Mengenal Lebih Dekat Dengan Mulyaspace

Banyak orang suka kepo sama kehidupan orang lain yang terkadang berujung gosip. Tapi disini, aku bakal beberin siapa, sih, Mulya Riza Rahmawati pemilik Mulyaspace ini? Biar kamu nggak kepo. 

mengenal mulyaspace

Foto: Mulya Riza Rahmawati


Berikut adalah rangkuman percakapan yang sudah kutulis dengan gaya menulisku tanpa mengurangi arti dengan apa yang disampaikan oleh Mbak Mulya. 


Arti Mulyaspace


Sepintas alamat blognya biasa saja. Mulya untuk nama dan space kalau diartikan adalah ruang. Jadi, maksud penamaan blognya menjadi Ruang Mulya. 


Tapi, eh, tetapi, blog yang memiliki nama sama dengan pemiliknya ini punya plesetan kreatif. Yaitu Mulya's pace dari dua buah kata Mulya dan pace. 


Pace artinya adalah langkah. Sehingga kalau dua kata itu digabung menjadi Langkah Mulya.  


Keren, kan? Nama blognya jadi punya dua arti. Anak milenial sekarang memang kreatif dan penuh ide. 


Semoga aku juga tertular mempunyai cara berpikir seperti anak milenial meski usia hampir setengah abad. Aamiiin. 


Alasan Ngeblog 


Cewek manis berkacamata yang memiliki bulan lahir sama dengan anakku ini ternyata asli berasal dari Lampung. Kirain numpang kuliah aja. 


Bagaimana nggak asli orang Lampung. Wong, ibunya bersuku Palembang-Lampung dan sang ayah juga bersuku Lampung. Jadi, confirmed,  asli Lampung, dah. SAH.


Mbak Mulya salah satu karakternya mirip denganku, suka mengamati gerak-gerik orang lain. Harusnya kita berdua kuliah di jurusan psikologi ya, Mbak Mul (eh, boleh disingkat gitu, nggak namanya?) :)


Dan karakter yang suka mengamati gerak-gerik orang ini dikuatkan dengan hasil tes kepribadian MBTI (Myers-Birggs Type Indicator) yaitu INFJ-A. Kesimpulan hasil dari tes tersebut bahwa Mbak Mulya ini adalah seorang yang introvert. 


Dikarenakan karakter introvert itulah yang membuat Mbak Mulya membuat blog.


Seperti kutipan yang kudapat dari blog teman baruku ini. 


Kehidupan manusia merupakan hal yang menarik untukku. Aku selalu kagum dengan keunikan manusia itu. Bagaimana manusia selalu punya pendapat yang berbeda-beda dalam menyikapi satu hal.


Ya, hampir mirip, deh, seperti aku. Lebih lancar mengemukakan pendapat lewat tulisan dibanding bicara. Sampai suami bilang kalau aku bicara, belibet. Eh, sama nggak, ya, dengan Mbak Mulya kalau gaya yang ini? 


Baca juga: Jemari Menari di Atas Keypad


Dasar Menulis


Aku hargai banget orang tua yang mengenalkan buku sejak kecil. Seperti orang tua Mbak Mulya yang menyediakan banyak buku cerita. 


Wajar kalau teman satu grup belajar blog ini sudah akrab dengan dunia literasi sejak dini. Bahkan sudah suka menulis di bangku sekolah dasar kelas dua. 


Bayangkan, teman calon bloggerku ini sudah mulai menulis cerita pendek meski di belakang buku sekolah. Dan nggak berani menunjukkan cerpennya pada siapapun. 


Tapi aku tetap salut, karena Mbak Mulya sudah bisa membuat alur, konflik, dan membentuk karakter untuk tokoh dalam sebuah cerita pendek. 


Akhirnya waktu yang menentukan jawaban. Keinginan hati calon blogger sejati ini mulai serius untuk menulis pada tahun 2017.


Nggak tanggung-tanggung, teman baruku ini menggunakan platform wattpad untuk mempublish ceritanya. 


Dua jempol kuberikan padamu, Royaltea. Akhirnya dirimu menaklukan rasa tak percaya diri untuk memberi tahu kepada dunia kalau dirimu adalah seorang penulis. 


Ngeblog atau Menulis Buku


Akutu salut dengan pemilik sapaan royaltea untuk pembacanya ini. 


Selain sudah menelurkan karya, sebuah buku antologi. Ternyata pemilik blog berniche lifestyle ini sedang berproses menyelesaikan naskah novel solonya yang bergenre historical romance. 


Rencananya, sih, mau diterbitkan secara indie. Prok, prok, prok. Semoga aku ketularan produktif seperti cewek yang suka bacaan fiksi bergenre romance ini. 


Waktu ditanya, lebih enak ngeblog atau menulis buku. Jawabannya begini, " wah, lumayan berat pertanyaannya 😁😅.  Kalo ngeblog enaknya aku bisa nulis pakai bahasa sehari-hari aja, lebih santuy gitu.


"Kalau nulis buku (buku yang kumaksud buku fiksi, ya, Mbak, belum pernah menulis non-fiksi abisnya,hehe) enaknya aku bisa berkreasi dengan bebas, dan ide untuk nulis buku fiksi, tuh, banyak dan selalu muncul dipikiran.


"Kayak apa yang aku alami hari ini bisa dijadikan cerita. Jadi kalo disuruh milih, aku merasa lebih enak nulis buku fiksi."


Ingin Seperti Jane Austen


Mau usul, dong, Mbak Mulya. Boleh, nggak, nanti di blognya ada label review buku khusus untuk genre historical romance ini? 


Aku, kan, jarang baca buku fiksi genre ini.  Jadi, sebelum beli atau pinjam di iPusnas. Aku baca reviewnya dulu. Kali aja bisa dijadikan bacaan favorit juga. 


Boleh, ya, ditampung usulku. Heuheu. 


Menurut cewek penyuka kucing ini, katanya, "Jane Austen itu, suka menampilkan kehidupan sosial dalam karyanya. Gaya bahasanya juga bisa membuatku seolah-olah menyaksikan kejadiannya secara langsung. Aku juga suka caranya menyisipkan pemikiran-pemikirannya dalam karyanya."


Ah, angkat topi, deh, dengan cewek yang nggak bisa marah dengan kucingnya ini walaupun mereka nakal. 


Alasan menyukai the author pun bukan sembarang suka. Ternyata, cewek yang mulai tertarik dengan english literature ini selalu mencari makna dari bacaan yang disukainya itu. 


Bacaan jenis sastra memang selalu mengandung unsur sejarah, filosofi, dan gaya bahasa prosa.


Cocoklah dengan karakter cewek yang katanya kalau lagi down cuma kucing-kucingnya yang mengerti kalau tuannya lagi sedih.


A Cup Of Reality


Aku suka dengan tagline cewek yang bercita-cita ingin bekerja di bidang pendidikan ini. Artinya dalem. 


Memang, ya, tulisan berbobot itu dihasilkan dari buku-buku yang dibacanya. Brandingnya udah dapet, nih, Mbak Mulya.


Baca juga: Jadi Brandingnya Apa Dong?


Mbak Mulya juga menuliskan dalam blognya bahwa arti dari taglinenya itu karena kekagumannya akan keunikan manusia, khususnya dari sudut pandang mereka. 


Terlebih cewek manis yang sedang belajar melukis dengan menggunakan watercolor ini, ingin menjadikan blognya tempat untuk memahami suatu hal dari sudut pandang yang berbeda.


Mahasiswi semester lima jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di salah satu Universitas Lampung ini juga menginginkan blognya bisa menjadi tempat berpendapat. Bukan hanya untuknya tapi untuk orang lain juga.


Last but not least, cewek berkacamata yang suka membantu adik-adiknya mengerjakan peer ini menyampaikan, bahwa manusia itu pada dasarnya memang dilahirkan berbeda-beda dan punya keunikan masing-masing. 


Bahkan sidik jari manusia pun berbeda dengan manusia yang lain. 


"Jadi, aku  bisa mengatakan bahwa semua yang ada dalam diriku, kepribadianku, kesukaanku, semuanya unik." 


Begitu pemilik blog Mulyaspace ini mengakhiri percakapan. 


Komentar

  1. Waaah, sungguh inspiratuf Kakak yang satu ini.. Diceritakan dengan gaya bahasa yang begitu ringan, nggak kerasa lho udah selesai aja hehehe

    Sukses terus Untuk Desi's Corner dan Mulya Space/ Mulya's Pace ♡

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kakak. Profilnya emang keren, inspiratif. Jadi nulisnya enak.

      Hapus
  2. Aku kepo aku kepo, mau ikutan kepo. hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mari kita kepo berjamaah dan amiinkan supaya kita bisa jadi keren seperti anak muda millenial ini.

      Hapus
  3. iya taglinenya simple tapi daleeem a cup of reality, maa syaa Allah ternyata banyak sekali orang inspiratif yang bertebaran ><

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, setuju. Kok, kepikiran tagline yang unik dan simple kayak gitu.

      Hapus
  4. Asli, ini tipe2 org inspiratif.
    Satu semester dengan ka Mulya tapi minder bgt, aku blum bisa apa2

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini pasti kak Yulia juga keren. Cuma nggak nonjolin kelebihan aja.

      Hapus
  5. huwa mbak desi, makasih banyak. terhau aku baca tulisan tentang aku sebagus ini :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang dirimu yang profilnya bagus Mbak Mulya. Jadi nulisnya penuh ide gitu.

      Hapus

Posting Komentar