Sunday, January 10, 2021

Film Balada Si Roy dari IDN Pictures Tayang Tahun Ini

January 10, 2021 0

Novel Balada Si Roy

Ada yang seangkatan dengan Si Roy? Aku ngaku, nih. Waktu Balada Si Roy pertama kali tayang di Majalah Hai tahun '88. Aku duduk di kelas dua SMP, lho (antara bangga dan tengsin ketahuan lama tinggalnya di dunia).

Nggak lama cerita Si Roy ditayangkan secara berkala di Majalah Hai. Pada awal tahun 90-an, terbitlah Balada Si Roy dalam bentuk novel.

Tokoh laki-laki tampan, cool, cuek tapi penuh kasih sayang yang diciptakan oleh Gol A Gong, seakan mencerminkan kisah para pemuda pada zamannya. Meski tidak dipungkiri, kisah petualangan yang dijalani Roy tetap masih berlaku hingga saat ini.

Duh ini, mah, kayak aku waktu masih SMA gitu. Paling seneng kalau cowok itu cool, cuek tapi sebenarnya care banget sama cewek. Semoga suami nggak baca tulisanku ini. Kalau baca, bisa geer dia. Soalnya doi dulu itu termasuk cowok yang cool, bandel (tapi banyakkan Roy bandelnya), dan lumayan cakep lah, ya.

Komunitas Balada Si Roy


Pemain utama terpilih IDN pictures

Saking kerennya karya yang ditulis oleh Gol A Gong ini. Sampai-sampai terbentuklah komunitas yang dikenal dengan sebutan SBSR (Sahabat Balada Si Roy).

Komunitas SBSR yang salah satu inisiatornya adalah Daniel Mahendra menyebutkan bahwa anggotanya sudah mencapai angka 1982. Jumlah amazing untuk cerita lawas yang ngetop pada tiga puluh tahun lalu ini.

Bahkan sekarang, para penggemar karya penulis yang berasal dari Banten ini semakin excited, kala IDN Pictures secara resmi pada November tahun 2019 lalu, memublikasikan judul proyek perdananya itu.

Tanpa struktur organisasi, membuat kedekatan para anggota komunitas ini semakin kuat karena tidak ada hierarki. Sehingga kemanapun anggota SBRS ini pergi dan bertemu dengan sesama anggota di berbagai kota. Mereka tetap bisa berbagi cerita.

Buat menghilangkan penasaran, meski IDN Pictures sudah secara resmi mengumumkan deretan nama pemain film Balada Si Roy melalui sebuah konferensi pers virtual Desember 2020 lalu. Aku tetap pingin intip lebih detail lagi lewat IG nya IDN Media tentang Si Roy ini.

Wuish, pemeran utama cowoknya Abidzar Al Ghifari 'bo. Film perdana buat anaknya Uje, nih. Posternya keren. Abidzar berpose dengan tas ransel ditemani seekor anjing herder. Rel kereta api sebagai latar foto, seakan menggambarkan sosoknya memang seorang backpacker traveller gitu.

Aku suka film petualangan kayak gini. Apalagi backpacker-an, jadi ada tantangannya gitu untuk sampai di tujuan. Minimnya dana untuk berpetualang menjadi sensasi tersendiri ketika harus mencari tebengan kendaraan. You know what I mean la, ya. 😋

Film Perdana IDN Pictures


Konferensi pers pengumuman pemain

Meski film perdana, IDN pictures nggak tanggung-tanggung buat memilih para tokoh untuk bermain di film yang akan syuting di sekitar Banten, Serang, dan Rangkasbitung ini. 

Seru nih, kalau filmnya bertabur bintang seperti, Feby Rastanti sebagai Ani yaitu lawan main Abidzar. Ditambah Bio One, Zulfa Maharani, Sitha Marino, Maudi Koesnaedi, dan masih banyak lagi.

Ah, yakinlah aku mah, kalau anak milenial Gen Z pasti kenal dengan nama-nama di atas. Bukan kayak aku, yang tahunya cuma Maudy Koesnaedi aja (seangkatan soalnya).

Film kisah hidup perjalanan Si Roy ini bakal disutradarai oleh Fajar Nugros sekaligus Head of IDN Pictures. Tahu kan, Fajar Nugros? Itu lho, yang menyutradarai film Cinta Brontosaurus, Yowis Ben, Moammar Emka's Jakarta Undercover, dan beberapa film layar lebar lainnya.

Nugros begitu biasa disapa, juga merupakan seorang pembaca setia juga penggemar karya Gol A Gong semenjak dia masih duduk di bangku SMA.

kutipan Nugros

Tuh, kan, kebayang deh, senangnya Mas Nugros bisa menerjemahkan bacaan kesukaan zaman unyu-unyunya ke dalam film. Serasa mimpi menjadi nyata.

Dulu cuma penggemar yang belum kesampaian bertemu dengan Gol A Gong. Sekarang malah kerja bareng dengan penulis pujaannya untuk mewujudkan tokoh utama dalam visualisasi.

Film besutan IDN Pictures ini juga diproduseri oleh Susanti Dewi. Sosok wanita yang juga partner hidup dan partner kerja Nugros. What a kompaknya suami-istri ini. Mau dibilang pasangan yang tak terpisahkan. Tapi mereka kerja bareng menghasilkan karya.

Santi begitu dia disapa, menyukai film yang bercerita tentang hubungan. Baik itu hubungan dengan orangtua, dengan pasangan, atau cerita drama dan keluarga.

Dikarenakan itulah, Santi sebagai produser dari tokoh legendaris yang akan difilmkan ini, merasa tertantang untuk dapat merealisasikan ekspektasi penggemar, agar cerita dari buku tetap dapat ‘hidup’ di dalam film.

Kutipan Santi

Gimana, gimana, penasaran kayak apa filmnya? Tenang, bukan Sahabat Desi's corner aja yang kepingin nonton film ini. Aku juga nggak sabar pingin lihat visualisasi cowok cool kayak Si Roy ini.

Kata IDN Pictures, proses persiapannya sudah ada di tahap akhir. Dan bulan ini. Iya, Januari, syutingnya bakal dimulai. Artinya film Balada Si Roy ini bakal tayang di tahun ini juga.

Mari kita doakan, semoga proses syuting berjalan lancar dan selesai dengan mulus sampai siap tayang. Semua aktris, aktor, kru film, dan jajaran yang terlibat didalamnya diberikan kesehatan. Karena aku tahu, bukanlah hal mudah syuting di tengah pandemi gini.









Saturday, January 2, 2021

Friday, January 1, 2021

Review Buku untuk Pemula Bersama iPusnas

January 01, 2021 2

Flyer talk show

Hai hai, Sahabat Desi's corner. Kali ini aku mau membahas tentang live IG TV yang diadakan oleh iPusnas tanggal 30 Desember 2020 lalu. Talk show yang diadakan pada hari Rabu lalu itu, iPusnas mengangkat bahasan tentang Review Buku Untuk Pemula. 

Tapi aku nonton talk show tersebut sehari setelah acara. Telat baca info di IG nya. Itu juga nontonnya sambil menyetrika. Emak-emak nggak mau rugi. Kalau sambil gosok, kan, setrikaan dapat, ilmu dapat, dan nggak terlalu berasa capek juga nyetrikanya.

Acara talk show yang berlangsung hampir satu jam itu dipandu oleh Kevin. Mau sebut nama panjangnya takut salah. Ngomongnya kecepetan, jadi nggak jelas aku menangkap kata kedua di belakang nama Kevin.

Haris Shibgatullah muncul beberapa menit kemudian setelah acara dibuka. Dari obrolan pembawa acara dengan narasumber. Didapatlah informasi bahwa Harris sedang menyusun tesis S2 tentang Studi Amerika di Universitas Indonesia (UI).

Jadilah sebelum memasuki inti talk show tentang review buku. Kevin dan Haris membuka bincang-bincang tentang mengapa Haris mengambil kuliah S2 nya di bidang Studi Amerika.

Narasumber sekaligus booktuber ini memberi alasan bahwa dia tertarik dengan kebudayaan Amerika. Padahal Amerika, kan, nggak punya kebudayaan asli? Pertanyaan dilontarkan kembali oleh Kevin.

Jawaban Haris membuatku manggut-manggut. Ternyata karena penduduk imigran Amerika lah yang menjadikan budaya Amerika itu menarik. Keberagaman penduduk dari berbagai banyak negara, membentuk suatu budaya campuran. Hmm, jadi bisa disebut asli nggak, tuh, budaya Amerika? 

Baca Juga: Blogger Wajib Menulis Sesuai Kaidah SEO (ulasan even)

Review Buku Untuk Pemula

Quote bukub

Obrolan pembuka mengalir begitu saja dengan menarik. Pembawa acara, Kevin tahu-tahu sudah memasuki tema inti talk show. Kerenlah ini pembawa acaranya. Nggak berasa ada perpindahan topik. Bisa aja nyambungin obrolan Amerika ke buku. 

Awalnya Kevin bertanya tentang keberagaman dan perkembangan buku di Amerika. Pembawa acara dari pihak iPusnas ini meminta tanggapan Booktuber yang pernah menjuarai review buku yang diadakan oleh penerbit KPG, tentang buku yang diadaptasi ke film dan sebaliknya.

Jawaban pemilik akun @kanvaskata.books menjawab dengan bijak. Menurut Haris bahwa film dan buku adalah saling melengkapi. Saling melengkapi dalam hal imajinasi. Buku yang diadaptasi ke film, maka akan melengkapi imajinasi kita para pembaca.

Kita pun disini menjadi belajar, sejauh mana kreativitas sineas dalam menerjemahkan buku ke dalam film. Ini menurutku, ya. Jawaban Haris kupikir-pikir betul juga.

Dia tidak menyudutkan orang-orang yang lebih suka menonton film dibanding membaca buku atau kebalikannya. Nggak jauh-jauh seperti aku contohnya. Terkadang aku lebih suka membaca bukunya dibandingkan dengan menonton film yang telah diadaptasi dari buku tersebut.

Seperti film Harry Potter dan serial Narnia yang lebih kupilih untuk menonton filmnya dibanding membaca buku yang tebal haha.

Dari obrolan inilah, lalu Kevin bertanya tentang cara mereview buku yang baik. Terutama bagi pemula macam aku. Aku tuh, kalau menulis review buku, kok, nggak menggigit gitu. Kurang gereget dan nggak bikin penasaran orang pingin baca buku yang aku baca itu.

Begini cara membuat review buku yang aku tangkap:

1. Saat membaca buku, catat poin penting yang ingin kita tulis nanti.

2. Tulis langsung pada bagian cerita yang membuat kita terkesan. 

3. Catat pendapat kita pada bagian cerita yang membuat kita penasaran atau menjadi pertanyaan.

4. Jangan menunda lama untuk mereview buku.


Nanti dicoba cara-cara di atas, ah. Selama ini aku, kan, nggak pernah catat atau tulis poin-poin penting pas baca buku. Langsung aja tancap gas menulis. Makanya di pertengahan menulis, terkadang aku tuh, suka bingung dan kehilangan arah.

Book Shaming


Acara live IG tv
Ketahuan banget kalau ilmu perbukuan aku masih cetek banget. Istilah beginian aja baru tahu. Selain body shaming yang ditujukan pada seseorang. Buku juga ada istilah shamingnya, yaitu book shaming. 

Bingung juga, sih, perundungan seperti apa terhadap buku itu. Menjelek-jelekan buku yang kayak gimana. Menjelekan isi cerita atau menghina penampilan fisik buku.

Cowok yang bergabung dengan booktuber tahun 2017 ini menjelaskan tentang book shaming. 


Book shaming itu adalah:

1. Merendahkan preferensi bacaan seseorang

Misal, aku tuh, masih suka membaca komik Jepang atau jenis komik lainnya. Terkadang aku pun suka membaca buku anak dari Arleen, Clara Ng, Wulan MP, atau penulis lainnya. Lalu ada teman yang merendahkan bacaan aku dengan berkata, "Ih, kok, bacaannya udah berumur yang kayak gituan, sih?"

Nah, ini namanya book shaming. Kita nggak boleh memandang jenis bacaan buku seseorang. Bisa aja, kan, dia sedang membuat riset tulisan atau sedang ingin relaks dengan bacaan-bacaan beratnya. Who knows?

2. Merendahkan preferensi penulis seseorang

Misal, aku merasa penulis favoritku adalah yang terbaik. Sedangkan penulis bacaan Sahabat Desi's corner dimataku itu ora mutu. Perilaku ini juga termasuk book shaming, karena aku hanya melihat dari sosok penulis saja.

Padahal pembaca yang bijak dan baik adalah tidak hanya memandang buku dari sisi penulisnya saja. Tapi juga isi buku menjadi pandangan penting bagi seorang pembaca.

Apa kabarnya kalau misalnya aku pendatang baru dalam menulis. Lalu pas bukunya mejeng di toko buku, orang memandang rendah karena aku bukan penulis beken seperti Laila S Chudori atau Ahmad Tohari.

3. Merendahkan isi buku yang dibaca seseorang

Misal, ada seseorang yang berkata, "cerita dalam buku itu, kan, jelek. Nggak bagus. Kok, bisa-bisanya, sih, lo baca yang jalan ceritanya nggak jelas. Mending lo baca buku yang lagi gua baca, nih. Bermutu. Penulisnya sastrawan dari Amerika."

Duh, semoga Sahabat Desi's corner terhindar dari perlakuan dan perbuatan seperti itu, ya. Jadi ingat waktu ikut kelas kepenulisan fiksi. Mentorku Hani Dewanti atau yang dikenal dengan Mak Oney bilang, "semua jenis tulisan itu selalu ada hikmah dan ada pelajaran didalamnya."

Kalau menurut pendapat kita tulisan yang kita nggak baca nggak bagus. Berarti kita jangan menulis seperti itu dan kita harus lebih baik menulisnya dibanding penulis yang kita baca itu.

Jadi yang nggak book shaming itu kayak gimana? Nanti kalau mau mereview buku, terus pendapat kita ada menjelek-jelekan isi buku, dibilang book shaming.

Itu salah satu pertanyaan dari penonton IG live TV yang sampai hari ketiga ini, telah mencapai penonton hampir 800 orang.

Haris pun menjawab, selama kita mengeluarkan pendapat tentang isi buku yang kita baca sendiri tanpa menjelekkan preferensi bacaan orang lain Baik itu kekurangan atau ketidaksukaan terhadap bacaan tersebut. Tindakan itu bukanlah book shaming.

Mereview buku memang seperti itu. Kita mengeluarkan pendapat secara subjektif. Mengkritik, mengeluarkan pendapat, lalu memberi saran.

Talk show yang berlangsung hampir satu jam berjalan seru menurutku. Nggak terasa meski setrikaan nggak kelar. Tapi lumayan mengurangi rasa lelah.

Oh iya, silakan Sahabat Desi's Corner mengunjungi IG iPusnas untuk acara talk show berikutnya. Mereka rutin mengadakan talk show dengan tema-tema menarik seputar dunia literasi.

Semoga hasil talk show tentang review buku untuk pemula ini, bermanfaat bagi Sahabat Desi's corner yang baru mau memulai mereview buku kayak aku.


Thursday, December 31, 2020

Wednesday, December 30, 2020

Tuesday, December 29, 2020

Monday, December 28, 2020

Dua Hati Mudik untuk Mulai Hidup Baru

December 28, 2020 2


Mudiknya dua hati

Foto: instagram/@lifelike


Sutradara : Adriyanto Dewo
Produser : Perlita Desiani
Penulis : Adriyanto Dewo
Pemeran : Asmara Abigail, Putri Ayudya, Ibnu Jamil, Yoga Pratama
Perusahaan produksi : LifeLike Pictures
Distributor: Mola TV Agustus 2020
Durasi : 93 menit
Rating dariku : 4.0 dari 5.0

Saturday, December 26, 2020

Wednesday, December 23, 2020