mengembangkan wirausaha yang dirintisnya. 


Baca jugaRI Bidik Jumlah Pengusaha Bisa 10 Angkatan Kerja


  • Berapa lama proses menjahit hijab semenjak order diterima? 


Karena produsen sudah berbentuk konveksi. Setiap hari produksi. Maka stok selalu ada. Bahkan bahan kain meterannya pun siap sedia bila ada pesanan yang tidak ready stock. 


  • Apakah boleh kakak mengambil gambar hijab dengan kamera gawainya untuk keperluan promosi? 


Alhamdulillah pihak produsen mengizinkan untuk mengambil foto. 


Terbayang kalau nggak diberi izin. Masa kakak harus membeli koleksi hijab sebanyak dua puluh tiga warna dan tiga model dari masing-masing hijab? 


Kurang lebih satu minggu kakak bolak-balik ke produsen hijab untuk keperluan foto.


Mengembangkan-jiwa-wirausaha-di-masa-remaja-?-Simak-kisah-sederhana-ini


Untung lokasinya nggak jauh dari rumah. Untungnya lagi bapaknya mendukung kakak untuk menumbuhkan jiwa wirausaha mudanya. 


Jadi dengan senang hati ia mengantar kakak wara-wiri untuk memulai dan mengembangkan wirausahanya itu. 


Persiapan Kelengkapan Jualan


  • Mempersiapkan merek dagang

Dengan bermodalkan gawai dan aplikasi canva. Kakak membuat mendesain merek (label) dagang sendiri. 


Setelah pesanan secara online untuk merek dagang datang ke rumah. Kakak mengirimkan label merek tersebut pihak produsen. Jadi kalau ada pesanan, mereka tinggal jahit label merek kakak itu. 


  • Menyiapkan kemasan


Masih menggunakan aplikasi canva di gawainya. Kakak mendesain kemasan akhir untuk hijabnya. 


Mengembangkan-jiwa-wirausaha-di-masa-remaja-?-Simak-kisah-sederhana-ini

Kakak berjanji untuk order berikutnya. Ia akan go green tanpa menggunakan bahan dasar plastik sebagai kemasan akhir untuk hijabnya.      


Promosi


  • Instagram

Sambil menunggu koleksi foto hijabnya terkumpul. Kakak membuat akun instagram terlebih dahulu. Memperkenalkan merek hijabnya pada khalayak ramai #gaya. Istilah kata, mah, soft launching gitu. 


Lewat IG itulah teman-teman kakak diinformasikan, kalau dalam waktu tidak lama lagi, kakak akan meluncurkan produk hijab.


Mengembangkan-jiwa-wirausaha-di-masa-remaja-?-Simak-kisah-sederhana-ini
Foto: instagram balqishapparel

  • Membuat akun di marketplace

Kalau bagian ini aku kurang mengikuti. Tahu-tahu kakak minta tolong aku untuk bantu pasang video promo shopeenya di status wa ku. 



Kerenlah anak gadisku ini. Anak milenial memang penuh kreativitas. Benar-benar seorang wirausaha "baru". Bukan kayak aku, mamaknya seorang wirausaha "lama".


Selain shopee, kakak juga membuat akun di Bukalapak dan Tokopedia. Malah dua hari yang lalu pun kakak bilang kalau ia bergabung dengan marketplace di FB. Benar-benar serius ia mengembangkan wirausahanya.


Sekarang kakak sedang asyik menyelami dan mengembangkan jiwa wirausahanya itu. Order memang belum banjir. Tapi keuntungan yang didapat telah diputar untuk membeli perlengkapan foto produk. Seperti properti pendukung foto agar lebih cantik, lampu, dan beberapa item lainnya. 


Aku sebagai mamaknya cuma bisa memberi masukkan atau berdiskusi. Kalau soal keuangan dan cara hitung modal, kakak pasti lebih mengerti. Secara kuliahnya kakak, kan, jurusan akuntansi. Baru lulus pula. Ilmu-ilmunya masih ngelotok di kepala. 


Ayo kita dukung pemerintah untuk menciptakan 4 juta pengusaha baru. Kita mulai dari anggota keluarga, kerabat, atau tetangga. 


Baca juga: Indonesia Masih Butuh 4 Juta Entrepreneur Baru


Kalau kita belum bisa jadi pengusaha. Setidaknya kita dapat memberi ide, semangat, dan dukungan. Agar kita dapat menumbuhkan jiwa wirausaha muda.


Sebagai penutup, teman-teman dapat melihat koleksi hijab kakak dengan klik link koleksi hijab.


Terima kasih. Selamat berbelanja #eeh







Komentar

  1. Wahh enak deh kalo punya orang tua yang mengerti sistem dagang atau usaha juga. Jadi bisa diajarkan langsung ke anak dan membantu mempraktikannya . Semoga makin sukses ya usahanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiiin. Terima kasih doanya. Kebetulan mamaknya ini ikut komunitas jualan gitu. Jadi ilmunya bisa ditransfer deh 😉

      Hapus
  2. Wah, kakak sudah punya minat ya di bidang bisnis. Semoga bisa berkembang dan kakak bisa jadi pebisnis handal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiiin. Terima kasih tante untuk doanya. Masih belajar juga, nih, Tan.

      Hapus
  3. Wah sharing yang bermanfaat nih mbak, bisa mengarahkan si kaka untuk berani memulai untuk berwirausaha sedini mungkin. Bener aku setuju, anak milenial itu musti kreatif yaa mbak. Semangat terus mbak dan kakak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, biar nggak usah kerja sama orang, Om. Belajarnya sama teman²nya yang bikin usaha juga. Sesama anak muda kumpul, hasilnya jadi kreativitas, deh. Terima kasih untuk doanya, Om.

      Hapus
  4. Masyaa Allah Mba, saya ikutan semangat membaca kisah ini!
    Semua yang dilakukan Kakak semoga berkah karena sudah berusaha dan berikhtiar dengan baik memanfaatkan peluang. Salam buat Kakaknya ya Mba :)
    Semoga sukses selalu. Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin ya Allah. Terima kasih Teh Ani. Belajar memenuhi kebutuhan sendiri ceritanya kakak. Nggak gampang, tapi seperti yang dibilang Teh Ani. Mencoba dan berikhtiar memanfaatkan peluang.

      Hapus
  5. Wah salut sama semangatnyaa si kakak nih.. semoga usahanya makin maju, lancar, laris manis dan barokah. Dukungan ortu dan semangat seperti ini nih yang patut dicontoh keluarga lain ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Terima kasih Mbok Bet. Apalah kita orang tua yang harus selalu dukung usaha anak. Keinginan orang tua selalu ingin anaknya berhasil dalam setiap usahanya.

      Hapus
  6. Support sekali mbak sebagai ibunya nih. Apa usianya nggak begitu terpaut jauh ya? hihi. Semoga laris manis ya kakak usahanya. Sebagai generasi milenial saya juga masih merasa banyak ketinggalan utk menguasai teknologi nih, emang kudu dipaksakan ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heuheu, beda usia saya dan kakak dua puluh tahunan, Mbak. Jadi terkadang kita saling transfer teknologi, halah gayanya saya haha. Tapi, terima kasih untuk doanya. Harapan orang tua mah, biar gap anak milenial sama ibunya nggak jauh² amat. Biar tetep nyambung kalau diskusi soal bisnis.

      Hapus
  7. MasyaAllah ya mbak, semoga sukses dengan usahanya :)
    Apalagi dimasa pandemi seperti ini, berwirausaha bisa menjadi solusi ketika mendapati kesulitan ekonominya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiiin ya Allah. Terima kasih untuk doanya, Kak. Betul, selama pandemi gini kita harus cari peluang. Paling banter buat menuhin kebutuhan sendiri dulu. Seperti kakak.

      Hapus
  8. Masya Allah, maju terus Kakak.Mamak dan Bapak mendukung, alhamdulillah banget. Anak bujangku pun saat Hari Kemerdekaan jualan baju kaos edisi Hari Kemerdekaan, sebagai mamaknya saya bantu promo di Instagram.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Mbak Mugniar. Iya, betul. Kita mah sebagai ortu cuma bisa dukung usaha anak². Iya, kan, mamaknya ikutan promosiin heuheu

      Hapus
  9. MaasyaAlloh, keren banget punya ibu yang bisa support anaknya jadi wirausaha. Kalau ibuku dulu malah bilangnya gak usah jualan lah hehehe.. ketulah deh, aku beneran jadi wirausaha sekarang. Next semoga aku bisa ikut support anakku belajar berwirausaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kan, Mbak. Jangan sampai kayak aku ibunya. Telat semuanya. Telat cari passion, telat cari usaha, telat semua²nya. Kalau bukan ortunya, siapa lagi yang mengarahkan dan beri support buat anak². Semangat buat kita! :)

      Hapus
  10. Semoga usaha anaknya lancar ya mbak. Mantap jadi bisa saling kolaborasi antara ibu dan anak. Salut sama anak yang punya inisiatif buat berusaha. Ngga semua orang kaya gitu soalnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiiin ya Allah. Terima kasih untuk doanya, Kak. Akunya yang duluan jualan tuh, Kak. Trus, kakak cari produk buat usaha yang sesuai sama dia. Alhamdulillah, ketemunya pas pandemi. Jadi, kita berdua suka saling promoin produk, deh. Eh, tapi akunya lagi vakum dulu selama pandemi. Ambil barangnya soalnya dari luar kota.

      Hapus
  11. Alhamdulillah, sudah terbuka Jalan Kakak berwirausaha, tinggal istiqomah, semangat dan innovative mengembangkan bisnisnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih om Arief buat semangatnya. Insha Allah istiqomah. Sambil cari produk lain buat tambah koleksi dagangan.

      Hapus
  12. kakak tuh anaknya mbak Desi?

    Hihihi di awal saya bingung, siapa sih kakak

    Saya setuju, ketrampilan entrepreneur ngga muncul begitu saja. Harus dikenalkan, dan terus diasah agar jadi wirausaha yang sukses

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heuheu, iyah, Mbak Maria. Kakak itu anak saya.

      Iya, betul. Itu yang saya coba lakuin. biar ngembangin jiwa wirausaha. Harapannya buat kakak, sih, semoga bisa buka lapangan kerja. Aamiiin.

      Hapus
  13. Wah, tentu bangga rasanya ya kalo anak sudah punya jiwa wirausaha. Semoga bisnis yg dijalankan ini bisa sukses dan laris di masyarakat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiiin. Terima kasih akak. Ini masih diasah jiwa wirausahanya. Biar makin andal dan bermanfaat buat masyarakat banyak.

      Hapus
  14. Alhamdulillah kakak sudah bisa wirausaha.. selamat dan tetap semangat ya Kak. klo soal digital marketing, anak sekarang lebih keren :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih tante Wida. Insha Allah semangat terus.

      Iya, betul. Anak sekarang mah jago sama teknologi. Ada ibunya yang minta diajarin heuheu

      Hapus
  15. wah mantap kak... jadi inget usahaku dulu jaman kuliah d3 jualan kerudung juga dan sebagai laki-laki aku gamalu ngejualinnya. bahkan aku seneng bisa cari uang sendiri pas kuliah dulu heheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, ini lebih keren. Lebih dulu terjun ke dunia usaha. Mana jualan kudungan lagi. Top, deh. Klo jualan mah jangan malu. Malu nggak bikin maju #nunjukdirisendiri. Heuheu

      Hapus
  16. Masya Allah, punya mama yang mendukung seperti ini jadi lebih semangat malah dalam wirausaha. Awalnya memang tampak biasa saja, tetapi ternyata ada peluang wirausaha yang dijalankan. Mantap

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kakak. Ssbagai mama, cuma bisa dukung dan kasih semangat. Peluang selalu ada, cuma kemauan untuk memanfaatkannya yang terkadang bikin ragu. Biasanya sih takut gagal gitu.

      Hapus
  17. Kakak keren banget nih. Sukses buat usahanya. Mamanya juga keren nih. Di rumah saja tetap bisa berwirausaha ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiiin ya Allah. Terima kasih doanya tante Lis. Nggak dapet uang saku, jadinya jualan, deh. Diam di rumah tapi tetap berdaya. Gitu kakak bilang.

      Hapus
  18. waah mantap mba, seneng bgt pas baca ceritanya, pandemi jadi peluang utk berbisnis anaknya mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mbak Putri. Selama di rumah, dia mikir, tuh. Mau usaha biar bisa punya uang sendiri. Alhamdulillah ketemu jalannya.

      Hapus
  19. Aku bacanya serious banget ini Mbak hehe barakallah buntik anaknya ya Mbak lancar terus jualannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih doanya Mbak Visya. Seriusnya nggak bikin kening berkerut, kan? Heuheu

      Hapus

Posting Komentar